Talas Beneng jadi Ikon Kabupaten Malang

MALANG-POSMONEWS,-
Talas beneng (besar dan kuneng) menjadi ikon bagi Kabupaten Malang, Jawa Timur. Potensinya yang sangat besar membuat sumber karbohidrat ini kian diminati petani Malang Raya.
Tak hanya itu umbi talas juga mudah diolah, sehingga banyak dilirik industri pengolahan talas. Seiring meningkatnya permintaan dan dikukuhkan talas beneng sebagai khas Malang. Perkembangan budidaya talas beneng dari tahun ke tahun terus meningkat.
Koordinator Penyuluh Badan Ketahanan Pangan Karangduren Pakisaji MB Tanjung dan Wiji, Sunaryo yang juga penggiat talas beneng, mengatakan luas pertanaman talas beneng yang pada tahun 2009 hanya kurang lebih 21 hektare, pada 2019 sudah mencapai 435 ha tersebar di 33 kecamatan di Kabupaten Malang. Dengan populasi perhektare di bawah tegakan 1.000-3.000 pohon/ha.
MB Tanjung mengungkapkan, selain sebagai sumber pangan, talas beneng juga dapat dimanfaatkan untuk keperluan industri, misalnya sebagai bahan baku kosmetik. Bahkan peminatnya di pasar ekspor juga sangat besar. Saat ini talas beneng sudah masuk ke pasar Negeri Kincir Angin, Belanda, Korea dan Jepang yang sudah di ekspor dari Kabupaten Malang, Jawa Timur. “Negara Kincir Angin tersebut rutin mengimpor talas beneng dalam bentuk tepung talas,” ujarnya.
Talas beneng berbeda dengan talas lainnya, talas beneng umbi batangnya berukuran panjang dan besar, serta tumbuh berada di atas permukaan tanah. Karena ukurannya cukup besar, talas beneng potensial untuk diolah menjadi tepung.
Menurut MB. Tanjung pengolahan menjadi tepung telah dilakukan sejak tahun 2010 dan hingga kini terus dilakukan. Pengolahannya dengan melibatkan petani, baik sebagai pemasok bahan maupun pelaku usaha.
Hingga tahun 2018 jumlah produksi tepung terus meningkat. Misalnya, ungkap Tanjung, tahun 2014 hanya 20 ton/bulan (hingga Oktober 2014 sebanyak 20 ton), tahun 2015 sebesar 25 ton/bulan (hingga Juni 27 ton), kemudian tahun 2016 sebanyak 30 ton/bulan (hingga Mei-Juni 32 ton).
Kelebihan tepung talas dibandingkan tepung terigu adalah tidak mengandung gluten atau non gluten. Gluten sendiri merupakan protein yang biasa ditemukan pada biji-bijian seperti gandum. Pada sebagian orang gluten menimbulkan alergi. Jika setiap kali mengonsumsi roti, sereal gandum, atau pasta, maka bisa berakibat gatal, ruam ataupun gejala khas alergi.
Salah satu pencegahannya adalah mengonsumsi makanan yang bebas gluten, termasuk mengonsumsi tepung gluten free. Karena itu dengan makin tingginya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, kini industri makanan berlomba mengolah aneka kudapan berbahan tepung non gluten, salah satunya tepung talas.
Saat ini industri olahan berbahan tepung talas tersebar diberbagai wilayah. Di Malang ada sekitar 20 pengusaha, Kabupaten Malang, Kota Batu dan Kota Malang.
MB. Tanjung menjelaskan, tidak hanya umbinya, daun talas beneng pun kini menjadi komoditas ekspor. Tidak kurang dari 40 ton/bulan daun talas iris kering masuk ke Australia. “Untuk daun talas beneng iris kering untuk memenuhi kebutuhannya Australia,” tandas MB. Tanjung.
Dengan besarnya permintaan talas beneng, Sunaryo melihat potensi talas beneng untuk dikembangkan masih sangat besar, terutama untuk aneka pangan lokal yang kini banyak merebak di berbagai daerah.
“Apalagi talas jenis ini mengandung protein yang lebih tinggi dan memiliki warna kuning yang menarik, sehingga menjadi ciri tersendiri yang tidak dimiliki talas lain,” ujarnya.
**(ahmad/jono)