Berita

MAQOM KASEDAN JATI (2)

• Oleh : Danar S Pangeran (wartawan posmo Lamongan)

Tulisan dan apresiasi wartawan senior yang juga Ketua PWI Jatim, Ainur Rochim yang dicuplik penulis terhadap kinerja H. Fadeli yang memiliki tekad kuat, kerja keras, sabar, dan tentu berdoa sebagai landasan vertikal adalah modal penting yang disadari dan dijalankan secara istiqomah olehnya.

Meniti karir dari bawah di birokrasi Pemkab Lamongan tak membuat Fadeli kendor. “Apapun yang didasari dengan tekad kuat insya Allah menghasilkan prestasi,” tukasnya.

Prestasi yang diukir Fadeli tak sekadar birokrat karir di Pemkab Lamongan selama 35 tahun. Ternyata selama 10 tahun terakhir ini, Fadeli diberi amanah dan kepercayaan rakyat Lamongan sebagai pemimpin politik.

Selama 45 tahun Fadeli bergelut dengan dinamika birokrasi dan roda pemerintahan di Lamongan. Pria kelahiran Lamongan, 16 Juli 1955 ini menapaki dunia birokrasi dari bawah. “Saya pernah menjadi pekerja harian di Pemkab Lamongan,” ungkapnya.

Kesabaran, ketelatenan, kerja keras, dedikasi, dan loyalitas terus ditunjukkan Fadeli di birokrasi Pemkab Lamongan. Kesabaran itu membuahkan hasil. Sebelum memangku jabatan sebagai bupati Lamongan periode 2010-2015 dan 2016-2021, Fadeli sempat menapaki puncak karir di birokrasi menjabat Sekdakab Lamongan selama 5 tahun.

Kabupaten Lamongan sebagian besar warganya bergerak di sektor pertanian, perikanan, dan nelayan. Wilayah penyangga Kota Surabaya ini juga mulai dirambah sektor industri manufaktur, mengingkat tingkat upah minimum kabupaten/kota (UMK) di Lamongan lebih murah dibanding Kabupaten Gresik dan Kota Surabaya. Industri mulai banyak masuk ke sini (Lamongan),” tuturnya.

Menyadari kekuatan dan keunggulan di bidang pangan, Bupati Fadeli terus bekerja keras dan inovatif untuk meningkatkan produktifitas lahan pertanian di Lamongan.

“Lahan pertanian boleh tetap luasannya, tapi produktifitas harus meningkat. Dalam konteks ini, perkembangan teknologi pertanian mesti terus diberikan kepada petani, baik itu menyangkut bibit, pupuk, dan lainnya,” ungkapnya.

Kerja keras dan pengelolaan manajemen pertanian yang konsisten dari Bupati Fadeli membuahkan banyak hasil. Satu di antaranya, Lamongan menjadi sentra produksi pangan di tingkat Jatim dan nasional.

Catatan penting lainnya, produksi pangan berupa jagung di Lamongan di bawah kepemimpinan Bupati Fadeli mengalami lonjakan produksi luar biasa. “Produksi jagung dari 300 ribu ton menjadi 645 ribu ton per tahun. Itu kalau tidak salah yang jadi pertimbangan PWI Jatim memberikan penghargaan kepada kami saat itu,” jelas Bupati Fadeli.

Pemkab Lamongan, Bupati Fadeli, dan ribuan petani di daerah ini terus meneguhkan positioning kekuatan Lamongan di bidang pangan, terutama produksi beras, jagung, kedelai, daging sapi, daging ayam, dan lainnya.

Pada akhir 2020, diperkirakan produksi padi (gabah kering giling/GKG) diperkirakan mencapai 1.156.000 ton atau meningkat dibanding tahun 2019 yang tercatat 1.106.878 ton. Produktivitas padi saat ini telah mencapai 7,5 ton per hektar.

Namun demikian, ada beberapa wilayah yang memiliki produktivitas hingga mencapai 13,3 ton per hektar. Memaksimalkan teknologi yang ada, diharapkan produksi sebesar 13,3 ton per hektar melalui role model bisa diwujudkan. Petani Lamongan telah berinovasi melalui manajemen tanaman sehat padi sehat beras super (MTS Pas Baper).

Secara nasional, di tahun 2020 sektor pertanian tercatat mampu tumbuh sebesar 16,4 persen. Hal demikian juga terjadi di Lamongan. Bupati Fadeli mengutarakan, secara rata-rata produktifitas lahan pertanian jagung di Lamongan bisa mencapai 10 ton per hektar.

“Hasil produksi jagung ada yang mencapai 14 ton per hektar, tapi ada pula yang berkisar 7 sampai 8 ton per hektar. Produksi jagung kita sekitar 645 ribu ton per tahun. Sedang produksi padi dalam bentuk GKG kami diperkirakan tahun ini bisa mencapai 1,3 juta ton,” kata Fadeli saat itu. (bersambung)

Related Articles

Back to top button