Bisnis Perhotelan “Mati Suri”

136 dibaca

Oleh: Zubairi Indro
MASA panen hotel-hotel di wilayah Surabaya dan Malang, Jawa Timur, tinggal mimpi. Masa liburan sekolah dan hari raya Idul Fitri yang biasanya full sekarang tinggal mimpi buruk.
Hal itu tidak terlepas dari adanya wabah virus corona atau Covid-19 yang melumpuhkan berbagai sektor, termasuk memukul bisnis pariwisata dan perhotelan. Akibat wabah mematikan itu, hampir hotel-hotel di Malang menghentikan aktifitasnya. Bahkan ribuan pekerja hotel terpaksa di rumahkan.
Berbagai cara dilakukan para pemilik hotel agar bisa menutupi operasional hotelnya. Seperti yang dilakukan Hotel Whiz Prime Basuki Rahmat Kota Malang menyediakan paket diskon selama pandemi virus corona baru atau Covid-19. Paket itu khusus buat masyarakat yang ingin melakukan karantina mandiri.
Diskon khusus itu dibuat dalam paket work from hotel. Setiap kamar bisa dipesan dengan harga Rp 3 juta untuk 14 hari.
“Jadi paket ini kita bisa menyebutnya work from hotel. Jadi kalau bosan isolasi mandiri di rumah, sebagai alternatif variasi work from home bisa dilakukan di hotel. Tentunya dengan suasana yang tidak seperti di rumah,” kata General Manager Whiz Prime Hotel Aziz Sismono.
Menurutnya, hal itu disiapkan agar hotel tetap beroperasi selama pandemi virus corona. Sebab, bisnis perhotelan sangat terdampak oleh pandemi corona. Tak sedikit hotel di Kota Malang yang tutup karena wabah Covid-19.
“Kita memutuskan untuk tetap buka. Mengingat kebutuhan karyawan tetap jalan terus sehingga kami tetap buka dalam situasi seperti ini,” paparnya.
Ketika hari biasa tidak terjadi wabah virus mematikan, jumlah hunian hotel mencapai 75 persen. Bahkan kalau musim liburan sekolah dan hari raya Idul Fitri atau hari libur lainnya hunian hotel mencapai 100 persen.
Memang sejumlah hotel di Kota Malang memilih tutup lantaran sepi tak ada tamu yang berkunjung. Lesunya bisnis perhotelan di Kota Malang tidak terlepas dari pandemi Covid-19. Apalagi wilayah Kota Malang masuk zona merah Covid-19.
Menurut Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Malang, Chirs Ade mengungkapkan,
Sampai saat ini sudah puluhan hotel yang tutup di tengah wabah corona. Bahkan beberapa hotel ada yang tidak ada tamu sama sekali. Sehingga beberapa pertimbangan, mereka memutuskan untuk tutup.
Jumlah okupansi di hotel menurun drastis. Bahkan mencapai di bawah 10 persen. Tentu angka ini tidak sebanding dengan biaya operasional hotel. Sehingga mereka memilih tutup apalagi kegiatan MICE seperti metting, atau kegiatan pertemuan tidak diperbolehkan karena ada anjuran psycial distancing.
Selama masa penutupan ini, otomatis semua karyawan hotel dirumahkan oleh pemilik hotel. Sebagian dari mereka ada yang mendapat gaji namun hanya sebesar 20 persen. Beberapa lainnya bahkan ada yang tidak mendapatkan upah sama sekali karena hotel ditutup sementara waktu.
Setiap hotel mempunyai kebijakan berbeda. Kalau masalah ini terus berkelanjutan, tidak menutup kemungkinan dunia perhotelan akan “mati suri”. Apabila sampai tiga bulan, mungkin banyak hotel yang akan bangkrut.
Wabah pandemi Covid-19 yang semakin meluas rupanya juga berpengaruh pada pengusaha perhotelan di seluruh Indonesia. Bahkan, ribuan hotel juga harus rela menutup usahanya hingga kondisi kedaruratan membaik.
Tak hanya itu, dengan tetap mematuhi protokol kesehatan pengelola hotel juga menyediakan hand sanitizer  dan pengecekan suhu tubuh di depan pintu masuk. Semua karyawan wajib menggunakan masker dan sarung tangan.
Tidak hanya itu, setiap barang milik tamu yang check in akan disemprot disinfektan. Selanjutnya, untuk setiap kamar yang sudah ditinggalkan oleh penghuninya juga akan disterilkan dan disemprot disinfektan. Lalu sampai kapan hotel-hotel akan “mati suri”?(zubairi indro)