Masjid Donopuro dan Grebeg Bucengan

245 dibaca

Masjid Kuna Taman merupakan peninggalan sejarah di Kelurahan Taman, Madiun, Jatim. Masyarakat Madiun menyebutnya Masjid Donopuro atau Masjid Besar Kuno Madiun. Lalu apa keistimewaan masjid kuno tersebut?

MASJID tua ini dibangun Kyai Ageng Misbach atau Kyai Donopuro tahun 1754. Masjid yang semula bernama Masjid Donopuro ini didirikan di tanah perdikan (daerah bebas pajak) Kerajaan Mataram. Wilayah ini diberikan kepada Raden Rongga Prawiradirja I yang saat itu menjabat Bupati Wedanatimur (Mancanegara Wetan) Kesultanan Ngayogyakarta di sebelah timur Gunung Lawu.
Selanjutnya, tanah perdikan itu diserahkan kepada Raden Ngabehi Kyai Ageng Misbach yang saat itu menjadi penasihat Raden Rongga Prawiradirja I. Melalui masjid ini, siar agama Islam di wilayah Karesidenan Madiun terjadi.
Setelah masjid kuno yang dikelilingi makam para mantan Bupati Madiun ini masuk dalam daftar peninggalan cagar budaya tahun 1981, maka namanya pun diganti menjadi Masjid Besar Kuno Madiun.
Masjid yang bangunan utamanya terbuat dari kayu jati dengan ukuran cukup besar. Bangunan ini beratap tajug dengan tiga pintu masuk utama. Sampai saat ini masjid kuno tersebut tidak pernah direnovasi, kecuali hanya penambahan kanopi jika jemaah membeludak.
Di kompleks masjid ini terdapat makam para mantan Bupati Madiun, mulai dari Raden Rongga Prawiradirja I dan penasihatnya Kyai Ageng Misbach, hingga sejumlah Bupati Madiun penerusnya.
Dahulu di masjid ini dilaksanakan sejumlah tradisi yang menjadi sarana siar agama Islam. Tradisi tersebut antara lain perayaan; 1 Muharam yang diwarnai dengan pembacaan Alqur’an serta sajian makanan jenang sengkala, nasi liwet, sayur bening, dan lauk-pauk tradisional seperti tahu dan tempe. Sayur bening memiliki arti kebeningan jiwa. Sedangkan nasi liwet berarti kebeningan atau kejernihan jiwa itu diharapkan dapat mengental di hati.
Sedangkan jenang sengkala memiliki arti adanya harapan agar dijauhkan dari musibah. Lauk tahu tempe mewakili makanan khas yang digemari rakyat kebanyakan.
Selain menyajikan aneka makanan tersebut bagi jemaah dan warga sekitar, masjid juga menggelar seni gembrung, berupa senandung shalawat yang diiringi alat musik sejenis jidor dan lesung (alat untuk menumbuk padi). Namun sekarang seni itu sudah hampir musnah dan tidak pernah diadakan lagi. Yang masih tersisa adalah Grebeg Bucengan (tumpengan) saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.(za/berbagai sumber)