Tafakur, Konsepsi Islam Jalan Menuju Tuhan (11)

272 dibaca

Bahasan ilmu tauhid  dalam perhentian jiwa ini memasuki maqam Ar-Ruh dan maqam As-Sirr. Dua terminal yang membuat kejiwaan seseorang  yang sampai pada tataran ini bisa melupakan dunia. Suasana nurani nyaris di pintu gerbang dekat dengan Nur Ilahi. Di sisi lain kejiwaan tak stabil, karenanya orang awam menganggap gila.
Seseorang apabila sudah memasuki maqam ini, maka tidak bisa berpindah kemana-mana. Kecuali harus menekuninya. Untuk meningkat ke maqam berikutnya sangatlah berat. Malahan terkadang bisa tergelincir turun. Jika sampai tergelincir, maka bisa memprihatinkan.

Ar-Ruh

Kondisi kejiwaan apabila sudah berada di maqam ar-Ruh, bisa seperti orang gila. Terutama apabila tidak ada yang membimbing. Bagaimana sikap orang gila itu? Tidak memperdulikan kondisi sekelilingnya. Pergi kesana kemari semaunya sendiri, tidak berkata-kata, terkadang bicara sendiri (karena sedang berkomunikasi dengan hati nuraninya). Tak ada orang yang memperdulikan. Karena dianggap gila. Perilaku seperti itu disebut Zadab (gila karena cintanya pada Tuhan yang tak terbendung).
Dalam kondisi Zadab, sering mengalami bermacam-macam illusi diri yang sangat “destruktif”. Kondisi badan sering kali mengalami demam. Hal tersebut disebabkan, sedang mengalami perubahan. Jika sudah mengalami seperti itu, bisa berlangsung cukup lama. Bertahun-tahun. Ia sedang dalam proses pelepasan dan pembebasan, yaitu suatu peleburan dari jiwa yang kotor.
Dalam pengertiannya, apabila kita kehilangan kesadaran, maka yang terasa adalah kehangatan jiwa. Itulah yang dirasakan oleh para sufi selama praktek zikir. Hal seperti itu sudah biasa bagi para praktisi sufisme dalam memandang suatu haqiqah (kebenaran). Apabila belum sampai maqam ar-Ruh, maka belum bisa berkomunikasi dengan dirinya sendiri, yaitu nurani.

As-Sirr


Maqam selanjutnya adalah maqam as-sirr, perhentian rahasia-rahasia ilahi. Istilah Sirr menunjuk pada misteri besar yang tak dapat terbayangkan, bahkan apabila dialami, hal itu sukar untuk dipercaya. Istilah tersebut juga mempunyai arti yang lain, yaitu bagian tengah, bagian yang paling baik dari setiap benda, daerah yang paling kaya, akar, asal mula dan kesuburan.
Inilah maqam yang dimaksud oleh Allah ketika Dia berfirman, “Ada hamba-hamaba-Ku yang tak pernah berhenti untuk mendekatkan diri kepada-Ku dengan beribadah yang ikhlas, sampai Aku menjadi lidahnya ketika mereka berbicara, menjadi matanya ketika mereka melihat, menjadi telinganya ketika mereka mendengar, tangannya ketika mereka memegang dan kakinya ketika mereka melangkah.”

Orang yang sampai pada maqam As-Sirr ini dapat memahami mekanisme- mekanisme yang mengatur seluruh alam semesta. Mereka telah mengembangkan kemampuan kasat mata sehingga dapat membaca pikiran orang lain. Para malaikat datang kepada mereka dengan ilham dari wilayah yang tak terlihat (alam gaib).
Seseorang yang sudah di maqam ini, maka tidak ada yang samar baginya. Padang trawangan tan ana sawiji-wiji kang samar (Dapat melihat dengan jelas apa yang selama ini terlihat samar/ghaib). Jin, setan, mahluk halus, ruh manusia yang sudah meninggal, insya Allah akan terlihat oleh mata hati sekaligus mata kepala.
Suatu hari ada seseorang datang kepada Rasulullah saw, lalu bertanya, “Untuk apa seluruh alam semesta ini diciptakan? Nabi menjawab, “Saya tidak tahu jawabannya. Akan kutanyakan pada malaikat Jibril.” Kemudian beliau pergi menemui malaikat Jibril dan bertanya, Jibril menjawab, “Aku tak tahu jawabannya, akan kutanyakan kepada Allah.” Kemudian malaikat Jibril bertanya kepada Allah, dan kembali lalu berkata, “Allah telah berfirman: “Telah Aku ciptakan angkasa dan langit sebagai suatu pemandangan yang indah dan hiburan bagi kamu sekalian, dan untuk menciptakan keindahan serta pesona keagungan dan kekuasaan-Ku. Aku ingin bintang-bintang yang berkerlap-kerlip membahagiakan kamu dan menyebabkan kamu sekalian kagum terhadap ciptaan-Ku.”
Sewaktu ditanya, bagaimana Allah mencipta semua ini, Jibril mengatakan bahwa Allah menjawab, “Aku tidak ciptakan manusia dengan kemampuan mental untuk memahami cara-cara dan mekanisme yang dengannya telah Aku ciptakan semua makhluk. Walaupun Aku ceritakan kepadamu, niscaya kamu tidak akan mengerti. Namun, saat datang kematian, sewaktu tabir telah terbuka, kamu segera akan melihat bagaimana hal ini terjadi dan kamu akan takjub pada kehebatan-Ku. Akulah sebaik-baiknya pencipta. Seperti Aku menciptakan langit yang rumit dan kompleks.” Rasulullah SAW yang telah berada pada maqam yang tertinggi mampu memahami informasi ini. Kebanyakan manusia tidak akan pernah mencapai tempat kedudukan yang tertinggi seperti itu dari Allah Yang Maha Kuasa.
Orang yang telah mencapai maqam As-Sirr, berarti telah melewati ujian-ujian yang sangat berat dan ia tidak lagi mencari aspek-aspek kehidupan manusia yang bersifat egoistik. Mereka hanya ada untuk, dan karena, hubungan yang sangat eksklusif dan dekat dengan Sang Pencipta serta para penghuni langit. Bagaimanapun juga mereka adalah manusia, sehingga kejadian-kejadian phisik serta emosi masih terjadi pada tahap ini. Namun kejadian-kejadian ini tidak bisa dianggap sebagai ‘penyakit’. Semua ini merupakan ketidak-seimbangan atau penyimpangan yang dapat menyebabkan seseorang turun dari maqam ini atau lemah didalam maqam ini dan tidak melanjutkan tujuannya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ketidak-seimbangan utama dari maqam As-Sirr meliputi interprestasi yang salah terhadap fenomena Ilahi, ketidak-rasionalan, kurang perhatian terhadap masalah duniawi, mengoceh yang sukar dimengerti, serta rasa sakit dan terbakar dijantung.
Gejala fisik yang terjadi pada maqam As-Sirr adalah demam, kesulitan bernafas dan kadang-kadang sesak. Penderitaan tersebut dapat terjadi karena untuk sampai pada tahap ini memerlukan praktik pernafasan bertahun-tahun. Ketidakseimbangan dapat terjadi jika praktik-praktik tersebut dilakukan secara tidak tepat atau apabila berlebihan.
Selain itu, biasanya pada tahap ini orang terganggu oleh kejadian-kejadian dari alam tak nyata. Ganguan jin adalah contohnya. Seseorang yang semakin tinggi kedudukannya, maka ujiannya juga semakin berat. Syekh Abdul Qadir al Jaelani, pernah didatangi seberkas cahaya ketika hendak menjalankan shalat malam. Cahaya itu mengaku (menyamar) sebagai malaikat Jibril. Ia menipu Syekh dengan mengatakan tidak perlu lagi memerlukan ibadah shalat, karena sudah dijamin kesuciannya.
Karena Syekh Abdul Qadir Jaelani sudah sampai pada maqam As-Sirr, maka tidak ada yang samar baginya. Ia melempar terumpahnya pada cahaya itu, sembari berucap ‘pergilah kau iblis!’ Dengan ucapan itu, iblis pun mengaku dan bertanya, “Dari mana engkau tahu?” Abdul Qadir pun menjawab, “Aku tahu dari ucapannmu sendiri. Yaitu tidak lagi perlu menjalankan shalat, Rosululloh SAW, manusia yang mendapat jaminan Allah Ta’ala saja tak pernah meninggalkan shalat.” ***Bung Yon Ngariono