Sawabnya  Gelorakan Kaum Muda

95 dibaca

Tosanaji Kiai Naga liman  tuahnya menguatkan daya usaha seseorang dalam meraih cita-cita. Itulah sebabnya sebilah keris yang pada bagian  gandhiknya berukiran kepala naga ini dipercaya cocok untuk para kaum muda, yang berjiwa heroik,enerjik sekaligus pekerja keras dan tak mudah berpatah arang dalam meraih mimpi-mimpi besarnya.
Sepertinya bagi masyarakat Jawa tulen, memiliki sebilah keris sebagai pusaka piandhel menjadi sebuah keharusan. Tidak kecuali, bagi para muda yang selalu bercita-cita besar dalam meraih keinginan hidupnya. Oleh karena itu memiliki sebilah pusaka piandhel yang mampu mensugesti hati dan pikirannya, seperti telah menjadi  keharusan dalam usahanya untuk meraih keinginan mulia itu.
Tetapi, memilih keris sebagai pusaka piandhel dibutuhkan pemahaman yang memadai. Artinya, seseorang harus paham betul dengan sebilah keris yang dipilihanya. Kesalahan dalam memilih keris, diyakini justru bisa menimbulkan kesialan. Hidupnya bisa susah dan selalu dirundung kemalangan. Karena itu, sangat penting untuk memahami sebilah keris itu.
Sayangnya, tidak semua orang mampu mengenali keris dan tuahnya. Kendati keris bisa saja dianggap hanya sebagai benda seni, tetapi tidak sedikit pengakuan menunjukkan banyak orang yang hidupnya sial gara-gara di rumahnya tersimpan keris yang tidak cocok dan bahkan tidak dirawat. Karena itu, memahami fungsi dan tuah keris menjadi sangat penting.
Kemudian menjadi sangat penting untuk memahami bagaimana cara yang benar untuk mengetahui bahwa sebilah keris itu tak membawa pemiliknya terseret sawab negatif yang ditebar oleh keris tersebut. Dan pemahaman  paling gampang, terlebih dulu harus paham akan wujud  fisik dari sebilah keris tersebut. Seperti bentuk dapur, jumlah luk dan pamor. Nah dari situ sedikit banyak sudah bisa mengetahui fungsi dan tuah dari tosanaji tersebut.
Diketahui kesalahan yang sangat elementer untuk mengetahui keberadaan sebilah keris,seseorang  selalu mengandalkan metode tayuh atau kontak  batin dengan khodam keris, tanpa memahami ricikan atau ciri fisik dari keris itu sendiri. Dan pastinya bagi seorang empu dalam membuat sebilah tosanaji, tidak asal menyematkan ukiran kemudian membentuk sebilah keris hanya sekedar untuk memenuhi aspek estetika. Lebih dari itu soal ricikan keris pada keris tersebut seorang empu sudah mengisyaratkan mengenai soal fungsi atau tuah dari keris yang dibuatnya.
Hal lain yang mesti dipahami,harus  paham soal jenis  bahan bakunya, karena lewat besi sebagai bahan  baku utama  pembuatan keris, minimal bisa diperkirakan kapan keris itu mulai dibuat dan pada jaman kerajaan apa  dan seterusnya, meski itu sifatnya sangat normatif dan universal sekali. Kemudian  yang terkait dengan kekuatan magis yang ada pada sebilah  pusaka, agar tidak terjadi polemik ada sebagian pemerhati tosanaji yang menyarankan agar mengenai hal yang satu itu, bisa diyakini secacara pribadi masing-masing.

Naga Tanpa Sisik
Pemahaman keris secara obyektif dan universal atau ilmiah berdasar pakem keris para empu, pastinya menjadi sangat penting untuk dimengerti oleh siapa pun. Ini mengingat keris sudah diakui secara internasional sebagai benda warisan budaya asli milik bangsa ini. Karena itu, keris seyogyanya tidak hanya dieksplorasi dari aspek mistik atau isoteriknya saja. Tetapi, juga dari aspek kebendaan atau ciri fisiknya. Sehingga, bagi yang masih muda dan masih dalam taraf belajar tentang keris, tidak akan mudah tertipu dengan mitos-mitos keris yang tanpa dasar.
Keris kanjeng kiai naga liman pamor pulo tirto diyakini sawabnya sanggup menguatkan daya upaya seseorang untuk meraih cita-citanya. Tetapi, yang paling pokok dari keris dapur naga liman itu adalah sugesti atau tuah gaibnya yang bisa menguatkan panca indra.
Dibenarkan keris naga liman sering pula disebut sebagai naga tapak angin. Naga merupakan lambang kekuatan, liman yang berarti gajah, pada keris dapur naga liman bukan berarti gajah. Tetapi, lima. Ini melambangkan lima panca indera. Karena keris naga liman tersebut memang berdaya magis untuk meningkatkan daya panca indra pemiliknya.
Lima panca indera itu meliputi penglihatan, rasa, perkataan, pendengaran dan perabaan. Dengan kata lain, keris dapur naga liman akan membuat pemiliknya menjadi lebih peka batin. Juga perkataannya lebih tajam, tegas yang dengan demikian berwibawa. Sedangkan, pamor pulo tirto yang gambarnya mirip pulau-pulau yang mengambang di tengah lautan melambangkan keberuntungan. Pemiliknya akan selalu bisa menemukan solusi dari setiap masalahnya, sebagaimana dilambangkan dengan pulau-pulau yang banyak mengambang di lautan.
Ada pun ciri fisik dari keris naga liman jumlah luknya  ada lima dan memiliki greneng. Pada bagian gandhik atau sorsoran ada ukiran kepala naga tanpa mahkota. Tubuh naga terukir sampai ke ujung bilah keris dan tanpa sisik. Ini berbeda dengan keris nogo sosro yang ukiran naganya bersisik. Keris dengan ukiran kepala naga pada bagian gandhik atau sorsoran keris, biasanya berkonotasi sebagai keris yang bertuah kepemimpinan. Tetapi, tidak untuk keris naga liman itu. Keris dapur naga liman yang ukiran kepala naganya tanpa mahkota, menunjukkan keris itu diperuntukkan bagi kalangan umum. Koko.T

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here