Mampu Berkomunikasi dengan Orang Mati

183 dibaca

Siapa yang tak kenal “kenyentrikan” KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)? Beliau adalah tokoh yang selalu diperbincangkan bukan hanya di kalangan umat muslim. Tapi nama Gus Dur juga sangat dikenanng umat non-Muslim. Bahkan, Gus Dur di kalangan warga Tionghoa dianggap sebagai Dewa. Tak heran bila di klenteng-klenteng foto Gur Dur juga terpampang di sana. Berikut kelanjutan catatan zubairi indro dari berbagai sumber.

GUS DUR dikenal sangat suka bersilaturrahim dengan mereka yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia. Bahkan, Gus Dur dianggap sebagai tokoh yang mampu berkomunikasi dengan orang yang diziarahi di alam kubur. Gus Dur adalah Presiden ke-4 Republik Indonesia yang jika sedang menghadapi kemelut bangsa, selalu memilihi untuk bersilaturrahim dan bahkan berkomunikasi dengan orang yang sudah meninggal dengan melakukan ziarah kubur. Gus Dur tidak memilih berkomunikasi atau lobi-lobi politik.
Mengenai hal tersebut, Gus Dur pernah memberikan jawaban begini: “Saya datang ke makam, karena saya tahu, mereka yang mati itu sudah tidak punya kepentingan lagi.” (Wisdom Gus Dur, 2014). Alkisah, pada suatu waktu Gus Dur berkunjung ke makam Syekh Ahmad Mutamakkin, seorang tokoh leluhurnya di Kajen, Pati, Jawa Tengah. Bahkan, setiap kali Gus Dur melewati daerah Pati, tidak pernah absen untuk menyempatkan diri ziarah ke makam Mbah Mutamakkin.
Mbah Mutamakkin hidup di masa Sunan Amangkurat IV, 1719-1726 M. Sebagaimana yang diceritakan KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, Gus Dur pernah mengatakan ingin bertemu dengan dua orang kiai di Kajen, yaitu: Mbah Mutamakkin dan Mbah Dullah (KH Abdullah Salam, 1917-2001). Gus Dur mengatakan bahwa Mbah Dullah ingin ditemui di rumahnya, sementara Mbah Mutamakkin ingin ditemui di makamnya.
Gus Mus lantas menyampaikan keinginan Gus Dur itu kepada KH Husein Muhammad Cirebon, mengenai keinginan Gus Dur untuk silaturrahim Mbah Dullah. Seketika itu pula Kiai Husein langsung bergegas menuju Kajen, Margoyoso untuk menemui Mbah Dullah. Kiai Husein kemudian menyampaikan keinginan Gus Dur untuk menemui Mbah Dullah. “Wah, Gus Dur tidak akan bertemu dengan Mbah Mutamakkin, beliau sedang keluar,” tutur Mbah Dullah kepada Kiai Husein. (Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus, 2015).
Apa yang diungkapkan oleh Mbah Dullah mengenai Kiai Mutamakkin yang sedang keluar, Kiai Husein sendiri sudah mafhum. Orang-orang sholeh memang kerap mempunyai cara tersendiri dalam berkomunikasi meskipun secara jasad sudah meninggal. Hal ini tentu di luar batas nalar manusia pada umumnya, sebab ulama mempunyai keistimewaan yang disebut karomah.
Kiai Husein menyimpan informasi dari Mbah Dullah yang kemudian akan dikabarkan ketika dirinya bertemu langsung dengan Gus Dur. Kiai Husein tidak mau orang lain salah paham ketika dirinya menyampaikan kabar dari salah seorang kiai sufi dan zahid (bersajaha, zuhud) tersebut. Karena keinginannya untuk sowan kepada dua orang kiai Kajen tersebut, Gus Dur pun langsung meluncur ke Kajen dan ternyata langsung menuju rumah Mbah Dullah. Gus Dur sendiri tidak mampir ke rumah Kiai Husein. Kiai Husein pun tidak sempat mengabari Gus Dur mengenai penjelasan Mbah Dullah terkait kabar Mbah Mutamakkin.
Ketika Gus Dur sampai di Kajen, mestinya menemui Mbah Mutamakkin terlebih dahulu sebelum menuju rumah Mbah Dullah. “Lah, jarene (katanya) menemui Mbah Mutamakkin dulu, kok ke sini (rumah Mbah Dullah) dulu?” tanya Shinta Nuriyah yang ketika itu ikut mendampingi Gus Dur.
Mendengar pertanyaan tersebut, Gus Dur kemudian menjawab singkat, “Mbah Mutamakkin ora ono, lagek metu (Mbah Mutamakkin tidak ada, sedang keluar).”
Bagaimana Gus Dur mengetahui kabar Mbah Mutamakkin sedang keluar? Padahal kabar dari Mbah Dullah tersebut belum disampaikan kepada Gus Dur. Itulah pertanyaan pertama yang muncul di benak Kiai Husein. Kiai Husein kemudian menyampaikan bahwa itulah salah satu tanda kewalian Gus Dur. Orang semacam itu acap kali paham hal-hal yang orang pada umumnya tidak mengerti sehingga Gus Dur sering dinilai weruh sak durunge winara (mengetahui sebelum kejadian). (habis)