Bukti-Bukti Kewalian Gus Dur

359 dibaca

Dalam peringatan wafatnya Presiden Indonesia ke-4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kembali digelar di kediaman keluarga di Jalan Warung Sila, Ciganjur, Jakarta Selatan pada Jumat malam, 22 Desember 2017. Dalam momen peringatan tahun ke-8 tersebut, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa blak-blakan seputar detik-detik pencalonan Gus Dur sebagai presiden pada 1999. Berikut cacatan zubairi indro dari berbagai sumber.

Menurut Khofifah, peristiwa-peristiwa menjelang Gus Dur menjadi presiden bisa disebut sebagai salah satu bukti “kewalian”nya. Sebab, Gus Dur baru menyatakan ingin menjadi presiden 6 jam sebelum pendaftaran ditutup. “Namun langkahnya justru berjalan dengan mulus,” kata dia pada Jumat malam.
Saat sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat 19 Oktober 1999 yang menolak laporan pertanggungjawaban Presiden BJ. Habibie, jam sudah menunjukkan pukul 00.00 WIB. Satu jam kemudian, Gus Dur menghubungi Khofifah, yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Fraksi MPR Partai Waktu yang sempit itu membuat Khofifah kebingungan untuk memenuhi sejumlah syarat administrasi yang harus diserahkan ke Sekretaris Jenderal MPR. Di antaranya adalah Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK), surat dari pengadilan bahwa Gus Dur tidak sedang dipidana, dan surat dari Pengadilan Tata Usaha bahwa Gus Dur tidak pailit.
Kian dikejar waktu, akhirnya surat-surat tersebut dibuat dan ditandatangani sendiri oleh Gus Dur. “Saya KH. Abdurrahman Wahid, alamat Ciganjur, menyatakan dengan sebenarnya bahwa saya berkelakuan baik. Ditandatangani sendiri,” kata Khofifah disambut tawa ribuan hadirin. “Jadi pada dasarnya pencalonan Gus Dur itu beliau sendiri yang tanda tangan.”
Surat-surat tersebut lalu dibawa Khofifah untuk diserahkan kepada panitia pada 20 Oktober 1999 pukul 06.30 WIB. Sidang MPR dibuka tiga jam kemudian dan menugaskan Sekretaris Jenderal MPR untuk memverifikasi data-data dan persyaratan calon presiden. Kebangkitan Bangsa, dan mengatakan ingin maju sebagai calon presiden.
Tak disangka, Sekretaris Jenderal MPR justru mengumumkan bahwa seluruh persyaratan Gus Dur lengkap. “Jadi hari itu kalau ada orang yang paling sport jantung di dunia, ya yang sekarang berdiri di sini. Karena saya tahu persis bahwa itu surat-surat ditandatangani sendiri oleh Gus Dur,” ujarnya.
Menurut Khofifah, mungkin itu adalah salah satu tanda kewalian yang dimiliki Gus Dur sebagai seorang ulama. “Jadi kalau mau tanya kewalian Gus Dur, ya pada saat pendaftaran itu,” kata dia.
Keberuntungan Gus Dur berlanjut saat ia memilih Megawati Soekarnoputri untuk menjadi wakil presiden. Lagi-lagi Khofifah dibuat kesulitan melengkapi persyaratan administrasi untuk mengusulkan Megawati menjadi wakil presiden. Sebab, saat itu tidak ada satupun pengurus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang mau memberikan berkas-berkas persyaratan tersebut. Alasannya, PDIP tidak menyiapkan Megawati sebagai wakil presiden. Berkas yang ada hanyalah saat Mega maju sebagai calon presiden.
Khofifah akhirnya memutuskan tidak membawa berkas-berkas kelengkapan Megawati saat mendaftarkannya ke panitia. Saat ditanyakan oleh petugas, Khofifah hanya menjawab bahwa Megawati telah dinyatakan lolos saat maju sebagai calon presiden, sehingga berkas itu tidak dibutuhkan lagi. “Hari itu ternyata, panitia pendaftaran calon wakil presiden itu bisa menerima alasan saya,” kata dia.

Bukti Kewalian Gus Dur
Saat Kunjungi Syekh Yasin Al Fadani pasca terpilih sebagai KetuaUmum PBNU hasil Muktamar Situbondo, Gus Dur diundang oleh Kerajaan Arab Saudi, bersama lima orang pengurus. Termasuk diantaranya KH. MA Sahal Mahfudz dan KH Abdullah Syarwani. Usai berdiskusi dengan pihak Kerajaan Arab Saudi dan Syaikh Bin Baz, Gus Dur mengajak rombongan untuk mengunjungi kediaman Syaikh Yasin Al-Padani. Tapi Mbah Sahal, yang sudah pernah berkunjung, lupa di mana persisnya kediaman Syaikh Yasin.
Di perjalanan, Gus Dur yang duduk di belakang, ternyata malah tidur. Praktis sopir taksi dan Mbah Sahal bingung. Ke mana lagi arah yang musti dituju. Begitu dibangunkan, Gus Dur berujar, “Nanti di depan sana berhenti, ya.”
“Tadi saya mimpi ketemu Syaikh Yasin,” jawab Gus Dur santai.
Benar saja, begitu taksi berhenti dan bertanya pada seseorang di pinggir jalan, rumah Syaikh Yasin ternyata cuma naik sedikit dari tempat mereka berhenti.Dan begitu sampai, Syaikh Yasin sudah siap menyambut mereka dengan pakaian yang rapi dan wangi. Lengkap dengan menu kurma yang berjumlah lima porsi, persis sesuai dengan jumlah rombongan Gus Dur.
Prof. Dr. KH. Sa’id Aqil Siroj, MA. (Kiai SAS)KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah tokoh yang selalu menjadi bahasan, mulai di masa hidupnya sampai ketika sudah wafat. Memang, Gus Dur bukan hanya dikenal sebagai kiai dan tokoh intelektual dunia, tetapi juga sebagai aktifis dalam berbagai pergerakan, terutama yang berbasis kemanusiaan. Tidak lepas dari perbincangan seputar Gus Dur, selain humor-humor segarnya yang kritis dan spontan adalah juga kisah-kisah yang mengisyaratkan kewaliannya.
Rabu malam (20/2/2019) dalam acara “Istighosah untuk Indonesia Aman dan Damai” di halaman gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jl Kramat Raya, No.164, Jakarta Pusat, salah satu kisah “kewalian” Gus Dur diungkap oleh Kiai SAS, sapaan lain dari Kiai Said, mengatakan bahwa Gus Dur memiliki “hikmah” sehingga Kiai SAS mengisahkan, saat Gu Dur dalam pemulihan dari sakit, ia menjenguk Gus Dur di kediamnnya –tahunnya tidak disebut hanya dikatakan masih di masa Presiden Soeharto. Saat itu, selain Kiai SAS ada Muhaimin Iskandar (Cak Imin), Syaifullah Yusuf (Gus Ipul), dan Wisnu Cakra Wardaya (Menteri Koperasi saat itu).
Setelah mereka masuk ke dalam kamarnya, Gus Dur sedang terbaring. Tidak lama kemudian, lanjut Kiai SAS, tiba-tiba Gus Dur duduk lalu berkata, “Engku’ aku dhadi presiden” (Nanti saya akan jadi presiden). Mendengar kata-kata Gus Dur, semuanya bingung, sebab saat itu Presiden Soehato (Orde Baru) masih berkuasa. Malah, ucapan Gus Dur itu dianggap mengada-ada saja, apalagi dalam kondisi sakit.
Namun faktanya, belakangan, setelah terjadi gelombang demo yang melengserkan kekuasaan Orde Baru, kata-kata itu terbukti. Gus Dur diangkat menjadi Presiden ke-4 Republik Indonesia.
Berikutnya Kiai SAS mengungkapkan perkataan Gus Dur tentang dirinya. Saat itu, Kiai SAS mengisahkan, peristiwanya terjadi setelah Gus Dur tidak lagi menjabat sebagai presiden. Di suatu pagi, Gus Dur jalan kaki (olah raga) dari kediamannya (Jl Warung Silah, Ciganjur, Jakarta Selatan) lalu mampir ke kediaman Kiai SAS (Jl Sadar Raya, masih wilayah Ciganjur).
Ternyata benar, sambung Kiai SAS, saat dirinya terpilih menjadi Ketua Umum PBNU dalam Muktamar NU ke-32 di Makasar (22–27 Maret 2010), Kiai SAS genap berusia 56 tahun. Semua itu, tandas kiai asal Cirebon ini, adalah hikmah yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada almarhum Gus Dur. Memang, hal tersebut di atas diungkap oleh Kiai SAS sebagai salah satu contoh tentang hikmah. Di mana sebelumnya Kiai SAS mengulas tentang hikmah yang tingkatannya di atas ilmu. Dan, hikmah tidak ada sekolahnya serta tidak ada teorinya. Tandasnya lagi, hikmah hanya dianugerahkan oleh Allah SWT kepada orang-orang tertentu secara khusus, yang secara umum, merupakan buah dari kebeningan hati dalam mengabdi kepada-Nya. Entah itu istilahnya disebut ilham, kasyaf, ilmu ladunni, atau apa pun, yang pasti hal itu adalah satu anugerah yang bersifat ilahiyah.
Kiai SAS juga memberi contoh peristiwa hikmah saat Khalifah Umar bin Khaththab memberi komando kepada pasukannya di Asia Tengah dari atas mimbar Jumat di Masjid Madinah. Dikisahkan, saat menyampaikan khutbah Jumat di Madinah, tiba-tiba Khalifah Umar melihat pasukannya di Asia Tengah yang dipimpin Sariah dihadang musuh, sementara pasukan itu tidak mengetahuinya. Maka, Khalifah Umar yang dianugerahi hikmah penglihatan jarak jauh saat itu langsung memerintahkan kepada mereka agar segera berlindung ke balik gunung. Ajaibnya, pasukan yang dikomando dari atas mimbar itu pun mendengar suara Khalifah Umar, meskipun terbentang jarak ribuan kilometer.
Kiai SAS lalu menandaskan, Alquran mengajarkan kita untuk proporsional. Yakni, dalam kita berbuat harus sesuai dengan bidang ilmu yang dimiliki. Dan ternyata, di atas ilmu masih terdapat satu anugerah Allah SWT yang disebut hikmah. Nah, jika ilmu saja belum memadai, apalagi untuk mencapai tingkatan hikmah, sikap hati-hati dalam menyikapi persoalan harus kita jaga. Seringkali mengetahui sesuatu sebelum peristiwanya terjadi.(bersambung)