Santuni Fakir Miskin, Pohon Jadi Emas

160 dibaca

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah lahir tahun 1450 M di Mesir. Boleh dibilang merupakan salah seorang Walisongo yang menyebarkan ajaran Islam di wilayah Jawa Barat dan Banten. Berikut ini kisahnya.

Ayahnya adalah Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar, seorang mubaligh dan Musafir besar dari Gujarat, India dan Hadramaut.  Yaman. Silsilahnya sampai kepada Rasulullah melalui cucunya Imam Husain. Ibu Sunan Gunung Jati adalah Nyai Rara Santang (Syarifah Mudaim) yaitu putri dari Sri Baduga Maharaja dari Nyai Subang Larang, dan merupakan adik dari Kian Santang atau Pangeran Walangsungsang yang bergelar Cakrabuwana.

Semasa kecil tinggal di kerajaan Mesir. Tapi setelah ayahnya meninggal mengikuti ibunya kembali ke kerajaan Pajajaran. Sedangkan kerajaannya diserahkan kepada adiknya. Kemudian di kerajaan Pajajaran oleh ibunya  dingajikan kepada Syekh Datul Kahfi yang posisinya berada di Padepokan Giri Amparan Jati Gunung Jati Cirebon.

Menginjak usia dewasa menunaikan ibadah haji ke Makkah. Guna menunaikan  menunaikan rukun Islam kelima (haji) ke Baitullah. Oleh ibunya  dibekali  uang seratus dirham dan beberapa keping emas. Di tengah perjalanan dihadang sekelompok perampok. Tanpa basa-basi, semua uang pemberian ibunya sebanyak seratus dirham, dia berikan kepada para penyamun tersebut. Para penyamun tidak merasa puas dengan tindakan Syarif Hidayatullah, mereka menyangka bahwa dia membawa uang lebih dari sekedar yang diberikan. Mereka lalu terus memaksanya untuk memberikan harta yang dibawanya. Melihat hal tersebut, Syarif Hidayatullah malah tersenyum dan menyuruh mereka untuk melihat ke sebuah pohon.

“Ini ada satu lagi, sebuah pohon dari emas, bagilah di antara kawan-kawanmu”. Ternyata, pohon yang ditunjuknya berubah menjadi emas. Akhirnya mereka masuk Islam dan menjadi murid dari Syarif Hidayatullah. Sepulang dari Haji melakukan dakwah ditengah-tengah masyarakat yang belum memeluk agama Islam. Dari Cirebon, kemudian ia menyebarkan Islam ke daerah lain di Jawa Barat seperti, Majalengka, Kuningan, Kawali, Sunda Kelapa, dan Banten.

Tahun 1525 M, Syarif Hidayatullah berhasil menjadikan Banten sebagai kerajaan Islam. Dan ketika ia kembali ke Cirebon, ia menyerahkan Kesultanan Banten kepada anaknya, Sultan Maulana Hasanuddin yang kemudan melahirkan raja-raja Banten.

Dalam melakukan dakwah, Sunan Gunung Jati memainkan peran ganda. Disamping sebagai ulama yang bergelar waliyullah, ia juga mendapat gelar Sayidin Panatagama atau dalam tradisi Jawa dianggap sebagai wakil Tuhan di Dunia, juga memerankan tokoh seorang raja.

Dalam kapasitasnya sebagai raja, ia memberlakukan pajak yang jumlah, jenis, dan besarnya disederhanakan sehingga tidak memberatkan rakyat yang baru terlepas dari kekuasaan Kerajaan Sunan Galuh Pakuan Padjajaran. Ia juga mempelopori untuk pembangunan Masjid Agung “Sang Ciptarasa” dan masjid jami’ di wilayah bawahan Cirebon. Sunan Gunung Jati pun wafat dalam usia 120 tahun (1568 M). Bersama sang ibu, ia dimakamkan di daerah Gunung Jati. Itulah sebabnya, ia hingga kini dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Peminta-Minta

Namun sebelum meninggal dunia, Sunan Gunung Jati berpesan kepada umat Islam dan santri-santrinya agar memberikan perlindungan dan memberikan santunan kepada fakir miskin. Juga juru kunci makam untuk tidak memaksa menarik uang kepada peziarah yang datang dari jauh maupun sekitar Cirebon.  Karena akan memberatkan peziarah itu sendiri. Juga bersihkan  areal makam dari para peminta-minta yang selalu memaksa para peziarah.

Berilah pelayanan dan hormati sebaik-baiknya. Karena mereka datang untuk mendoakanku. Pesan atau wasiat Sunan Gunung Jati rupanya saat sekarang telah dikesampingkan. Tiap hari banyak peminta-minya yang memaksa peziarah, baik pada siang maupun malam hari di depan areal makam. Mereka menyamar sebagai orang miskin dan petugas resmi juru kunci.  Cukup banyak peziarah yang  merasa resah terhadap mereka.

Bahkan  juru kunci yang resmipun ikutan memaksa peziarah untuk memberikan uang. Jika tidak dikasih  mengumpat dengan bahasa yang kurang santun. Mereka memberikan pelayanan baik jika diberi uang.  Untuk menuju makam  Sunan Gunung Jati yang berada berada di puncak Gunung Sembung Cirebon harus mengasih uang  terlebih dahulu.  Hanya saja  memasuki makam utama Sunan Gunung Jati memang tak dapat sembarangan, pengunjung diharuskan memiliki izin dari Sultan Cirebon dalam bentuk surat resmi.

Urus izin dahulu di keraton, baru ke sini bawa surat, nanti ada pemandu yang mengantar ke sini, kemudian kuncen yang akan mengantarkan ke makam Sunan Gunung Jati.. Makam utama Sunan Gunung Jati dibuka hanya saat-saat tertentu. Puncak keramaian tepat satu minggu setelah hari saya Idul Fitri, yakni saat Grebeg Syawalan. HUSNU MUFID