Tetesan Tirta Amerta Bhatari Giri Putri

250 dibaca

Bebandem Karangasem miliki sebuah mata air “pingit” yang disebut dengan Telaga Tista. Disebut sebgai tempat pesiraman atau bejian Ide Batara Istri Pura Panti, Pura Puseh dan Pura Bangkak, sekaligus pesucian Ide Batara seluruh Dadia yang menjadikan sumber mata air suci ini sebagai tempat melancaran ketika habis melaksanakan upacara Manusa Yadnya seperti “Metatah”.

MATA Air suci dari Telaga Tista yang berada di Dusun Abiantiing, Desa Jungutan, Bebandem, Karangasem. tersebut tidak pernah mengering meskipun musim kemarau dan tetap bisa mengaliri ribuan hektar sawah di tujuh subak dan juga untuk kebutuhan air di tujuh Desa adat yang berada di bawah aliran Telaga Tista tersebut di antaranya, Desa adat Macang, Bungaya, Asak, Perasi, Timbrah, Bugbug dan Juga Tenganan.

Di areal Telaga Tista juga terdapat Pura yang disebut Pura Telaga Tista. Pura ini menggelar upacara setiap setiap setahun dan 10 tahun sekali. Upacara yang dilaksanakan setiap setahun sekali disebut dengan Usaba Ketipat diampu oleh Desa Adat Sibetan selaku pengempon utama.  Kemudian ada upacara yang dilaksanakan setiap 10 tahun sekali yang disebut Ngusaba Ketipat Agung dengan memakai sarana Kerbau. Saat pelaksanaan upacara ini, ketujuh Desa adat yang menggunakan air dari Telaga Tista datang untuk nunas tirta dan melakukan persembahyangan. Selain itu ketujuh Desa Adat tersebut juga kena Pengangge setiap 20 tahun sekali ketika dilaksanakan Ngusaba Bangkak di Pura Bangkak. Setiap desa Adat “pesonnya” (urunan) berbeda-beda.

Dalam penggalian data, posmo menemukan asal usul Pura Telaga Tista – Jungutan dalam kaitannya dengan sejarah Desa Pekraman Bugbug – Karangasem. Versi cerita ini berdasarkan dari sejarah Desa Pekraman Bugbug. Konon Pada awalnya Orang-orang (Krama Desa) yang tinggal di sekitar Bukit Gumang memohon kehadapan Ida Gde (Bhatara Gde Gumang) agar tercipta air dan sungai di sebelah barat Bukit Penyu (Bukit pe-Dukuhan), untuk mengairi areal persawahan yang ada di sekitarnya. Jika permohonan mereka terkabulkan maka mereka berjanji; apabila kelak mereka beranak-pinak, mereka akan menghaturkan guling babi sebagai banten papintonan untuk setiap kelahiran. Mendengar permohonan dari orang-orang (Krama Desa) itu, maka Bhatara Gde Gumang (Ida Gde) segera beryoga mempersatukan cipta beliau untuk memohon kehadapan Bhatara Hyang Hyanging Toklangkir yang berstana di Gunung Agung. Dari yoga beliau itulah lalu dititahkanlah agar Bhatari Giri Putri meneteskan air suci kehidupan (tirtha amertha) dari sebuah kendi manik.

Dalam memenuhi titah Bhatara Parameswara di gunung Toklangkir (Gunung Agung), Bhatari Giri Putri lalu turunpadha nyaludira berwujud sebagai seorang wanita tua renta dengan membawa air suci (tirtha amertha) itu yang dibungkus dengan sehelai daun kaumbang/candung (sejenis daun talas hutan), dengan maksud menguji kesungguhan dari orang-orang yang memohon air suci tersebut. Sepanjang perjalanan, biliau diikuti pula dengan kemunculan seorang Pria gagah dengan perawakan tegap yang merupakan perwujudan saludira dari dewata yang juga ikut turunpadha. Di mana pria tersebut sedang mengikuti pergumulan dari orang-orang yang mengadakan pertemuan di sebuah hutan kecil yang disebut ebetan (mungkin saat ini Sibetan), yang juga sangat mendambakan air untuk kelangsungan hidup mereka. Bhatara Giri Putri yang telah berwujud sebagai seorang wanita tua renta itu lalu mendekati orang-orang yang sedang berkumpul itu, dan menawarkan setetes air yang dibawanya itu untuk ditukar dengan bekakak kerbau bertaduk emas. Mendengan perkataan dari seorang wanita tua dan renta seperti itu, ditanggapi sebagai orang gila, masa hanya setetes air lantas ditukar dengan bekakak kerbau bertanduk emas, sangat lucu rupanya, begitu tanggapan orang-orang yang sedang berkumpul di hutan kecil itu.

Tak lama kemudian, Pria yang merupakan perwujudan dewata itu, mengetahui bahwa air yang ditawarkan oleh wanita tua itu adalah air suci kehidupan (tirtha amertha) yang dibungkus dengan daun kaumbang/candung, yang telah ditaruhnya di atas cabang ranting pohon kayu apah. Dengan tidak sabaran pria itu secara diam-diam lalu ngandok (merogoh) air suci itu hingga tumpah ke tanah. Dari tumpahan air suci (tirtha) itulah, memunculkan mata air yang sangat besar, yang kemudian di tempat tersebut airnya juga menggenang menjadi sebuah telaga yang disebutnya dengan nama telaga tirtha, yang selanjutnya kemudian menjadi Telaga Tistha. Sedangkan sisa air yang mesih ada pada daun candung/kaumbang itu dilemparkan ke timur, dan akhirnya jatuh di sebuah tempat dan menimbulkan mata air yang sangat besar pula yang hendak menghanyutkan daerah-daerah pra-desa yang ada diwilayah selatan. Menyaksikan hal yang sangat mengejutkan itu dan akan menimbulkan bencana bagi kehidupan yang ada disekitarnya, wanita tua renta yang merupakan perwujudan dari Bhatari Giri Putri itu sangatlah marah, dan tahu bahwa orang yang merogohnya itu adalah perwujudan dewata yang juga sedang turunpadha. Oleh karena kekurang sabarannya itu, maka ia dikatakan mangkak/bangkak. Seketika itu pula mengagetkan orang-orang yang ada disekitar itu dan berupaya untuk menahan luapan air itu namun tidak berhasil. Sampai pada akhirnya Ida Gde (Bhatara Gde Gumang) menjadi khawatir dengan keadaan itu, yang hendak membahayakan pra-desa pra-desa disekitar Bukit Gumang. Lalu beliau menyuruh orang-orang yang mendiami pra-desa pra-desa disekitar Bukit Gumang untuk membantu menahan dan menutup luapan air itu, namun juga tidak berhasil. Pada akhirnya beliau menyuruh menimbun dengan Gong Peturun yang didapatkannya di Pasujan. Perintah itupun segera dilaksanakan, dan selanjutnya Gong Peturun itu digunakan untuk menutup mata air itu dan ditindih dengan kayu ilat-ilat, kepuh dan sebagainya. Barulah luapan mata air itu menjadi tenang dan mengecil. Sebagai akibat dari tertutupnya mata air itu, maka air dari mata air itu selanjutnya mengalir melalui saluran urat-urat bumi di beberapa tempat (régöng h?mbhukan wwating bhumi), yakni di Hembhukan (sekarang; Tirta Gangga) yang disertai penunggu (pangemit) Kaki Sedahan Bejagul Putih, Kaki Sedahan Juru Tumbak, di Batu Belah (bentar watuparangan ing sagara) dengan penunggu (pangemit) Kaki Sedahan Buaya putih, Kaki Sedahan Gurita, Kaki Sedahan Rekata, di Candidasa dengan penunggu (pangemit) Kaki Sedahan Bejulit Hir?ng, Kaki Sedahan Juru Tumbak, Kaki Sedahan Udanggragho, Kaki Sedahan Ayuyu, Kaki Sedahan Kakul, Kaki Sedahan Gondang, Kaki Sedahan Hemping, Kaki Sedahan Kapu-Kapu. Dan di Telaga Tistha (Telaga Tirtha) yang sebagai pusat dari saluran mata air itu ditunggu (kakmitan dening) Kaki Sedahan Bejulit Putih, Kaki Sedahan Tukad, Kaki Sedahan Kaladasabhumi, Kaki Sedahan Udang Testes Ngragho, Kaki Sedahan Yuyu Kracah, Kaki Sedahan Juru Tumbak, Kaki Sedahan Kakul, Kaki Sedahan Gondang, Kaki Sedahan Hemping, Kaki sedahan Kapu-Kapu, dan lain sebagainya (maka mwah sakalwiranya).

Pria perwujudan dewata itu disuruhnya menjaga dan memelihara air Bangkak dan air Telaga Tista (Telaga Tirtha) itu, agar ketersediaan simpanan airnya tidak habis sampai kelak kemudian hari, dengan melakukan upacara pecaruan (pacarwwa) berupa bekakak kerbau yang bertanduk emas serta santalan yang disertai dengan entip jakan sebagai ajeng-ajengan para pangemit. Begitu pula di Candidasa agar melaksanakan upacara pecaruan (pacarwwa) dan pasuci bhumi serta pakelem. Di Tirta Gangga dan Batu Belah juga agar demikian halnya. Selanjutnya Pria perwujudan dewata yang turunpadha itu menjadi junjungan (sasuhunan) di tempat itu (Bangkak) dengan sebutan bhiseka Ida Gde Bangkak (Bhatara Gde Bangkak), dan di Talaga Tista (Telaga Tirtha) berstana Bhatari Nini Sri Prameswari Amertha Arundhathi Uma Dewi, begitu pula beliau yang dipuja di Candidasa (ye te ma…. kang pinuja maréng candidasa) adalah Bhatari Sri Haritthi dan Bhatara Gde Sakti Siwaning Bhumi. Dari sejak itulah di sekitar tempat itu berdiri sebuah Pura (Parhyangan), yang dikenal dengan nama Pura Bangkak dan Pura Telaga Tistha (Telaga Tirtha), Pura Candidasa, Pura Watu Belah, dan Tirta Gangga sebagai Pura bagi mereka yang mengerjakan tanah persawahan dan perkebunan (kahyangan maka siwaning i kasuwakan kang mathani).

Selanjutnya karena yang memohon air suci itu agar menjadi sebuah sungi ke jalur selatan adalah Ida Gde (Bhatara Gde Gumang), dan agar aliran airnya tidak membahayakan sampai ke hilir (ke laut), maka dititahlah pria perwujudan dewata yang turunpadha itu, yang tiada lain adalah Ida Gde Bangkak (Bhatara Gde Bangkak) untuk mempertanggungjawabkan ketidak sabarannya itu agar mengendalikan perjalanan air itu sampai ke hilir (ke laut). Dan sepanjang sungai tempat air suci itu mengalir, yakni; dari Telaga Tistha (Telaga Tirtha) sampai ke laut selatan dinamakan Tukad Buhu. [(kata buhu/bhuhwa (Bhs Sanskerta, artinya permohonan/permintaan)].

Dalam perjalanan air itu menuju hilir (laut), sesampainya di daerah Baunghasana (Bongsana), beliau bertemu dengan Ida Gde (Bhatara Gde Gumang) yang sedang beryoga di atas sebuah gurit (kiskis)(sejenis alat pemangkas rumput di sawah), lalu Ida Gde Bangkak (Bhatara Gde Bangkak) bertanya, kepada Bhatara Gde Gumang. ”Ida Gde akan diarahkan kemanakah aliran air ini?. Lalu Ida Gde (Bhatara Gde Gumang) menunjuk ke sebuah bukit, yaitu Bukit Penyu (Bukit pe-Dukuhan) yang ada di antara pra-Desa pra-Desa di sekitar Bukit Gumang, dan mengatakan agar air itu mengalir di sebelah barat Bukit itu. Dengan demikian maka dipotonglah bukit yang dipandang sebagai penghalang aliran air itu ke barat. Potongan bukit itu lau dinamakan ”Ngampan Rempak” dan menjadi sebuah gundukan di sebelah utara Batu Koek (di daerah Bongsana). Dengan demikian maka mengalirlah air itu di sebelah barat Bukit Penyu (Bukit pe-Dukuhan) sesuai dengan harapan Ida Gde (Bhatara Gde Gumang).

Upacara Mapinton

Aliran air sungai Tukad Buhu itu dapat juga digunakan sebagai sarana untuk ngeruat mala atau membersihkan mala kawisyan (segala bentuk noda/kepapaan yang diakibatkan oleh kekuatan magis mistis). Dan tempat reruntuhan dari potongan bukit yang dinamakan sebagai ngampan rêmpak itu selanjutnya menjadi batas Utara wilayah Desa Pakraman Bugbug Kabupaten Karangasem hingga sekarang (Prasasti Desa Bugbug Tahun 1103 Saka).

Demikian mitologinya hingga timbul upacara mapinton di Pura Bukit Gumang dan adanya kewajiban dari masyarakat (Krama Desa) Desa Pakraman Bugbug, serta Desa-desa Pakraman lainnya yang menggunakan air dari Tukad Buhu yang sumbernya dari Telaga Tista (Telaga Tirtha) itu, juga agar melaksanakan upacara/upakara panghaci-haci yang dilaksanakan di Pura Bangkak dan di Pura Telaga Tista (Telaga Tirtha) berupa bukakak kêrbao bertanduk emas yang pemujaannya dipimpin oleh Ki Buyut Bangkak. Jika tidak demikian maka akan terkena kutukan (sapata) Bhatara bahwa segala hasil persawahan sewilayah desa-desa itu akan hampa, termakan oleh segala bentuk hama dan sebagainya (Lontar Awig-awig Desa Pakraman Sibetan Kabupaten Karangasem yang merupakan pengejawantahan dari Raja Purana Desa Sibetan.

Sementara, bagi pelancong, Telaga Tista memiliki beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar seperti dilarang mengonsumsi daging sapi sebelum datang ke Telaga Tista. Namun, bagi pengunjung yang sudah terlanjur mengonsumsi sudah disediakan pelukatan oleh Jero mangku sebagai pembersihan sebelum memasuki areal Telaga Tista. Selain itu jika ada upaka atau “naur sesangi” dengan sarana Babi tidak diperbolehkan dihaturkan naik ke Pura Telaga Tista hanya boleh dihaturkan di bawah. Hanya haturan yang memakai sarana  suci saja yang diperkenankan dipersembahyang di Pura tersebut seperti ayam, bebek, dan angsa.DANAR S PANGERAN