Tanda Ada Pertemuan Walisongo

129 dibaca

Pohon Jati yang berada di lingkungan makam dan bekas Pesantren Giri Amparan Jati  memiliki nilai sejarah bagi Walisongo. Hingga saat sekarang  pohonnya masih hidup. Usianya cukup tua dan memberikan keteduhan bagi para peziarah. Berikut ini kisahnya.

Keberadaan pohon Jati di areal pemakaman Syekh Datul Kahfi di Gunung Sembung usianya sangat tua. Tapi hingga kini masih hidup dan belum mati. Pihak kraton dan masyarakat tidak ada yang berani menebang. Meskipun nilainya kalau dijual harganya cukup mahal. Mereka takut mendapat laknat almarhum Walisongo.

Bagi masyarakat Cirebon Gunung Sembung tempat bersemayamnya Syekh Datul Kahfi sudah tidak asing lagi. Begitu pula dengan para penziarah kebanyakan menyempatkan diri untuk ziarah kemakam tersebut. Karena dianggap sebagai guru Sunan Gunung Jati dan Syekh Siti Jenar.

Ketika peziarah  akan memasuki makam Syekh Datul Kahfi terdapat pohon jati yang jumlahnya sembilan. Pohon tersebut berada dilingkungan  Punjer Bumi  tempat Syekh Datul Kahfi memberikan pelajaran kepada  Sunan Gunung Jati dan Syekh Siti Jenar.

Konon ceritanya pohon tersebut sengaja ditanam para wali usai mengadakan rapat di lereng Gunung Sembung dekat dengan sumur Jala Tunda buatan Sunan Kalijogo. Hingga kini pohon jati yang usianya sudah berabad-abad lamannya masih tetap hidup dan menjulang tinggi ke langit.

Pohon Jati itu oleh kalangan kraton di kramatkan. Maka dari itu keberadaannya dibiarkan untuk terus tumbuh hidup. Tidak akan ditebang-tebang untuk keperluan membuat pintu kraton atau almari. Begitupula dengan masyarakat setempat tidak ada yang berani menebang. Meskipun harga jualnya cukup tinggi.

Masyarakat membiarkan apa adanya dan tidak berani  mencuri atau memotong rantingnya. Mereka takut kalau nantinya mendapat  marabahaya. Sebab keberadaan pohon Jati itu bukan hasil tanaman orang biasa, melainkan ditanam oleh Walisongo saat mengunjungi makam Syekh Datul Kahfi di Cirebon Jawa Barat.

“Pihak kraton dan masyarakat tidak berani menebang pohon Jati di dekat makam Syekh Datuk Kahfi. Karena takut laknat almarhum Walisongo. Pohon tersebut sebagai tanda jaman dahulu para wali pernag melakukan musyawarah di situ untuk mengatur strategi penyebaran agama Islam di Jawa Barat,”ujar salah satu Samnsudin Juru kunci.

Dengan dibiarkannya pohon tersebut, selama bertahun-tahun cabang rantingnya tidak beraturan dan daun-daunnya besar-besar. Kemudian batang kayu pohon besar sekali, melebihi besarnya kayu Jati yang ditanam di perkebunan-perkebunan pohon Jati di berbagai daerah Jawa Tengah.

Bila musim hujan daunnya sangat lebat. Warnanya hijau. Bila siang hari memberi kesejukan kepada para peziarah yang berasal dari berbagai kota Indonesia. Tapi bila malam tiba bunyi daun-daunnya sangat menakutkan bagi penziarah yang nyalinya kecil. Karena suara bunyinya berbeda dengan suara bunyi daun biasa jika tertiup angin kencang.

Suara Daun

Namun kalau musim panas hampir tidak ada sama sekali daun-daunnya. Hanya tinggal dahan dan rantingnya yang mengering. Bunyinya tidak ada meskipun ada angin kencang. Tapi sangat menakutkan bagi orang yang kebetulan berada dibawahnya. Yaitu adanya suara ranting pohon Jati yang berjatuhan. Dikiranya hantu di malam hari dan ternyata batang ranting. Kalau orang yang takut dengan hantu sudah barang tentu akan melarikan diri menuju jalan raya.

Sedangkan penziarah yang tidak takut dengan mahluk gaib tetap saja tidak bergeming dengan suara-suara daun dan ranting yang tertiup angin. Bahkan bayangan putih yang sering berkelebat di sekitar pohon Jati di malam hari tetap dibiarkan menampakkan diri. Karena bayangan putih itu sebenarnya penunggu areal pemakaman Gunung Sembung.

Pada hari-hari tertentu seperti bulan Sura banyak orang yang lelaku dibawahnya. Tepatnya  pada malam hari sambil membaca tahlil dan tahmid. Tujuannya untuk menguatkan batin dirinya. Tidak heran pada saat itu aral makam Gunung Sembung kondisinya tidak menakutkan.

Berbeda dengan hari-hari biasa, jika tengah malam. Suasananya sangat menakutkan. Maklum kalau melihat ke atas nampak pohon Jati yang besar. Tidak menampakkan diri sebagai pohon, melainkan mirip hantu. Bila melihat ke bawah ribuan kuburan kuno tempat bersemayamnya orang-orang sakti.

Tapi sayangnya kondisi dan lingkungan  pohon jati itu di rusak oleh pengemis-pengemis  yang suka memaksa para peziarah. Pihak pemerintah setempat  dan pengurus makam tidak menertibkan  para pengemis  liar tersebut. Cukup banyak peziarah yang merasa resah. CAHYA