Rumah Gaib Leluhur Tetua Pasundan

105 dibaca

Putih dan mistis itulah kata yang pas menggambarkan keelokan dari kawah putih Ciwidey. Dihias kepulan asap belerang keluar di seberang danau. Pohon-pohon yang berdiri begitu elok  di sekitaran kawah pun tampak tak kuasa menahan kekuatan asam dari belerang.

WILUJENG Sumping (selamat datang) di kawah putih Ciwidey di tanah Pasundan. Mengisi liburan panjang di tanah sepuh Gunung Patuha Bandung Selatan. Banyak orang mengenal kawasan kawah putih Ciwidey ini dengan memunculkan mitos, seperti anggapan orang Jawa saat itu “jalma mara jalma mati, sato mara sato mati”, artinya kawasan yang sangat angker, siapa dan apapun yang datang pasti menemui ajalnya.

Mitos lain adalah kawah ini dulu dipercaya sebagai rumah gaib leluhur para tetua Pasundan yang menempati Gunung Patuha yang berarti paling sepuh atau tua. Sering kali tampaklah domba-domba terbang dari kahyangan, Siwan mengunjungi anak cucunya di kawasan ini. Dari beberapa catatan mitos ini menjadikan bayangan sebagian orang ketakutan. Namun tak lama, suasana pun berubah drastis menjadi ceria, menyenangkan setelah digoyang kereta ular dari Surabaya.

Langkah pertama kami sudah disapa sesaknya jalanan Bandung, namun hati mulai lega saat melintas Stadion Jalan Harupat. Toh, sampai di Desa Sadu Soreang kami diuji kesabaran menghadapi padat dan macetnya jalanan. Perlan namun pasti, masuk Desa Pasir Jambu dengan pasar desanya, menyusur Desa Kuala Jepuk suasana berubah kesejukan ditambah kanan kiri jalan disuguhi pemandangan indah. Apalagi masuk wilayah Pasar Kemiri terhampar pemandangan dan aroma yang mulai terbayarkan. Kebun strawberry, pengunjung bisa langsung memetik sendiri. Perjalanan berlanjut  hingga pos pemeriksaan.

Kawasan ini pertama kali ditemukan abad XIX, tepatnya 1937 oleh Dr.Franz Wilhelm Junghun orang Belanda, yang melihat ada fenomena. Keangkeran serta hal mistis ini yang sangat kuat tertanam disetiap hati orang Pasundan, tempat ini merupakan tempat arwah leluhur bersemayam dan sangat angker.

Dari sini Junghun dengan pikiran warasnya, sebagai peneliti yang selalu ingin tahu dan ada pembuktian ilmiah, pembuktian terbalik dengan anggapan kearifan lokal budaya setempat. Junghun nekad melanjutkan perjalanan menembus hutan belantara di gunung tersebut untuk pembuktian ilmiahnya. Namun apa yang terjadi? Sebelum di puncak, saat menoleh menanam Junghun terpesona, terbelalak mata pandangnya, tertegun menyaksikan pesona alam yang begitu indah, terhampar pemandangan air luas berwarna putih kehijauan atau putih kebiruan seperti kulit telor asin, ditengahnya ada semburan, ada gelembung indah diantara air danau tersebut.

Serta aroma yang menusuk hidung, aroma belerang, sehingga terjawab sudah mengapa banyak burung mati di kawasan ini. Air kawah Ciwidey ini mengeluarkan gas belerang semisal SO2, SO3 maupun bau asam sulfur maupun asam sulfat, belum lagi bau busuk semacam asam sulfida.

Energi Batu Singgasana

Ciwidey si Kawah Putih tampaknya menjadi nama yang pantas disematkan ditempat ini. Namun apa kawah ini masih aktif? Apa tidak berbahaya kita sampai bisa berada di pusat kawah seperti ini. Namun sepertinya Gunung Patuha ini memang sudah tidak aktif dan tidak adanya sejarah letusan pada zaman modern. Namun jangan kaget jika suatu saat Patuha bisa aktif  kembali. Warna kawah yang sering berubah kadang putih, hijau, biru.ARIFIN KATIQ