Tempat Ritual Pesugihan

971 dibaca

Banyak orang yang datang untuk ngalap berkah dan banyak pula yang mendapatkan kesuksesan. Tak ayal tempat tersebut menjadi jujugan para pelaku ritual untuk ngalap berkah di puncak Trogati. Pelaku ritual juga sering melakukan tapa di Air terjun Singkromo, yang lokasinya 500 meter dengan Pertapaan Sedepok. Setiap bulan Suro, banyak dikunjungi masyarakat Trogati maupun luar Trogati.

MENYOAL kekeramatan puncak Gunung Wilis yang memiliki ketinggian 2552 meter dpl ini. Erat kaitannya dengan dua tokoh yang diyakini sebagai Ki Ageng Mangir yang berasal dari Mataram serta Eyang Wonosari dari Ponorogo. Siapa tokoh ini? Menurut Mbah Man, Ki Ageng Mangir merupakan seorang Demang di wilayah kekuasaan Mataram. Konon, sebelum Ki Ageng Mangir meninggal. Demang tersebut menjalani semedi (bertapa, red) di puncak Trogati ini.

Usai menjalani laku tersebut, Ki Ageng Mangir memiliki kekuatan kebal terhadap pusaka sakti. Mendengar kesaktian tersebut, Ratu Mataram mengutus utusan untuk memanggil Ki Ageng Mangir untuk menghadap dan mengabdi kepadanya. Akan tetapi titah tersebut ditolaknya mentah-mentah. Karena menolak, diutuslah punggawa kerajaan untuk membunuh Ki Ageng Mangir. Akan tetapi usaha tersebut sia-sia, pasalnya Ki Ageng Mangir memiliki ilmu kebal.

Hanya saja waktu itu, kelemahannya diketahui yakni dengan Tumbak Korowelang dengan syarat pusaka tersebut dipegang langsung oleh Ratu Mataram. Pembunuhan tersebut dilakukan juga dikarenakan tidak mau menerima pinangan Ratu Mataram. Akhirnya, pusaka tersebut terhunus di tubuh Ki Ageng Mangir. Sedangkan tokoh lainnya yang disebut bernama Eyang Wonosari merupakan tokoh asal Ponorogo yang juga melakukan pertapaan di atas puncak Gunung Wilis demi mendapat ilmu kasekten.

Berburu Harta

Selain cerita di atas, dari pengalaman posmo di lereng gunung Wilis, ada sebuah pertapaan yang terkenal dengan sebutan Goa Gambiran. Di situlah puluhan orang secara bergantian berduyun-duyun untuk memproses uang gaib. Ketika posmo mendatangi tempat itu, ada orang yang masih melakukan ritual. Dua orang dari daerah Kediri sendiri, sepasang suami istri dari bangkalan, satu orang dari Ngoro, mojokerto, satu dari Sampit Kalimantan, dan satu lagi dari Garut Jawa Barat. Sebelumnya, telah ada sekitar sepuluh orang turun dari pertapaan karena sudah mendapat wisik yang harus segera laksanakan.

Syarat yang harus dilakukan untuk memproses uang di sana hanyalah tekad. Madep mantep. Tidak boleh noleh-noleh. “Soalnya, di sini ini membutuhkan modal. Yang tidak sedikit. Sampai jutaan. Karena itu, saya tekankan kepada smuanya, harus berhasil. Jika tidak, bukan sukses yang ddapat, tetapi malah bangkrut,” kata maryanto sambil terkekeh. Lalu, buru-buru ia menegaskan, “Tetapi, kalau sukses…. Apalag artinya modal 2 sampai 5 juta disbanding jumlah pinjaman yang sampai milyaran. Tidak berbunga, dan jangka waktunya lama. Jika sekarang umur 30 tahun, usia 70 tahun baru punya kewajiban mengembalikan. Tentu sudah bosen menggunakan uang itu,’’ tambahnya.

Bagi mereka, iming-iming pinjaman mudah dan murah, telah menjadi harapan yang sangat besar. Karena itu, mereka sangat yakin akan keberhasilan yang akan di dapatkannya meskipun sebelum berhasil harus berkorban lebih dulu. Tidak heran apa bila tempat ini dijadikan salah satu jujugan  semedi hingga prosesi ngambil kunci ia jalani. Dengan harapan uang gaib yang ditampakan penunggu gua bias menjadi nyata. “Tapi Mas,  di sini ini memang harus tahu caranya. Sebab, banyak contoh sudah berhasil tapi gagal karena tidak tahu caranya. Uang sudah di lemari, tdak bisa diambil,” pungkasnya.HARIS/CAHYA