Wasiat KH. Maimun Adnan

752 dibaca

KH. Ahmad Maimun Adnan adalah sosok kharismatik pemangku Pondok Pesantren Al Ishlah Bungah, Gresik, Jatim. Beliau dilahirkan 22 Juli 1933 di Desa Tanggungan, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, Jatim. Kedua orang tua beliau bernama Kiai Adnan dan Nyai Robiah.
KH Ahmad Maimun Adnan yang juga merupakan santri dari Ponpes Langitan Tuban, Jatim, ini menjadi sumber inspirasi dalam kehidupan baik dari kesederhanaannya, istiqomahnya maupun kedalaman falsafah hidupnya.

Wasiat Salat Jamaah
Suatu ketika seorang lelaki tua buta menghadap baginda Nabi. Lelaki itu mengadukan kondisinya yang buta serta tidak memiliki orang yang bisa menuntunya ke masjid untuk menjalankan salat berjamaah, walau jarak rumah lelaki itu dengan masjid.
Dengan keadaan seperti itu, ia bertanya pada Nabi bolehkah dirinya tidak usah salat berjamaah di masjid, cukup salat di rumah bersama istrinya. Sebelum menjawab Nabi Muhammad SAW mengajukan pertanyaan pada lelaki buta itu.”Apakah kamu masih bisa mendengar panggilan suara adzan dari masjid?”
“Ya, saya masih bisa mendengar, Nabi,” jawab lelaki itu.
“Kalau begitu, kamu tetap harus salat berjamaah di masjid,” kata Nabi.
Begitulah salah satu riwayat yang menunjukan betapa pentingnya salat berjamaah di masjid. Bahkan Imam An-Nawawi, salah satu pentolan Madzab Syafiiyah dalam pendapatnya yang paling sahih menyatakan bahwa hukum salat jamaah adalah fardlu.
Bagi para alumni pondok, Kiai Maimun berpesan, jadi apapun di tengah masyarakat, jadi DPR, menteri, bupati atau apa saja harus tetap memprioritasnkan salat berjamaah.
“Tiga hari sebelum meninggal beliau berwasiat kepada saya,” jelas Bisyri kepada Majelis “Bis, jangan sampai masjid ini sepi dari jamaah salat lima waktu. Moh piye carane. dan wasiat itu beliau ulangi sampai tiga kali” lanjut suami dari putri Kiai Maimun yang nomor empat itu.
Dalam proses tarbiyah pada muridnya Kiai Maimun sangat menekankan pentingnya salat lima waktu, bahkan ada semacam tingkatan sangsi bagi santrinya yang tidak melaksanakan salat berjamaah, seperti dicukur gundul jika sebanyak tiga kali tidak ikut salat berjamaah.
KH. Ahmad Maimun Adnan  meninggal pada Selasa 17 Februari 2015. Sepeninggal KH. Maimun Adnan, tongkat kepemimpinan Ponpes Al Ishlah dilanjutkan oleh putranya Gus Mad panggilan akrab K.H Ahmad Thohawi Hadin.
Pesantren Al Ishlah yang dulunya berada di Desa Sampurnan, Bungah, Gresik (di tepi Bengawan Solo) dipindah ke Jl. Kramat Makam Santri No. 01 Bungah, Gresik, Jatim. Bahkan sejak beberapa tahun lalu mendirikan SMP Al Ishlah.**zub**