Mengislamkan Rakyat Kerajaan Kalingga

412 dibaca

Masyarakat Pesisir Tengah Jawa Tengah, memiliki wali bernama Wali Putih atau Syekh Fathutieh. Ia berdakwah mendapat dukungan dari penguasa Kerajaan Kalingga, Ratu Shima. Makamnya kini ada  di Sentul Alas Roban. Berikut ini kisah hidupnya ditulis Husnu Mufid posmonews.com. 

Syekh Fatkhutieh dikenal masyarakat dengan nama Wali Putih. Karena pakaiannya selalu menggunakan baju berjubah putih. Negeri asalnya dari Arab. Datang ke Indonesia melalui laut  dengan menggunakan kapal laut. Ia seorang pedagang sekaligus sebagai mantan tentara  kerajaan yang lolos dari perang saudara di Timur Tengah.

Kedtangannya di Indonesia dengan menggunakan kapal dagang  dan menyamar sebagai pedagang. karena waktu itu banyak pedagang-pedagang Islam yang berdagang di Indonesia. Khususnya di Pulau Jawa. Saata berkecamuk perang ia tampil sebagai seorang pahlawan  membela Ratu Shima yang berkuasa di Japara Jawa Tengah.

Hingga akhirnya diangkat sebagai Senopati Panglima Perang Kerajaan Kalinggi oleh Rayu Shima. Namun dibalik itu  ia bukan hanya seorang yang gagah perkasa dan sakti, melainkan memiliki  ketinggian ilmu agama Islam yang mumpuni. Dalam keseharian masih menyempatkan diri  berdakwah kepada masyarakat sekitar dan prajurit  dengan menggunakan akhlak yang mulia. Tanpa menggunakan paksaan maupun kekerasan.

Pengaruh Wali Putih memang cukup besara kepada Ratu Shima maupun kerajaan. Khususnya masalah keadilan. Sehingga hukum yang diterapkan menggunakan hukum yang berkeadilan. Siapapun yang melanggar akan dikenai hukuman, baik itu rakyat kecil maupun keluarga kerajaan.  Oleh karena itu, wilayah kerajaan di Jepara aman dan damai. Tidak ada kejahatan maupun pencurian.

Untuk membuktikan  tidak ada pencurian, maka Ratu Shima menaruh emas-emasan di tengah jalan. Selama beberapa bulan tidak ada yang berani mengambil. hanya adik ratu Shima yang berani mengambil. Mungkin dianggap sebagai  halremeh saja.  karena kakaknya yang  menetapkan hukum. Darisinilah akhirnya diketahui siapa pencuri bongkahan emas tersebut. ratu Shima pun menjatuhi hukuman potong tangan terhadap adiknya yang sengaja mencuri emas itu.

Setelah hukum benar-benar diterapkan di kerajaan Ratu Shima, maka Wali Putih melanjutkan perjalanan Syiar Islam ke  Pesisir Tengah  Jawa Tengah mulai dari wilayah Jeparan, Kendal, Batang, Pekalonga, Brebes hingga Brebes hingga berakhir di Alas Roban.

Wali Putih diperintahkan untuk menguasai dan mempertahankan wilayah Pesisir Tengah.Jawa Tengah.  Tepatnya disekitar  Alas Roban atau Hutan Oban. Karena dialas tersebut terkenal dengan  mahluk halusnya dan para penjahat yang sembunyi dan kemudian melakukan perampokan.

Di samping itu oleh Ratu Shima agar memasang  tumbal di hutan tersebut agar  para makhluk halus yang menghuni  mereda dan tidak mengganggu  kerajaan maupun rakyat. Sebab selama ini sering mengganggu kerajaan Kalingga yang baru didirikan.

Kedatangan Wali Putih menjadikan para makhluk gaib itu tidak bisa berbeuat banyak untuk melakukan perlawanan. Karena kalah dalam bertarung. dan  bersedia mematuhi Wali Putih dan tidak melakukan gangguan kepada rakyat sekitar Alas Roban.

Dengan berbekal karomah yang diberi Allah SWT, maka  Wali Putih  banyak sekali umatnya, baik itu manusia maupun mahluk halus. Karena masalah dakwah Islam dinomorsatukan. Kemudian ia meminta  kepada Ratu Shima untuk diizinkan menetap  di wlayah Alas Roban selamanya. Tujuannya untuk  menjaga  agar mahluk gaib tidak berbuat  onar mengganggu rakyat dan kerajaan Kalingga, maka aWal Putih atau Syekh Fathutieh sendiri menetap di  daerah yang tidak jauh dengan Alas Roban. Yaitu Desa Sido Muncul  atau yang sekarang  bernama Sentul. Permintaan itu direstui oleh ratunya.

Menetap di Alas Roban

Dengan menetapnya Wali Putih di Alas Roban, maka masyarakat  sangat senang dan tentram. Sebab, mereka telah menemukan  tuntunan  yang haq dan benar. Yaitu  agama Islam. Dalam dakwahnya beliau selalu berpesan  bahwa bila besok tanah Jawa sudah ada raja  yang kudungan gambar jagad, agama Islam akan pecah menjadi berbagai  aliran. Juga, makamnya akan dirawat anak cucu dan digunakan untuk membaca kalimat thoyibah. Saat itu juga terjadi perebutan antar pemimpin agama Islam (aliran Islam). Sebab  merasa yang paling benar, yang mana  mereka semua  pada gila jadi pemimpin.

Wali Putih menyebarkan agama Islam di wilayah Pesisir Tengah Jawa Tengahhingga usianya mencapai 78 tahun dan meninggal dalam usia tersebut. Namun sebelum meninggal dunia berpesan agar dimakamkan di lereng bukit Desa Sentul agar nantinya makamnya terselamatkan dari proyek jalan raya yang dibangun Gubernur Jenderal  Daendles dari kerajaan Belanda.   Rupanya Wali Putih ini mampu membaca tanda-tanda zaman ke depan. Maka, makamnya terselamatkan dari pembuatan jalan raya. Karena lokasi makamnya berada di lereng bukit yang penuh dengan rerimbunan pohon. ***