Adipati Muslim Kerajaan Majapahit

115 dibaca

Kabupaten Sidoarjo dulunya sebenarnya bernama Kadipaten Terung di bawah Kerajaan Majapahit. Adipatinya bernama Raden Kusen yang beragama Islam. Kini sisa-sisa peninggalannya masih ada. Meskipun banjir lahar Gunung Penanggungan telah menghancurkannya. Berikut ini hasil liputan Cak Mus posmonews.com.  

KRIAN merupakan salah satu wilayah daerah bekas kekuasaan Majapahit. Di wilayah barat Sidoarjo ini dulunya terdapat Kadipaten Terung, yang kini tepatnya berada di Desa Terung, Kecamatan Krian. Dulunya merupakan kadipaten bawahan kerajaan Majapahit.

Kini Desa Terung sendiri terbagi menjadi dua desa yakni Desa Terung Wetan dan Desa Terung Kulon. Jika di Terung Wetan terdapat makam Putri Ayu Oncat Tondo Wurung putrid Raden Kusen.  Sedangkan di  Desa Terung Kulon terdapat makam ayahnya yakni Raden Kusen adik dari Sultan Fatah dari kerajaan Demak Bintoro.

Raden Kusen  pernah memimpin Kadipaten Terung pada masa Prabu Brawijaya V ayah kandun raden Patah. Kadipaten Terung sendiri diperkirakan musnah setelah terkena aliran lahar dingin letusan gunung Penanggungan beberapa abad yang lalu bersamaan dengan runtuhnya kerajaan Majapahit yang pindah ke Kediri dibawah pemerintahan Girindawardhana.

Bukti-bukti di Krian Sidoarjo merupakan bekas Kadipaten Terung adalah diketemukannya makam Raden Kusen yang masih terpelihara keasliannya. Letaknya disamping masjid dan makam Putri Oncat Tondo Wurung. Juga bekas bangunan candi berbentul huruf L yang terbuat dari batu bata.

Khusus makam Raden Kusen tidaklah sulit untuk menemukamnya. Letaknya berada di belakang Masjid Baiturrohim, Desa Terung Kulon. Makamnya terbuat dari batu bata bersusun. Keasliannya masih terjaga. Warga benar-benar menjaganya dengan baik dan tidak berani membangun. Dinas purbakala memberikan papan pengumuman tidak boleh mengubah atau memindah. Karena akan mendapatkan hukuman dan denda.

Meski makam Raden Kusen bernilai sejarah, namun tak banyak pengunjung yang mengunjungi makam beliau. Hal ini karena masyarakat banyak yang belum mengetahui secara luas seorang adipati zaman kerajaan yang beragama Islam.  Berbeda dengan makam putrinya Roro Oncat Tondo Wurung yang lokasinya sekitar 2 kilometer.

Menurut Anas, juru pelihara makam ini, Raden Husen adalah anak dari hasil pernikahan Retno Subanci (putri Cina) dengan Prabu Arya Damar, adipati Palembang. Perkawinan itu merupakan hadiah dari Prabu Brawijaya V (Kertawijaya). Bagi Raden Husen, Prabu Brawijaya V merupakan kakeknya. Raden Husen termasuk seorang adipati yang setia kepada Kerajaan Besar Majapahit.

Di akhir masa kejayaannya kerajaan yang beraliran Hindu Budha ini pernah mendapatkan serangan dari Kesultanan Demak dibawah pimpinan Raden Patah. Raden Husen sebagai pemimpin Kadipaten Terung merasa terpanggil untuk mengatasi serangan itu. Apalagi Kadipaten Terung termasuk wilayah taklukan Majapahit dibawah kekuasaan Brawijaya V (Girindrawardhana) yang tidak lain adalah kakeknya sendiri.

Dengan kesaktian Raden Husen, akhirnya Sunan Ngudung sebagai pimpinan pasukan Demak Bintoro berhasil ditaklukan. Tombak sakti Raden Husen berhasil melukai sang senopati perang yang tak lain adalah ayahanda Sunan Kudus. Konon tombak pusaka Raden Husen ini tak bisa dilepaskan hingga akhirnya jasad Sunan Ngudung dikebumikan bersama tombak yang menancap tadi.

Ada dua makam di kompleks pusara Raden Husen. Satu makam di sebelahnya konon merupakan petilasan untuk mengenang senopati perang Kesultanan Demak yang dikalahkan Raden Husen. Konon makam tersebut bekas ceceran darah Sunan Ngudung, ayah Sunan Kudus yang menjadi panglima tentara Demak.

Hilangnya Pagar Bata

Dari pantauan Posmo, di lokasi makam Raden Husen terbuat dari batu bata kuno. Mengingat saat itu pengaruh Majapahit masih terasa meski sudah memudar. Batu nisan juga terbuat dari bata merah dengan sedikit ornamen. Tidak diketahui secara pasti angka tahun yang terpahat di batu nisan itu. Untuk makam Raden Husen tumpukan bata terlihat lebih tinggi. Sedangkan makam di sampingnya dibuat agak rendah.

Anas mengatakan dulunya makam itu berdiri pagar batu merah kuno setinggi 3 m. Tingginya membujur ke utara hingga kebun bambu membelok ke barat kemudian membelok ke selatan di samping kebun bambu yang amat lebat dan di halamannya ada 2 pohon Bunga Tanjung yang amat angker.

Tapi sayangnya pagar yang memiliki nilai sejarah itu hilang. Karena digunakan sebagai bahan bangunan masyarakat setempat. Sedangkan sebagain tembok yang mengelilingi makam tergerus termakan zaman akibat lapuk dan pengrusakan oleh manusia.

Di dalam pagar tersebut terdapat 5 cungkup petilasan, tetapi saat ini hanya tinggal 2 cungkup petilasan. Sedangkan yang ke 3 cungkup petilasan lenyap secara misterius oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Ke 3 cungkup petilasan tersebut tediri dari 2 makam datar, 1 makam kecil panjang 1 m. ukuran batu bata panjang 30 cm, tinggi 6,5 cm dan lebar 19,5 cm.

Adanya pengrusakan bekas Kadipaten dan pagar makan, bukan hanya oleh lahar Gunung Penanggungan yang meletus, akan tetapi  oleh manusia yang tidak mengenal sejarah. Mereka seenaknya saja menghilangkam tiga makam bercungkup dan pagar yang mengelilingi makam Raden Kusen.

Pihak Dinas Purbakala hanya dapatmenyelamatkan bagunan makam Raden Kuses dan putrinya Oncat Tondo Wurung yang hingga kini masih tetap ada dan bisa dilihat generasi muda dari zaman ke zaman. Sehingga sejarah Adipati Kerajaan Majapahit yang beragama Islam masih tetap terlestarikan..

Selain adanya situs  makam Adipati kerajaan Majaphit, di Desa Terung Wetan juga ditemukan candi sekitar bulan april 2012. Candi tersebut ditemukan oleh Sahuri saat hendak membuat rumah. Tak hanya candi, tahun 2007 Sahuri juga menemukan Sumur Gentong dan Sumur Manggis yang lokasinya tak jauh dari makam Raden Ayu Putri Oncat Tondo Wurung. Kedua sumur tersebut hingga kini masih dipercaya masyarakat memiliki khasiat atau keberkahan.

Menurut legenda Makam Raden Ayu Putri Oncat Tondo Wurung yang berkembang di masyarakat, menuturkan bahwa Raden Ayu Putri meninggal dan jasadnya dihanyutkan di sungai. Raden Ayu Putri konon memiliki nama lain seperti R.A. Putri Sundari Kenconowati atau R.A Cempokowati atau Endang Lukitosari. Sebagai putri dari Adipati Terung, beliau dikenal sangat barsahaja. Beliau gadis yang sangat menyukai tanaman bunga tanaman bunga yang paling disukainya adalah tanaman bunga pandan wangi. Serta setiap sore beliau selalu memetik bunga. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here