Pasukan Gajah Dikutuk jadi Batu

256 dibaca

Sunan Bejagung merupakan wali memiliki karomah cukup tinggi. Dia juga  mampu menjadikan anak-anak Raja Majapahit menjadi muslim. Boleh dibilang kemampuannya sama dengan Walisongo. Berikut ini kisahnya yang ditulis Husnu Mufid dari posmonews.com. 

Setelah Patih Barat Katigo tiba di istana kerajaan, patih melaporkan kepada raja Majapahit. Mendengar  ketidakberhasilannya itu, menjadikan sang raja naik pitam dan marah. Kemudian  Raja Majapahit mengerahkan ratusan prajurit dengan menunggang  gajah. Mengetahui hal itu, Sunan Bejagung  mengambil sebatang ranting pohon dan membuat garis melingkari wilayah pesantrennya.

Atas karomah yang dimilikinya, prajurit Majapahit tidak melihat apa-apa saat mendekati pesantren di Bejagung. Bahkan mereka bersama gajahnya mendadak menjadi batu. Kini batu itu dinamakan Watu Gajah. Lokasinya di Selatan Pesarean Bejagung. Karena batu-batunya memang sangat mirip barisan gajah. Setelah peristiwa penyerbuan itu, ada anak raja Majapahit berguru kepada Sunan Bejagung. Anak raja itu  kini mendapat sebutan nama Sunan Bejagung Kidul. Dengan demikian, ia mampu mengislamkan seorang patih dan putra raja kerajaan Majapahit.

Berawal dari kedatangan Pangeran Kusumo Hadiningrat atau Pangeran Sudimoro ke perdikan Bejagung atas perintah Syech Jumadil Kubro untuk memperdalam ilmu ketauhidan kepada Syeh Asy’ari. Karena wara’i-nya, lantas putra keempat Prabu Brawijaya atau Prabu Hayam Wuruk ini dijadikan menantu oleh Sunan Bejagung untuk menikahi salah seorang putrinya, Nyai Faiqoh.

Dalam perjalanannya, putra mahkota Majapahit meninggalkan gemerlap cahaya istana dan memilih menjadi santri Sunan Bejagung. Akibat konflik perebutan kekuasaan antara dua bersaudara Pangeran Wirabumi dan Putri Kusuma Wardani, kemudian berganti nama menjadi Hasyim Alamuddin atau dikenal dengan gelar santrinya Pangeran Penghulu.“Perdikan Bejagung Kidul inilah yang dulu menjadi pusat penyebaran agama Islam dengan segala aktifitas pesantrennya yang dilakukan oleh Syech Asy’ari,”  jelas Kiai Matin penulis Babad Bejagung Tuban.

Makamnya Dikeramatkan

Setelah semua tugas dakwah diserahkan kepada menantunya, kemudian Sunan Bejagung memilih uzlah (pindah) ke perdikan Bejagung Lor sampai akhir hayatnya. Sayyid Abdullah Asy’ari bermukim di Desa Bejagung, Sunan Bejagung Lor Tuban, setelah wafat di makamkan di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, Tuban, Jatim. (sekitar 2 km Selatan Kota Tuban).

Kini makamnya banyak diziarahi. Khususnya Jumat Wage. Lokasi makamnya cukup luas. Masih banyak pepohonannya, setiap orang ziarah merasa nyaman dan tentram. Masyarakat  mempercayai kalau lokasi makam memiliki kekeramatan cukup tinggi. “Secara tradisi setiap peziarah melakukan ziarah  di makam Sunan Bejagung harus dimulai dari makam Bejagung Kidul terlebih dulu. Meski secara personal status maqam kewaliannya lebih tinggi dari Bejagung Lor,” kata Kiai Matin.‎

Konon, pada era imperalisme Eropa di Tanah Jawa, tak ada satu pun orangg dari Eropa bisa memasuki kawasan Makam Modin Asngari di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding Tuban. Dalam riwayatnya  wilayah Bejagung pun tidak pernah terjamah penjajahan Belanda.

Keramat tanah Bejagung masih bertahan. Tentara NICA yang mendarat di Pantai Glondonggede dan berhasil menguasai Kota Tuban, tetap tak mampu menjamah Bejagung. Bejagung pun tetap menjadi wilayah aman bagi para pengungsi dan pejuang. Memang, tidak sepopuler makam Sunan Bonang. Tapi jangan salah, selain ramai dikunjungi, terlebih pada Jumat Wage, makam ini juga dianggap bisa mendatangkan berkah. ***