Mengenal Dinasti Batanjeruk di Karangasem

319 dibaca

I Gusti Oka mempunyai 3 isteri, 2 orang dari prebali, seorang lagi dari treh I Gusti Akah. Dari isteri prebali lahir: I Gusti Wayahan Teruna, I Gusti Nengah Bebeg, I Gusti Ktut Landung, I Gusti Marga Wayahan, dan I Gusti Wayahan Bantas. Dari isteri treh I Gusti Akah lahir I Gusti Nyoman Karang.

I Gusti Nyoman Karang, Raja III Karangasem 1611 – 1661 M

I Gusti Oka setelah tua, meninggalkan Batu Aya pergi bertapa di Bukit Mangun mengikuti jejak Danghyang Astapaka, sampai wafat di sana. Kekuasaan diserahkan kepada puteranya I Gusti Nyoman Karang, sebagai Raja ke-3 Karangasem. I Gusti Nyoman Karang menetap di Batu Aya.

I Gusti Anglurah Ketut Karang, Raja IV Karangasem 1661 – 1680 M

I Gusti Nyoman Karang menurunkan seorang putera bernama I Gusti Ketut Karang, lahir dari seorang ibu treh I Gusti Tusan. I Gusti Ketut Karang kemudian menggantikan ayahnya menjadi Raja ke-4 Karangasem, dengan abhiseka I Gusti Anglurah Ketut Karang.

I Gusti Anglurah Ketut Karang membangun sebuah istana bernama Puri Amlarajja (sekarang Puri Kelodan) pada Isaka 1583 (1661 M). Puri Amlarajja dan Pemerajan Pajenengan dibangun di sebelah Utara Batu Aya di pisahkan oleh tukad Telabah.

Sejak saat itu kekuasaannya semakin berkembang dengan batas wilayah, sebelah Utara: desa Taru Kunyit hingga Tauka, sebelah Timur: desa Bukit, sebelah Selatan: Rurung Sumpek Padasan Desa Segarakaton, sebelah Barat: Telabah Jasri, bagian dari Tukad Jerengga.

Tri Tunggal I, Raja V Karangasem 1680 – 1705 M

I Gusti Anglurah Ketut Karang menurunkan 3 orang dan seorang puteri. Ketiga putera-puteri tersebut adalah: I Gusti Anglurah Wayan Karangasem, I Gusti Anglurah Nengah Karangasem, dan I Gusti Ayu Nyoman Rai Ratna Inten, dan yang bungsu I Gusti Anglurah Ketut Karangasem. Ketiga puteranya inilah yang kemudian menggantikan ayahnya, memimpin secara kolektif kerajaan Karangasem. I Gusti Anglurah Nengah Karangasem menjalankan pemerintahan sehari-hari, didampingi kakaknya dan adiknya.

I Gusti Anglurah Ketut Karangasem menjabat sebagai senepati. Ia memimpin laskar Karangasem menyerang dan menguasai Lombok, mengalahkan kerajaan Seleparang dan Pejanggi pada tahun 1692 M.

I Gusti Anglurah Made Karang, Raja VI Karangasem 1705 – 1738 M

I Gusti Anglurah Wayan Karangasem berputera I Gusti Banyu Anyar. I Gusti Banyu Anyar berputera  I Gusti Wayan Gelumpang. I Gusti Wayan Gelumpang berputera I Gusti Made Gelumpang, dan seterusnya menurunkan keluarga di Gelumpang Karangasem dan di Gubug Batu Mataram Lombok.

I Gusti Anglurah Nengah Karangasem berputera seorang bernama I Gusti Anglurah Made Karang.  I Gusti Anglurah Made Karang kemudian mengantikan Tri Tunggal I, menjadi Raja ke-6 Karangasem.

I Gusti Ayu Nyoman Rai Ratna Inten suaminya bergelar Ida Bhatara Gde Gunung Agung, menurunkan putera yang bergelar Ida Bhatara Alit Sakti. Ida Bhatara Alit Sakti diistanakan di Pura Bukit, 11 Km Timur Laut Amlapura.

I Gusti Anglurah Ketut Karangasem, yang bungsu menaklukkan lombok pada tahun 1692 M, menurunkan 9 putera-puteri. Putera tertua bernama I Gusti Gde Karangasem, tetap tinggal di Karangasem. Putera-puteri yang lain tinggal di beberapa tempat Lombok, seperti: di Pegesangan, Pagutan, Kediri, dan Sengkongo.

I Gusti Anglurah Made Karang berputera 6 orang, 4 putera, dan 2 puteri, yaitu I Gusti Anglurah Made Karangasem Sakti, I Gusti Tegeh, I Gusti Nyoman Rai, I Gusti Ktut Kaba-kaba (menurunkan keluarga di Puri Kawan Amlapura sekarang), I Gusti Ayu Karang, dan yang bungsu I Gusti Luh Kirna.

Putra sulung lahir dari prami bernama I Gusti Anglurah Made Karangasem Sakti, bergelar Sang Atapa Rare karena bertingkah laku seperti anak kecil. Disebut sakti karena berbudi luhur, menekuni ajaran Danghyang Astapaka dan mempunyai kemampuan untuk melihat kejadian yang akan datang. Kelakuannya seperti anak kecil ini mendatangkan maut baginya. Ia tidak berambisi menjadi raja. Ia pernah pergi dan menyepi di desa Sangeh, wilayah kekuasaan kerajaan Mengwi. Atas ijin raja Mengwi, ia membangun sebuah parahyangan yang sekarang bernama Pura Bukit Sari.

I Gusti Anglurah Made Karangasem Sakti juga membangun komplek istana baru yang bernama Puri Kaleran, karena letaknya di sebelah Utara dari Puri Amlarajja. Puri ini dibangun sekitar tahun 1750 M, kemudian disebut Puri Ageng, karena menjadi tempat tinggal yang memegang pemerintahan berikutnya. Sedangkan Puri Amlarajja kemudian disebut sebagai Puri Kelodan, karena terletak di Selatan Puri Ageng, menjadi Karang Kepatihan.

Pada suatu hari I Gusti Anglurah Made Karangasem Sakti pergi ke istana Gelgel. Pada saat menghadap Cokorda Jambe, ia tidak mampu menahan kencingnya. Kejadian ini dipandang sebagai penghinaan. Cokorda Jambe memerintahkan untuk membunuh Sang Atapa Rare. Peristiwa pembunuhan terjadi di Bulatri, sebelah Timur desa Kusamba, sejak itu ia bergelar Raja Dewata Bulatri.

Adik I Gusti Anglurah Made Karangasem Sakti, I Gusti Ayu Karang diperisteri oleh Ida I Dewa Agung dari Puri Semarapura, Raja II Klungkung, bergelar Ida I Dewa Agung Isteri Karang Di Dalem. Upacara pernikahan berlangsung di Karangasem. Bulan madu juga di Karangsem, mereka bertempat tinggal di suatu komplek yang disebut Puri Dalem (sebelah Utara Pasar Karangasem sekarang). I Gusti Ayu Karang ini tidak menurunkan putra, karena itu ia mengangkat anak dari suaminya yang beribu dari Pegambuhan bernama Ida I Dewa Agung Gede, beristana di Puri Denpasar Klungkung.

I Gusti Luh Kirna dikawinkan dengan I Gusti Wayan Abian, yang dijuluki I Gusti Mantu Silit Mategil, karena kesaktiannya, berkuasa di daerah Kuncaragiri (sekarang Sebetan) dan sekitarnya. Sang menantu tidak mau tunduk kepada kekuasaan Karangasem. Untuk itu I Gusti Anglurah Made Karang tangkil ke Pura Bakak, dekat Sebetan. Ia mohon petunjuk agar dapat menundukkan menantunya dan menguasai daerah Sebetan. Dari petunjuk itu, ia disuruh datang ke Gerya Jungutan (Bungaya). Di sana ada Pendeta sakti keturunan Ida Pedanda Sakti Abah, yaitu Ida Pedanda Gde Wayan Tamu. Ida Pedanda Gde Wayan Tamu adalah nabe dari Ida Pedanda Wayan Penatih Sakti dari Sebetan, sehingga ada nama Gerya Jungutan di Sebetan. Sang nabe menunjuk nanak-nya untuk mengadu kesaktian dengan I Gusti Mantu beserta laskarnya. Terjadi pertempuran di sebelah barat tukad Buwu. Laskar I Gusti Mantu dipukul mundur sampai di Banjar Kreteg Kangin di Sebetan. Di sini terjadi perang habis-habisan tiga hari tiga malam. I Gusti Mantu akhirnya tewas.

Diceritakan kembali riwayat Dewata Ring Bulatri. Ia seperti Bhagawan Bhisma menunggu saatnya tepat untuk meninggalkan jasadnya, setelah ditikam oleh beberapa orang suruhan Dewa Agung Jambe, sambil menunggu putera-puteranya datang. I Gusti Anglurah Nyoman Karangasem kemudian datang menemui ayahnya yang sekarat. Ia sempat menerima pesan-pesan kediatmikan (pewisik), sebelum menghembuskan napas terakhir.

Peristiwa ini memicu perang (pepet) antara Karangsem dengan Klungkung pada tahun 1705 M. I Gusti Anglurah Ketut Karangsem putera bungsu, menggiatkan persiapan perang. Sebagai panglima perang ditunjuk I Gusti Nengah Sibetan memimpin laskar Karangsem. Pertempuran sengit terjadi di desa Tangkas. Cokorda Jambe dan Panglima laskar Klungkung dipimpin oleh Ida Ktut Batulepang gugur dalam pertempuran ini. Dengan gugurnya Cokorda Jambe, ketegangan kedua belah pihak menjadi reda.(bersambung)