Dijaga Ular Berkepala Manusia

174 dibaca

DENGAN luas mencapai 9.000 hektare, bendungan ini dimanfaatkan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), dan penampungan air hujan saat kemarau. Selain itu, waduk bening ini juga berfungsi sebagai tandon air, agar saat hujan air tidak sampai meluber dan membanjiri warga yang ada disekitar waduk. Sejak 2000-an, jadi objek wisata keluarga, pemancingan dan bumi perkemahan.

Di sekitar waduk, oleh Jasa Tirta sudah dibangun tempat istirahat keluarga yang berwisata di waduk dan juga warung-warung makanan.  Buat anak-anak, ada juga permainan anak dan ketangkasan. Tidak hanya itu, di tepi waduk bening, juga banyak berjejer untuk mancing ikan. Selain berfungsi sebagai bendungan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air, bendungan ini juga berfungsi sebagai obyek wisata.

Dari Kota Madiun, perjalanan sekitar 1 – 1,5 jam menggunakan kendaraan umum. Jalanan menuju ke Waduk Bening Widas termasuk sangat mudah dijangkau berbagai jenis kendaraan mulai dari sepeda motor, mobil pribadi, sampai bus antarkota jalan raya Madiun–Nganjuk.

Dari arah Nganjuk, tidak perlu sampai Madiun lebih dulu. Begitu memasuki kawasan hutan jati Saradan, bisa langsung mengikuti petunjuk di tepi jalan yang akan memandu sampai ke Waduk Bening Widas. Bagi yang tidak membawa kendaraan pribadi, banyak kendaraan umum. Semua bus mini ataupun bus besar ke arah Madiun – Nganjuk atau Surabaya (dan dari arah sebaliknya) akan melewati Waduk Bening Widas. Dari pintu gerbang waduk masih perlu berjalan kaki sekitar 500 m untuk sampai ke kawasan waduk utamanya.

 Manusia Berbadan Ular

Keindahan alam yang ditawarkan waduk inilah yang biasanya menjadi alasan kenapa orang-orang datang. Tetapi, pengunjung harus juga mawas diri, di balik pesona keindahan yang ditawarkan. Waduk Bening ada sisi mistiknya. “Pengunjung harus-hati-hati. Meskipun ada pengawasnya, kita tidak boleh sembrono.  Sebab penunggu waduk setiap tahun pasti meminta tumbal nyawa,” kata Sucipto—warga Saradan.

Menurut Sucipto,  warga sekitar  sering melihat ada orang tengelam.  “Lelembut waduk juga sering kali meminta tumbal nyawa. Di waduk ini dijaga ular berkepala manusia,”  ungkap Suciipto.

Laki-laki paruh baya yang ditemui saat mancig menceritakan, bahwa pernah ada anak dari Desa Sekar Putih, Nganjuk, saat memancing di waduk, ia tidak mendapatkan ikan. Malah melihat hal aneh itu. Dan, dari dalam waduk muncul seekor ular besar berkepala manusia.

 Larung Saji

Agar “penunngu” waduk tidak mengganggu. Warga Saradan pun melakukan ritual dengan mengarak tumpeng raksasa hasil bumi. Tumpeng besar itu berupa sayuran, buah-buahan, serta hewan ternak. Ritual itu dilakukan dari Pendopo Waduk Bening (Waduk Widas) menuju ke tengah waduk. Tumpeng raksasa berisi pelet makanan ikan serta hasil bumi itu di larung ke tengah Waduk Bening.

Sebelum dilarung, ribuan pengunjung dari Kabupaten Madiun, Ngawi dan Kabupaten Nganjuk tumpah ruah menyaksikan acara larung sesaji yang digelar setiap bulan Muharram atau satu Suro. Dalam acara ritual juga disuguhkan kesenian tradisional. Yakni grup reog dan tari dongkrek yang merupakan kesenian khas asli Madiun. Larung ini, dipimpin pemuka adat setempat. Acara diawali dengan doa di pelataran sekitar Waduk.

Ketua Panitia Acara Larung Sesaji, Nyoto Marjoko mengatakan larung sesaji ini dilakukan untuk melestarikan tradisi sebagai adat budaya Jawa yang sudah diturunkan nenek moyang sejak dahulu. Sekaligus, sebagai wujud rasa syukur para petani ikan atas melimpahnya hasil tangkapan ikan di Waduk Bening itu. “Kegiatan ini memang sudah menjadi agenda tahunan sebagai upaya melestarikan tradisi sekaligus sebagai wujud syukur. Selain itu, acara larung sesaji diharapkan mampu menarik wisatawan untuk berkunjung ke Waduk Bening,” tegasnya. ***