Berita

Wow, Ada Prototipe Candi Brahu di Desa Waru Ngering, Kedungpring, Lamongan

▪︎ LAMONGAN – POSMONEWS.COM,-
Perjalanan melewati jalur dari kota Lamongan menuju barat, hingga jalan raya Babat-Jombang, sesampai di Pasar Kecamatan Kedungpring selangkah ke arah barat, sampailah di Desa Waru Ngering yang viral karena balai desanya yang cukup unik dan eksotik.

Lokasinya di jalan poros atau jalur utama desa sehingga gampang dilihat. Saat melintas di jalur ini. Jika Anda ingin rehat, bisa singgah sejenak untuk melihat keunikannya. Bahwa tidak seperti biasanya, sebuah balai desa dibangun sengan arsitektur kuno layaknya bangunan era kerajaan.

Adalah Mas Kades Medianto, yang menginisiasi pembangunan balai desa yang cukup unik ini. Saat periode pertama masa kepemimpinannya (2013-2019), ia menjabat kades, terbersit ide untuk ngleluri bangunan bersejarah peninggalan era leluhur keraton di Nusantara, khususnya Jawa Timur.

Dalam perbincangan dengan media ini, Mas Kades Medianto menuturkan sehingga terwujudnya bangunan balai desa ini. Konon diilhami saat ia berkunjung di situs-situs sejarah di Trowulan, Mojokerto. Dan pada satu titik, ia berada di Candi Brahu.

Ya, Candi Brahu ini merupakan peninggalan bersejarah Kerajaan Majapahit yang bercorak Buddha yang diyakini sebagai tempat kremasi atau pembakaran jenazah raja-raja Majapahit.

Bangunan yang juga di kawasan Trowulan, seperti Candi Tikus dan Candi Bajang Ratu ini juga disebut salah satu candi tertua di situs Trowulan, dibangun sebelum puncak kejayaan Majapahit. Yakni sejak abad ke-10 (tahun 939 M) masa Empu Sindok.

Syahdan di
Candi Brahu ini Kades Mediyanto bersua dengan salah seorang tokoh juru kunci, pendeta atau sesepuh di sana. Seperti ada energi spiritual, ia mengungkapkan dan minta didoakan keinginannya bisa memangun balai desanya itu seperti  bangunan dengan atsitektur Majapahitan. Juga, dilengkapi dengan bangunan candi Brahu dan Bajang Ratu.

“Tiba-tiba  muncul ide, dan keinginan saya itu. Lalu, tokoh ini mengatakan bisa, namun jangan sampai harus menyamai, kalau membuat menyerupai dari bentuk dan ukurannya tidak lah mengapa. Alhamdulillah, dengan dana yang ada saya bisa  mewujudkannya, ” urainya.

Kerja keras pun di mulai, hingga terbangun balai desa Waru Ngering ini dengan corak dan gaya berbeda. Dari depan nampak pagar dan diapit dua gapura megah kanan kiri, masuk ada prototipe Candi Bajang Ratu, lalu Pendopo Utama, kanan kiri Rumah Samping untuk Dinas dan Pelayanan. Di belakang pendopo, disambung dengan rumah Joglo yang cukup Indah, baru di latar belakang berdiri kokoh prototipe Candi Brahu.

Masih menutut Mas Kades yang juga merupakan konten kreator  ini menjelaskan, ide untuk membangun balai desa yang klasik ini juga sebagai ikon desa. Sebagai salah satu wahana wisata desa mandiri yang multi fungsi.

“Sering lho mas ada beberapa dinas yang minta izin untuk rapat di sini. Juga beberapa kegiatan tingkat kecamatan. Ada juga orang dari luar kota, minta izin untuk sesi pemotretan pra wedding, para konten kreator, tugas fotografi mahasiswa, siswa SMA dan SMP untuk membuat Foto Album sebelum Wisuda atau kelulusan, hingga anak-anak muda yang gemar selfi, dll.

Mereka menemukan wahana yang tepat di sini, dan gratis daripada di resto atau rumah makan vintage harus membayar ratusan ribu hingga jutaan, ” sambung kades yang memiliki akun tiktok khusus seni langen tayub bertitel *ud. sumber galang* ini.

Hal yang bukan penuturan semata, secara kebetulan siang itu ada serombongan siswi SMP Negeri 1 Kedungpring, sebut saja Ananda Sekar, dkk yang mendapat tugas untuk membuat konten berpidato berbahasa Jawa dengan latar bangunan klasik. Mereka tampak antusias membuat tugas videografi itu dengan begron balai desa yang tampak seperti di sebuah kerajaan masa lalu itu.

Namun, pasca musibah angin puting beliung tahun 2024 lalu, membuat rumah joglo di belakang pendopo utama mengalami kerusakan. Bangunan yang cukup eksotis  menyambungkan antara Candi Bajang Ratu, Pendopo dan Candi Brahu yang dibangun dengan biaya berkisar 200 juta itu rusak parah. Akhirnya dirobohkan dan untuk sementara materialnya disisihkan ke tempat aman.

“Ya, barangkali ada pihak-pihak dinas kebudayaan atau lainnya merevitalisasi. Kita masih punya foto-foto dokumentasinya yang asli. Atau barangkali Bapak Bupati Lamongan  bisa membantu memfasilitasi ke otoritas terkait di daerah atau pusat,” harapnya.

Dari pantauan media ini, memang terlihat bekas joglo yang dulu cukup indah tersebut. Kini tampak kosong, sedang di area belakang Candi Brahu kini mulai berdiri bangunan KDMP. Area yang cukup luas dan potensial ini tentunya membuat pemikiran Mas Kades Mediyanto, akan mefungsikannya sebagai wahana wisata dan sentra kuliner.

“Itu pemikiran saya jika di depan sudah tertata, menjadi bagian wisata maka di area belakang bisa dibangun sentra kuliner, juga beberapa gazebo untuk pengunjung. Mudah-mudahan itu bisa tercapai untuk mendongkrak UMKM, dengan potensi sentra kuliner, plus produk unggulan di desa Waru Ngering yakni tempe dan krupuk tempe, ” tukasnya.▪︎[DANAR SP]

Related Articles

Back to top button