Melihat Tradisi Bali dalam Konservasi Kearifan Lokal
▪︎BALI-POSMONEWS.COM,-
Masing-masing masyarakat di Indonesia memiliki kearifan lokal dalam melestarikan alam. Salah satunya masyarakat Bali. Mereka punya komitmen moral-kultural sangat kuat di dalam menjaga harmoni hubungan manusia dengan Tuhan, alam lingkungan, serta sesama (Tri Hita Karana).
Hal ini dapat dimaknai sebagai hubungan yang terkait satu sama lain dan mendorong terbentuknya kontrol sosio-kultural dalam tata kelola bentang alam dan lingkungan. Harapannya mampu menjaga dukungan sumberdaya untuk kesejahteraan bersama.
Masyarakat Bali juga menunjukkan kearifan lokalnya dalam pemanfaatan ruang menurut konsep Tri Mandala. Konsep ruang yang memiliki relevansi kuat dengan konfigurasi medan wilayah Bali yang didominasi sistem vulkan.
Aktualisasi Tri Mandala terlihat dengan ditetapkannya hutan-hutan di bagian hulu DAS (Daerah Aliran Sungai) sebagai “hutan angker” yang steril dari campur tangan manusia, kecuali untuk kegiatan peribadatan dan sama sekali tidak mengusik berbagai atribut yang ada di dalamnya.
“Hutan angker” merupakan “Menara Air”. Ia berperan mengendalikan daya rusak air. Juga menjamin ketersediaan air untuk berbagai penggunaan. Pengembangan sistem sawah berteras di lereng terjal atau terasering seperti banyak dijumpai di Ubud, Jatiluwih, dan daerah lainya tidak hanya menyuguhkan fitur alam yang indah dan memiliki estetika wisata yang tinggi. Namun, ia juga meningkatkan retensi air.
Sistem Subak dalam pengairan sawah juga menggambarkan kearifan lokal yang menakjubkan. Ini sebuah tata kelola air berdasarkan keterbatasan luas wilayah serta kondisi curah hujan dan dikontrol secara kuat oleh konfigurasi topografis yang ada. Hal tersebut akan mendorong ketahanan air dan ketahanan pangan. Selain itu, menjaga kestabilan bentang alam dalam konteks hubungan hulu-hilir berdasarkan pendekatan bentang alam berbasis Daerah Aliran Sungai.
Ada pula konsep Nista Mandala. Sebuah ruang dilakukannya recycle atau daur ulang terhadap limbah dan sampah sebagai solusi penting permasalahan lingkungan.
Maka, acara-acara kebudayaan seperti pentas seni dan pameran Sastra Saraswati Sewarna 2022 ini akan mendorong orientasi berpikir pengunjung ke arah vektor yang sama dalam mengedepankan nilai-nilai budaya untuk pengelolaan sumberdaya.
Agenda ini diharapkan akan membentuk dan memantabkan kohesi sosial yang mampu merajut multiperspektif dan menjadi strategi kultural untuk menjaga dan memperkuat kelestarian mega biodiversitas melalui tiga pilar konservasi. Yaitu, perlindungan sistem penyangga kehidupan, pelestarian keanekaragaman hayati, sumber daya genetik dan ekosistemnya, serta pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Dengan luas Kawasan hutan sebesar 23% dari wilayah Provinsi Bali, maka strategi kultural diharapkan mampu menjaga dan mengevaluasi peran hutan dalam stabilisasi bentang alam agar bisa menjawab tren peningkatan tekanan terhadap alam yang terjadi. Strategi kultural tersebut menjadi kunci utama dalam mendorong kerja sama dengan multi-inter-discipline, multi-stakeholders engagement, multi-sector, multi actor; dan dalam konteks multiple-ecosystem (atau compound).
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr. Ir. Siti Nurbaya, M.Sc dalam sambutannya di acara pentas seni dan dan pameran Sastra Saraswati yang diprakarsai oleh Yayasan Puri Kauhan Ubud ini, Sabtu (14/5/22), mengajak berkolaborasi, bergotong royong, dalam menjaga kelestarian lingkungan. Tidak mungkin satu perspektif tunggal cocok untuk menyelesaikan semua permasalahan pada suatu wilayah atau kawasan bentang lahan.
Untuk itulah, Pentas Seni dan budaya ini diharapkan menjadi momentum penting untuk menyelaraskan, bersinergi, serta memastikan perjalanan kita menuju masa depan Bali dan Indonesia yang secara ideal dibutuhkan.
’’Bali telah secara nyata menyuguhkan percontohan tata kelola bentang alam (landscape management) dengan tingkat harmoni yang selalu terjaga. Menjadi percontohan penting untuk tata kelola bentang alam di wilayah tanah air Indonesia,’’ pungkas Menteri Siti.
**(ary)



