Sarasehan Nasional Merajut Kebhinekaan Nusantara di Desa Pancasila
▪︎LAMONGAN-POSMONEWS.COM,-
Dengan mengusung tema “Merajut Kebhinekaan dari Desa menuju Nusantara Jaya”, komunitas yang menamakan Gerakan Pancasila, akan menggelar Sarasehan Nasional untuk memperingati hari kelahiran Pancasila 1 Juni, di “Desa Pancasila” Desa Balun, Kecamatan Turi, Kab Lamongan, Jawa Timur, Selasa (7/6/2022).
Sarasehan di gelar di Balai Pertemuan GKJW Desa Balun dengan menghadirkan beberapa pembicara ternama, Emanuel Ebenezer (Ketua Relawan Jokowi), Priyo (Budayawan), Pdt Mahardika (Tokoh Keagamaan) yang akan dipandu moderator Bagus S C (Praktisi Sosial).
Sarasehan Kebhinekaan yang dihelat mulai Pukul 18.00 WIB ini direncanakan juga dihadiri Bupati Lamongan, H.Yuhrohnur Efendi, MBA sebagai keynote speaker.
Data yang dihimpun posmonews.com perihal dipilihnya Desa Balun sebagai tempat sarasehan ini karena desa unik di Lamongan ini dianggap sebagai prototipe karagaman, toleransi layaknya Bali kecil dalam bingkai Indonesia.
Desa Balun di Lamongan memiliki kekhasan sebagai contoh keragaman, kerukunan, toleransi, dan kegotong royongan, dll sebagaimana yang tercakup dalam sila-sila Pancasila.
Desa Balun di Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan ini juga sering dijuluki Desa Wisata Pancasila, karena sikap masyarakatnya yang menjunjung persatuan meski berbeda keyakinan. Karena di desa ini didiami oleh pemeluk 3 agama yakni Islam, Hindu, dan Kristen.
Uniknya, mereka hidup saling berdampingan, rukun, dan sangat menghargai satu sama lain. Penganut ketiga agama punya rumah ibadah masing-masing di Desa Balun, letaknya malah saling berdekatan.
Dari penggalian lapangan yang dilakukan posmonews.com, di satu kampung ini ada tiga tempat ibadah, dan sangat akur sekali. Sampai dijuluki Desa Balun adalah Desa Pancasila karena keberagaman Bhinneka Tunggal Ika-nya bisa diacungi jempol.
Pemandangan penuh toleransi itu nampak nyata, yakni bangunan Masjid Miftahul Huda di Desa Balun yang bangunannya begitu indah. Berdampingan dengan Pura Sweta Maha Suci dan berhadapan dengan Gereja Kristen Jawi Wetan.
“Keberagaman kami itu tertanam dari semenjak kami kecil, semenjak kami lahir, sehingga dalam posisi dewasa yang seperti ini kita tinggal melanjutkan lagi titipan atau tinggalan dari nenek moyang kita yaitu menjaga toleransi antar umat beragama,” kata H.Tarjo, salah seorang warga Balun.
Contoh salah satu toleransi agama yang dilakukan adalah ketika umat Hindu melaksanakan ibadah, umat Islam tidak menggunakan pengeras suara atas di masjid, sehingga kedua agama dapat beribadah dengan leluasa. Begitu pula ketika umat Kristen beribadah, umat lain menghargai.
Masyarakat Desa Balun saling menunjukkan rasa toleransi. Misalnya saat bulan Ramadhan, ketika warga Muslim berpuasa, para pemuda Hindu dan Kristen ikut membagikan takjil untuk saudaranya yang Muslim.
**(DANAR SP)

