Bendung Jatimlerek Jombang Direhab Telan Dana 264 Miliar

▪︎ Tender Dimenangkan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk
▪︎ JATIM – POSMONEWS.com,-
Rencana rehabilitasi Bendung Karet Jatimlerek, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, memasuki babak baru setelah pemenang tender diumumkan melalui Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) Inaproc Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Tender proyek bernilai Rp 279,96 miliar itu dimenangkan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk yang memberikan penawaran senilai Rp 268,4 miliar.
Meski proses masih berada pada masa sanggah hingga SPPBJ diterbitkan pada 19 Desember 2025 lalu, kejelasan bendung akan direhabilitasi telah menyebar cepat di kalangan masyarakat, terutama para petani yang selama ini bertumpu pada air irigasi Bendung Jatimlerek.
Sejumlah petani di Desa Jatimlerek, Karangmojo, dan Tanggungkramat menyatakan belum menerima penjelasan resmi mengenai rencana rehabilitasi tersebut. Ketidakpastian ini menjadi pemicu utama keresahan mereka.
Tak sedikit petani mempertanyakan, apakah rehabilitasi akan mengurangi suplai air secara drastis, kapan flushing dilakukan, dan apakah ada jadwal tanam alternatif yang harus mereka terapkan.
Kepala Dinas PUPR Jombang, Bayu Pancoroadi, menegaskan bahwa proyek sepenuhnya ditangani Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas.
Menurut informasi awal yang diterimanya, bendung yang diresmikan Wakil Presiden H. Sudharmono, SH pada 27 September 1992 lalu itu akan diubah dari sistem karet menjadi bendung gerak, model yang dinilai lebih tahan lama dan lebih aman terhadap risiko kebocoran.
Kerusakan Bendung Karet Jatimlerek bukan peristiwa baru, bahkan sudah berlangsung sejak awal 2000-an. Namun gangguan paling signifikan terjadi pada Mei 2024 ketika bentang karet nomor 6 mengalami kebocoran cukup parah.
Elevasi air Sungai Brantas turun drastis, membuat air tidak lagi dapat masuk dengan optimal ke Intake Saluran Irigasi Jatimlerek. Akibatnya, 1.341 hektare sawah di Kecamatan Plandaan dan Ploso mengalami kekurangan air.
Sejumlah petani masih menyimpan dokumentasi foto dan catatan kerugian pada musim kemarau tahun 2024 lalu.
Pada tahun 2016, BBWS Brantas sempat mengganti badan karet bendung, tetapi kebocoran kembali muncul. Pola kerusakan berulang ini mendorong Pemkab Jombang mengirimkan surat resmi usulan redesain bendung kepada BBWS.
Seperti diketahui proyek rehabilitasi Bendung Karet Jatimlerek dipastikan masuk tahap pelaksanaan dengan skema multiyears hingga 2027. Proyek bernilai Rp 264 miliar tersebut dikerjakan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk dan bersumber dari dana APBN.
Berdasarkan penjelasan awal dari BBWS Brantas, selama proses rehabilitasi, bangunan bendung akan dibendung sementara. Aliran Sungai Brantas direncanakan dialihkan melalui sisi selatan, tepatnya di wilayah Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh.
Dengan skema tersebut, aliran irigasi ke wilayah utara Sungai Brantas dinilai masih berpotensi tetap aman.
Bendung ini berperan vital dalam mendukung sistem irigasi di wilayah utara Sungai Brantas. Air dari Bendung Jatimlerek mengairi lahan pertanian di sejumlah desa. Antara lain Desa Jatimlerek, Desa Karangmojo, Desa Purisemanding, Kecamatan Plandaan hingga Desa Tanggungkramat serta Desa Jatigedong, Kecamatan Ploso. Cakupan lahan sawah mencapai 1.818 hektare.
Selama ini, bendung beberapa kali mengalami kebocoran, yang berdampak pada penurunan elevasi air Sungai Brantas di bagian hulu. Kondisi tersebut menyebabkan air tidak dapat masuk ke Intake Saluran Irigasi Jatimlerek secara optimal.▪︎ (FEND)


