OPINI

Melihat Uniknya Pohon Natal dari Pudak Gresik, Jawa Timur

▪︎ Angkat Kuliner dan Wahana Selfi Tamu Wisatawan

▪︎ Oleh : Rasul
(Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Trunojoyo)

PADA Tanggal 25 Desember 2025, umat Kristiani akan merayaan Hari Raya Natal. Nah di perayaan ini yang sangat identik dengan pohon Natal (biasanya cemara), disebut sebagai pohon yang tetap hijau sepanjang tahun melambangkan kehidupan kekal yang dijanjikan Tuhan. Bahkan di tengah kegelapan musim salju itu melambangkan kehidupan abadi, harapan di tengah musim dingin, dan Taman Eden.

Tradisi modern pohon Natal dimulai di Jerman pada Abad Pertengahan sebagai “pohon surga” (paradise tree) yang melambangkan Taman Eden. Dengan lampu dan bintang di puncak pohon melambangkan Yesus Kristus sebagai terang dunia dan Bintang Betlehem yang menuntun orang Majus.

Syahdan, tradisi ini menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke Inggris melalui Pangeran Albert (suami Ratu Victoria) dan kemudian ke negara-negara lain. Sedangkan di Indonesia, selain cemara, pohon Natal juga sering dibuat dari bahan lokal seperti botol plastik, bambu, atau daun lontar sebagai wujud kreativitas dan kearifan lokal.

Intinya, pohon Natal adalah simbol utama Natal yang menghubungkan iman, harapan, dan sukacita, diadaptasi dari tradisi kuno dan diperkaya makna spiritual dan religiusnya.

Di era modern ini Pohon Natal tidak hanya dibuat dari cemara. Banyak ide atau kreatifitas yang muncul, pohon natal itu dibuat dengan konsep kearifan lokal. Seperti hasil produk lokal seperti buah-buahan, makanan, kue jajanan, dll.

Hal yang juga dilakukan oleh sebuah hotel di kota Gresik, Jawa Timur yang membuat pohon Natal dari jajanan kuliner khas Gresik. Adalah hotel Aston Gresik Hotel & Conference Center (AGHCC), di Gress Mall GKB Gresik yang memilih 1250 pudak untuk dibentuk menjadi Pohon Natal sebagai bentuk penghormatan terhadap akar budaya (kuliner) Gresik.

“Ya, Pudak bukan hanya sekadar makanan, Pudak adalah simbol kearifan lokal, identitas, dan tradisi masyarakat pesisir. Dengan menghadirkan Pudak sebagai ikon Natal kami ingin memperkenalkan warisan kuliner Gresik kepada tamu hotel dan pengunjung dari berbagai latar, agar budaya Gresik semakin dikenal dan diapresiasi,” kata Moses Rahardian, selaku Marketing Communication, Hotel Aston, menuturkan ide pembuatan pohon natal itu kepada Penulis.

Masih menurutnya, keunikan Pudak berada pada rasa, tekstur, aroma kemasan daun pinang, hingga sejarah panjangnya yang menjadi nilai jual tersendiri. Di tengah gemerlap dekorasi Natal yang sering serupa di mana-mana, Pohon Natal Pudak menawarkan sesuatu yang otentik, lokal, dan sarat makna sebuah Natal yang berpadu dengan identitas komunitas dan sejarah kota.

“Kami berharap setiap tamu dan masyarakat sekitar bisa mengerti makna mendalam: seperti pudak yang manis memberi rasa, dan Natal yang membawa terang, mari kita menjadi “garam dan terang bagi lingkungan sekitar.

Semoga kehadiran pohon ini menginspirasi kita untuk berbagi kebaikan menguatkan kebersamaan, dan menjunjung kebanggaan atas budaya lokal Dan semoga Natal ini menjadi momen hangat untuk semua
generasi, menjadikan Aston Gresik bukan hanya hotel, tetapi juga jembatan bagi warisan budaya dan kebersamaan,” yakin pria asal Madiun yang ramah ini.

Menjadi ikon di hotel ini penulis mencoba menelusuri keberadaan jajanan pudak Gresik ini. Baik dari data literatur maupun penggalian lapangan yang dilakukan oleh penulis di sentra kuliner & oleh-oleh khas kota Gresik.

Sejarah pudak, kue tradisional khas Gresik yang terbuat dari campuran tepung beras (atau kadang sagut gula pasir/guta jawa, dan santan kelapa, yang kemudian dibungkus dengan “ope” yaitu pelepah daun pinang yang dibersihkan, dilipat, dijahit membentuk kantung, lalu diisi adonan dan dikukus.

Versi modern Pudak diyakini pertama kali dijual secara komersial oleh Nyonya Tjioé Boon Lay sekitar tahun 1950, melalui merek legendarns pertama bernama Pudak Cap Kuda. Kemasan “ope” dan rasa manis legit dari gula santan membuat

Pudak tidak sekadar jajanan, melainkan warisan lokal dan dijadikan oleh-oleh bagi orang yang datang ke Gresik sehingga menjadi salah satu jajanan kuliner yang terus dipromosikan pada wisatawan dan tamu-tamu dari daerah lain yang berkunjung ke kota Gresik.

Senin siang (22/12/2025) itu penulis mencoba untuk melihat langsung bagaimana penjualan pudak di sentra oleh-oleh di kawasan selatan Tugu Wilmar, Jalan Panglima Sudirman (depan Wisma Semen Gresik).

Penulis berhasil mewancarai salah satu pedagang pudak. Sebut saja Ibu Ummah (60) yang dengan senang hati menerima penulis untuk mencurahkan keluh kesahnya, selama berjualan pudak yang fluktuatif, kadang ramai tapi juga terkadang sepi.

“Sebagai penjual pudak, makanan khas dari Gresik yang sudah turun-temurun ada sejak zaman dulu. Setiap pagi saya membuka lapak dengan harapan yang sama, pudak saya laku, pembeli datang, dan dagangan habis. Namun kenyataannya, keramaian itu hanya benar-benar terasa saat hari Minggu.

Di hari Minggu, suasana berbeda. jalanan lebih hidup, orang-orang datang dari luar kota, ada yang sengaja mampir karena rindu rasa pudak, ada juga yang baru pertama kali mencoba.

Saat itu, daun lontar yang membungkus pudak terasa lebih berarti karena satu per satu dagangan terjual. Saya bisa tersenyum, karena tahu hari itu saya pulang membawa hasil.

Tetapi di hari-hari biasa, lapak saya sering sepi. Orang sekarang lebih memilih makanan modern. Pudak dianggap makanan lama, hanya cocok jadi oleh-oleh, bukan untuk dimakan sehari-hari. Padahal, rasa pudak tidak pernah berubah: manis, sederhana, dan penuh kenangan. Saya sering berpikir, mungkin bukan pudaknya yang kalah, tapi zamannya yang berubah.

Saya hanya berharap, suatu hari nanti, pudak tidak lagi sepi di hari biasa. Semoga orang-orang kembali melirik makanan tradisional, dan pudak bisa kembali ramai, bukan hanya saat Minggu, tapi setiap hari,” tutur ibu ini dengan penuh harap.

Menyikapi hal di atas, Tokoh dan Pegiat Kuliner Gresik, Ibu Sri Wulandari yang berhasil dihubungi Penulis mengatakan bahwa pudak sebagai kuliner khas Gresik memang menghadapi tantangan zaman.

Pengalaman ibu yang juga guru di SMK Negeri 1 Cerme, Gresik ini pernah membuat pelatihan pembuatan pudak dengan aneka rasa. Dengan rasa buah-buahan, seperti mangga, pisang, dll.

“Pudak dengan rasa mangga saya pernah menjuarai lomba makanan tradisional di Jakarta. Itu bukti bahwa pudak harus bisa menyesuakan dengan keinginan pembeli. Misalnya aneka rasa, namun juga tetap ada yang rasa original (asli). Ya mungkin tantangannya pedagang tidak mau spekulasi untuk membuat pudak dengan beberapa rasa itu, krn takut penjualannya kurang maksimal. Tapi untuk tuntutan dunia modern, ya harus tetap dicoba agar kuliner khas Gresik ini tetap diminati,” tukasnya.*****

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button