OPINI

Memotret Tampungan, Pemakaman Unik Warga Sidomulyo, Lamongan di Saat Banjir

▪︎ Oleh : Kurnia Nur Lailatul Fitriyah
(Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Trunojoyo)

SEPERTI di kota atau daerah di Jawa Timur dan propinsi lain, persoalan banjir juga terus menjadi fenomena di Kabupaten Lamongan. Terutama di kawasan aliran Bengawan Njero dan Bengawan Solo dari sisi barat kecamatan Babat, Pucuk, Sekaran, Sukodadi, Turi, Kalitengah, Karangbinangun, Glagah, dan Deket.

Penulis mencuplik data
seperti dijelaskan dalam dokumen Universitas Muhammadiyah Malang, bahwa Wilayah Bonorowo di Lamongan Utara merujuk pada kawasan dataran rendah yang rawan banjir, mencakup kecamatan-kecamatan seperti Sekaran, Laren, Karanggeneng, Kalitengah, Turi, Karangbinangun, dan Glagah, yang memiliki topografi relatif datar dan terletak di ketinggian rendah, seringkali menjadi daerah aliran sungai (DAS) dan lahan pertanian yang rentan tergenang air saat musim hujan.

Ciri-ciri Wilayah Bonorowo, dari Topografi : merupakan dataran rendah, kemiringan lahan sangat landai (0-2%), ketinggian rendah (0-25 meter di atas permukaan laut).

Karakteristiknya, merupakan lahan basah, banyak rawa, sawah tadah hujan, dan area yang sering tergenang air.

Lokasi : Bagian tengah utara Lamongan, di sepanjang jalur sungai yang mengalir ke utara menuju laut.
Kecamatan Terkait, yakni (Sebagian): Sekaran, Laren, Karanggeneng, Kalitengah, Turi, Karangbinangun, Glagah.

Nama “Bonorowo” sendiri seringkali merujuk pada kondisi geografisnya yang berupa “bono” (hutan/rawa) dan “rowo” (rawa/genangan air), menandakan daerah yang kaya akan sumber air dan lahan basah, namun rentan terhadap banjir akibat meluapnya sungai-sungai seperti Sungai Bengawan Solo atau anak-anak sungainya yang melewati area tersebut.

Dari kawasan Bonorowo ini penulis menemukan fenomena menarik, ide kreatif dan kearifan lokal yakni adanya Makam Penampungan jenazah orang yang meninggal di saat banjir tiba. Seperti yang ditemukan oleh penulis di Dusun Pujut, Desa Sidomulyo, Kec. Deket, Kabupaten Lamongan.

Makam Penampungan ini adalah makam sementara warga yang meninggal di saat banjir melanda kawasan tersebut. Biasanya TPU (Tempat Pemakaman Umum) di wilayah ini tergenang air hingga 1-2 meter sehingga warga kesulitan untuk melakukan prosesi pemakaman.

Lalu muncul lah ide, bahwa jenazah itu dikebumikan di Makam Penampungan (sementara), hingga menunggu Musim Kemarau, antara Bulan September – Desember, jenazah itu dipindahkan ke tempat yang semestinya yakni di TPU dusun atau desa.

Peliputan awal, penulis mencoba untuk konfirmasi ke Balai Desa Sidomulyo, namun oleh Pemdes diarahkan ke dusun masing-masing. Akhirnya penulis berhasil wawancara dengan Kasun Pujut, Bapak Suwanto. Dan, dari beliau lah penulis mendapat cerita menarik tentang fungsi Makam Penampungan ini.

Bahwa sejarah awal adanya tradisi makam penampungan ini karena banyak desa yang wilayahnya langganan banjir. Desa dengan datarannya rendah di kecamatan Deket, Karangbinangun dan Glagah sudah membuat penampungan. Di Dusun Pujut ini berhasil membangun makam Tampungan ini pada tahun 2016 dengan biaya sekitar enampuluh juta rupiah hasil swadaya warga.

“Manfaatnya Tampungan ini ya biar jika ada warga yang meninggal, jenazah tidak dititipkan ke daerah lain. Dulu waktu sebelum dibangun penampungan, saat ada yang meninggal waktu banjir, itu sangat kesulitan. Waktu itu kami dititipkan ke wilayah Kecamatan Sugio (Lamongan Selatan) warga sini ikut ke sana untuk mengantarkan, dan juga harus membayar 2 juta,” cerita Pak Kasun .

Masih cerita Bapak Suwanto, syahdan, juga pernah ada warga yang meninggal, pas banjir datang. Jenazahnya juga dititipkan ke desa lain yang memiliki dataran tinggi. Tetapi desa yang dititipi meminta agar jenazah itu dipindah dalam kurun waktu setahun saja.

“Semenjak kejadian itu warga dusun Pujut mau tidak mau harus membuat penampungan itu. Dan alhamdulillah , dananya juga dari swadaya masyarakat sendiri habisnya kira kira 60 juta,” terangnya.

Hal menarik saat pemindahan jenazah di musim kemarau, Pak Kasun ini menjelaskan ada yang memakai tradisi slametan pemindahan itu. Namun ada yang tidak tergantung pihak keluarga. Pemindahan itu dilakukan oleh warga sendiri secara gotong royong.

“Untuk yang memindah itu juga seluruh warga jadi tidak membebankan yang terkena musibah,” sambungnya.

Dari data yang dikumpulkan Penulis, di Desa Sidomulyo ini terdiri dari 4 dusun. Yakni Dusun Pujut, Meluke, Kedungwaru, dan Rowoglagah. Di desa ini semua ada penampungannya sendiri sendiri, Khusus di Dusun Rowoglagah tampungannya tidak dibuat besar tetapi dibuat peninggian dataran langsung. Sedangkan Penampungan di Dusun Pujut sendiri bisa diisi 10 jenazah, luas tempat penampungannya 15 meter × 5 meter.

Sampai saat ini, meski Penampungan telah berjalan dengan baik, namun warga mengaku masih menghadapi kendala lain, terutama kondisi TPU yang seharusnya ditinggikan. Namun rencana pembangunan TPT (Tembok Penahan Tanah) belum bisa direalisasikan karena tanah di lokasi makam terus longsor.

“Beberapa kali pengajuan dana juga belum cair, termasuk bantuan sosial yang disebutkan akan diberikan. Akibatnya, perbaikan area pemakaman hingga kini tertunda,” tukas Bapak Kasun Suwanto.
*****

 

 

 

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button