Didukung Kabid Kebudayaan, Sanggar Nugroho Mewisuda 16 MC Jawa 

147 dibaca

▪︎ SIDOARJO – POSMONEWS.com,-
Sanggar Seni Nugroho bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo mewisuda 16 orang pranatacara (MC Jawa) di Fave Hotel Sidoarjo, Minggu (7/12/2025).

Widusawan Angkatan XI ini terdiri dari 11 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Wisuda dilakukan oleh Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, Hj. Kartini, S.Pd, M.Pd dan Ketua Sanggar Nugroho, Drs. Gito Subagyo.
Hadir pada acara tersebut Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, Hj. Kartini, S.Pd, M.Pd; dalang gragrag Porongan dan dosen Prodi Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Surabaya, Ki Yohan Susilo, S.Pd, M.Pd; dalang gragrag Mataraman, Ki Sabdo Sutedjo , para seniman nasional dan daerah, juga para keluarga wisudawan.

Para wisudawan tersebut telah menyelesaikan dengan baik pendidikan dan pelatihan/kursus pranatacara (MC) untuk upacara pengantin adat Jawa. Adapun untuk Angkatan XI ini belajar mulai bulan April sampai dengan Oktober 2025 di Sanggar Nugroho yang beralamat di Pondok Tanggulangin Asri Blok P-1 RT. 06 / RW. 04 Kalitengah, Tanggulangin, Sidoarjo.

Keenam belas wisudawan yang mendapat sertifikat dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo yaitu: M. Isbachodin, Joko Priyanto, Tri Wahyudi Santoso, Suji Hartono, Farid Sebastian, Amrina Azzahra Firdaus Agustini, Toha, Koesmoko, Rahmat Irwan, Acmadun Hadi, Wiwik Handajani, Winenti, Soedarsono, Faridah Masdakah, Wilma Wulandari,Gatot Edy Suryanto.
Mereka mendapatkan sertifikat wisuda yang ditandatangani oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, Dr. Tirto Adi, M.Pd. Para wisudawan tersebut beragam profesi: ada yang PNS, pegawai swasta, seniman, guru, kepala sekolah, perawat, pengusaha, wartawan, pensiunan, dan ibu rumah tangga. Yang paling muda berusia 29 tahun dan yang paling tua berusia 71 tahun. Di antaranya ada yang pasangan muda suami-istri.

Satu persatu para wisudawan menerima sertifikat wisuda dari Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, Hj. Kartini, S.Pd, M.Pd. Dilanjutkan dengan menerima pengalungan gordon berlogo Sanggar Nugroho oleh Ketua Sanggar Nugroho, Drs. Gito Subagyo.

Sebelumnya, para wisudawan sudah mengenakan pin khusus Sanggar Nugroho pada beskap sebelah kanan.
Prosesi wisuda 16 orang MC Jawa tersebut, dilakukan dengan tata cara budaya Jawa gagrag Surakarta (Solo). Setiap wisudawan mengenakan busana beskap lengkap dengan blangkon, kain, selop, serta keris.

Dijemput oleh cucuk lampah satria Pringgondani Raden Arya Gathotkaca, putra Raden Arya Bima dan Dewi Arimbi. Gerak langkah para wisudawan menuju tempat wisuda diiringi dengan tembang Kebogiro, melalui bregada (pasukan) keris pora yang sudah bersiap di dalam ruangan. Pasukan keris pora tersebut diperankan oleh para alumni Sanggar Nugroho yang rata-rata sudah berprofesi sebagai MC pengantin Jawa.

Ketua Sanggar Nugroho, Drs. Gito Subagyo menyampaikan rasa terima kasih yang tidak terhingga kepada para undangan VIP yang hadir. Khususya para seniman nasional dan daerah yang menghadiri acara wisuda pambiwara (pewara) Sanggar Nugroho.

Di antaranya : Ki Sabdo Sutedjo (dalang gragrag Mataraman yang juga murid Ki Narto Sabdo) dan Ki Yohan Susilo (dalang gagrag Porongan yang juga dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Surabaya).

“Dengan diwisudanya ke 16 orang wisudawan ini, maka mereka otomatis menjadi bagian dari Sanggar Nugroho. Selama sekitar 6 bulan mereka ‘digodog’ di Kawah Candradimuka Sanggar Nugroho. Inilah yang ditunggu-tunggu masyarakat. Sebab, rata-rata mereka pada bulan ke-4 sudah mendapatkan job di masyarakat. Saya ucapkan selamat dan sukses selalu,” katanya.

Dalam sambutannya Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, Hj. Kartini, S.Pd, M.Pd mengatakan,  pihaknya sangat mendukung program dan kegiatan Sanggar Seni Nugroho. Hal ini ditunjukkan dengan kehadirannya pada setiap acara wisuda pambiwara Sanggar Nugroho.

“Alhamdulillah, saya selalu hadir dan ikut mewisuda para pambiwara. Saya ucapkan selamat dan sukes selalu, semoga ilmunya berguna,” ujarnya.

Dalang gagrag Porongan, Ki Yohan Susilo, S.Pd, M.Pd yang ikut menghadiri acara, menyampaikan terima kasihnya karena sudah diundang secara khusus. Terlebih bisa bertemu dengan Kabid Kebudayaan, Hj. Kartini, S.Pd, M.Pd dan dalang gagrag Mataraman, Ki Sabdo Sutedjo, serta para wisudawan pambiwara yang beragam profesi.

“Tampaknya, bapak-ibu wisudawan pambiwara rata-rata sebelumnya juga sudah bekerja dengan profesi tertentu. Mengapa masih ingin menjadi MC Jawa ? Mungkin hal ini merupakan kepuasan batin tersendiri yang tidak bisa dinilai dengan uang. Namun perkembangannya, MC sekarang merupakan profesi yang menjanjikan,” katanya.

Ki Yohan Susilo mengusulkan perlu adanya tata cara adat pengantin khas gagrag Sidoarjo. Sebagaimana yang selama ini sudah dikenal, ada gagrag Surakarta (Solo) dan gagrag Yogyakarta. Yang terbaru, kali ini sudah ada tata cara adat pengantin khas gagrag Mojokerto (Majapahit), yang dikenal dengan nama: Mojo Putri.

Sementara itu, dalang gagrag Mataraman Ki Sabdo Sutedjo yang juga menjadi undangan kehormatan, mengatakan, dirinya sudah 4 kali menghadiri wisuda pambiwara Sanggar Nugroho. Dengan mendoakan, semoga menjadi MC yang laris manis, dengan penghasilan yang selalu bertambah digitnya.

Selama ini banyak perias pengantin yang tidak paham dengan tata cara adat, dan mestinya mereka bisa bertanya kepada para pambiwara. Supaya benar-benar mengetahui tata cara pengantin adat Jawa.

“Pesan saya kepada para wisudawan, jangan hanya belajar satu gagrag. Namun juga bisa dengan berbagai gagrag, supaya bisa melayani semua pesanan masyarakat. Oleh karena itu, sebelum acara harus dibahas dulu dengan yang punya hajat supaya jelas acaranya. Jangan sampai salah atau keliru mempraktikkan, di antaranya tidak sesuai dengan pakemnya,” jelasnya.

Ki Sabdo Sutedjo menyampaikan beberapa hal yang harus diperhatikan supaya sesuai dengan pakem: (1) pambiwara harus berpakaian adat Jawa lengkap, jangan sampai tanpa blangkon atau keris dan epek timang; (2) sesungguhnya cucuk lampah kurang pas jika menggunakan tokoh Gatotkaca atau Anoman. Sebab, Gatotkaca itu raja, dan Anoman kera; (3) kain batik yang digunakan jangan salah/keliru motif.

Mestinya menggunakan: sidomulyo, sidomukti, atau wahyu tumurun; (4) jangan salah/keliru memakai keris. Harus tahu itu Ladrang (gaya Surakarta) atau Gayaman (gaya Yogyakarta). Sebab, ada juga Gayaman gaya Solo.

Adapun Ketua panitia, M. Isbachodin menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada semua pihak yang telah membantu terlaksananya kegiatan wisuda pambiwara tersebut. Sekaligus mewakili para wisudawan, menyampaikan rasa terima kasih yang tidak terhingga kepada guru pambiwara Sanggar Nugroho, Drs. Gito Subagyo yang telah memberikan pembelajaran dengan baik.  Telah memberikan ilmunya dengan ikhlas, terlebih dalam rangka ikut melestarikan budaya Jawa di Nusantara.
▪︎(Koesmoko, Humas SMP PGRI 1 Buduran)