Berita Utama

WUJUD TOLERANSI LINTAS GENERASI

▪︎ Catatan Khusus Perayaan Nyepi 1945 Caka di Lamongan (2)

▪︎LAMONGAN-POSMONEWS.COM,-
Pemandangan menarik di Perayaan Nyepi Tahun 1945 Caka di Desa Balun, Kec.Turi, Kab. Lamongan, Jawa Timur, bukan saja saat pawai Ogoh-ogoh yang harus mengelilingi wilayah Desa Pancasila yang diperkirakan sejauh 3 km itu, namun juga pernik-pernik selama berlangsungnya ritual mengarak Bhutakala hingga Pangerupukan (pembakaran) di alun-alun desa tersebut.

Dari pantauan media ini, pawai Ogon-ogoh dimulai pukul 14.00 dari Pura Sweta Maha Suci, berjalan ke timur dan berbelok ke Utara di alun-alun dimana di sisi barat berdiri Masjid Huda dan timur Gereja.

Begitu Ogoh-ogoh yang terakhir sampai di depan gereja, di seberang telah berkumandang adzan Ashar, maka tanpa dikomando arak-arakan dan bunyi-bunyian itu berhenti. Suasana yang semula riuh rancak menjadi hening.

Hal inilah yang dikatakan oleh Mangku Tadi, saat berbincang dengan awak media terhadap sikap toleransi yang dibinanya, mengingat Nyepi harus berbarengan dengan Ramadhan (awal salat Tarawih).

Kenyataan di lapangan, sungguh sebuah keharmonisan yang luar biasa, ketika umat muslim di Desa Balun, Kecamatan Turi, Lamongan menggelar tarawih pertama. Karena bersamaan dengan Hari Raya Nyepi, pelaksanaan tarawih pertama itupun tidak menggunakan pengeras suara.

Tokoh masyarakat Balun, H. Untung menuturkan bahwa ketika Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi seluruh masyarakat ikut mengedepankan toleransi dengan tidak sembarangan keluar rumah.

Tidak hanya itu, dia juga menyebutkan bahwa masjid tidak mengumandangkan qiraah yang biasanya diputar sebelum azan. Hanya ketika azan dikumandangkan, pengeras suara digunakan.

“Saat salat tidak pakai qiraah sebelum azan. Hanya azan yang pakai speaker,” ujarnya saat berbincang dengan media di halaman Masjid Miftahul Huda Desa Balun, Rabu (22/3/2023).

Demikian halnya saat salat tarawih pertama Ramadhan yang digelar malam ini. Karena bersamaan dengan Hari Raya Nyepi, umat muslim juga akan melakukan hal serupa. Selama Salat Tarawih tidak akan suara dari towa yang berbunyi kecuali azan. Hanya memakai speaker dalam masjid saja.

“Takmir masjid sudah mengumumkan kalau nanti ada salat tarawih maka hanya azan yang memakai speaker atas, selain itu pakai speaker bawah atau speaker yang ada di dalam masjid,” imbuhnya.

Hal yang sama juga berlaku saat pelaksanaan tadarus Alquran yang biasanya digelar usai salat tarawih. Takmir masjid, imbuhnya, telah mengumumkan selama pelaksanaan Nyepi maka tadarus dilakukan menggunakan speaker bawah atau speaker dalam masjid.

“Kalau untuk tadarus atau mengaji usai salat tarawih kita pakai speaker bawah atau speaker dalam masjid, kalau persiapan khusus memang tidak ada,” paparnya.

Sebelumnya, toleransi juga ditunjukkan dengan pawai ogoh-ogoh di Desa Balun, Kecamatan Turi, Lamongan yang berlangsung semarak didukung seluruh warga di desa yang dikenal dengan sebutan Desa Pancasila itu.

Tak ada persiapan khusus yang dilakukan oleh umat muslim di desa ini dalam menyambut Ramadhan yang berbarengan dengan pelaksanaan Catur Brata Penyepian yang dilakukan oleh umat Hindu di Desa Balun.

Semuanya berjalan seperti biasa. Masyarakat di desa ini hidup paham dan hidup rukun berdampingan dengan keyakinan agama yang berbeda, yaitu Islam, Kristen dan Hindu.

“Tidak ada persiapan khusus mas untuk menyambut bulan ramadan,” katanya.

Rasa toleransi antar umat beragama di desa ini juga ditunjukkan ketika pawai ogoh-ogoh yang baru saja usai. Pawai ogoh-ogoh tidak hanya diikuti umat Hindu saja tapi umat beragama yang lain juga ikut memanggul ogoh-ogoh keliling desa.

Ada juga umat di luar Hindu yang berjaga ketika pawai ogoh-ogoh berlangsung. Tidak adanya persiapan khusus ini terbukti saat berkunjung ke Masjid Miftahul Huda dan semuanya berjalan seperti biasa saja.

Tingginya rasa solidaritas antar umat beragama di desa ini juga diakui oleh pemangku agama Hindu Desa Balun, Tadi. Ia menyebut, pelaksanaan pawai Ogoh-ogoh yang merupakan salah satu rangkaian peringatan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1945, pada Selasa (21/3) di Desa Balun tidak hanya diikuti umat Hindu tapi juga di terdapat partisipasi dan gotong-royong masyarakat yang beragama lain, baik Kristen dan Islam.

“Umat Hindu di Pura Sweta Maha Suci membuat 4 Ogoh-ogoh, sisanya yang 9 itu partisipasi dari kelompok masyarakat lain. Yakni kelompok masyarakat, campuran, ada yang Kristen, ada yang Muslim, kelompok-kelompok seperti LA Mania, grup pesilat, grup kelompok warung-warung yang mayoritas anak-anak muda atau millenial. Dari mereka itu banyak yang membuat, itupun kami tidak mengajak ataupun memberikan biaya, mereka sukarela dengan swadayanya. Itulah toleransi yang ada di desa Balun,” kata Mangku Tadi. (Habis).*DANAR/ARIFIN*

Related Articles

Back to top button