Tradisi Megengan di Lamongan, Nyekar & Selamatan Sambut Ramadan
▪︎LAMONGAN – POSMONEWS.COM,-
Di keseharian masyarakat Jawa, masih ada beberapa tradisi yang melekat dan dilakukan, seperti warga muslim di Lamongan di saat menyambut datangnya bulan suci Ramadhan yang disebut Tradisi Megengan.
Megengan adalah salah satu tradisi penyambutan datangnya bulan suci ramadhan dan mengakhiri puasa atau menyambut Idul Fitri. Karenanya megengan ini adanya digelar setiap setahun sekali baik Idul Fitri maupun Idul Adha.
Istilah Megengan ini sering terdengar di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta yang umumnya dilakukan menjelang bulan Ramadhan.
Megengan atau selamatan ini bukan hanya untuk memperingati datangnya bulan puasa di Bulan Ramadhan, namun juga tradisi yang mempunyai makna mendalam.
Dalam bahasa Jawa ‘Megengan’ berarti menahan/ngempet. Lebih dalam lagi yaitu selama menjalankan ibadah puasa kita harus bisa menahan hawa nafsu.
Di beberapa daerah lain tradisi megengan ini disebut nyadran atau ruwahan yang tujuannya sama yakni mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT.
Dari penelusuran media ini di Wilayah Lamongan Selatan yang masih kental dengan adat, budaya dan tradisi Jawa, megengan Idul Fitri atau pembuka biasanya dihelat setelah pengumuman sidang isbad, yaitu sidang yang dilakukan oleh kementrian agama untuk menentukan ada atau tidak adanya hilal, yang dilakukan oleh kementrian agama jelang Ramadhan tiba.
Namun tradisi Megengan ini juga memiliki rangkaian ritual, yakni didahului dengan nyekar atau ziarah kubur. Dalam tradisi ini warga biasanya berkesempatan untuk reresik (membersihkan, red) makam keluarganya, dilanjutkan dengan tabur bunga yang telah dibawa dari rumah.
Menurut pinisepuh atau tokoh agama di wilayah Sukodadi, Gus Mufhofar, tradisi megengan ini sudah pasti dilaksanakan di Bulan Ramadhan. Biasanya digelar setelah salat magrib dan sebelum tiba salat tarawih. Caranya dengan mengundang para tetangga untuk berdoa’a bersama di rumah dan bergantian. Biasanya dilaksanakan per tetangga dekat dalam satu rumpun misalnya 8-12 orang. Biasanya setiap RT dibagi dalam kelompok-kelompok kecil untuk menggelar selamatan yang dipimpin oleh Modin atau pemuka agama setempat.
Keunikan tradisi ini adalah pembuatan berkat atau berkatan yang didalamnya ada nasi, lauk, buah, dan jajan-jajan toko yang ditaruh dalam tempat yang disebut rege, bak khusus dan dibungkus plastik kresek.
Ada nilai sosial dan religius dalam tradisi ini yaitu mendatangkan para tetangga untuk mendoakan para leluhur yang terdahulu, dengan adanya megengan ini menjadikan kerukunan terhadap tetangga tetap terjaga selain itu juga dapat menjadikan kita tetap teringat dengan para leluhur yang sudah mendahului dengan mengirim do’a dan juga kita sudah dapat bersedekah dengan memberikan berkatan (berkah, red) kepada para tetangga.
Menurut Ibu Hernik (50), warga di wilayah kecamatan Sukodadi, biasanya tradisi megengan di kampungnya kini lebih banyak diatur oleh kelompok emak-emak. Selamatannya diatur dengan cara bergiliran misalnya anggota kelompoknya 9 orang, maka Megengan dimulai H-3. Jadi tiap malam ada 3 orang yang kebagian untuk menjadi tuan rumah Megengan itu.
“Ya, karena bentuk makanannya kan sudah.matang. Maka biar tidak mubazir, makanan menumpuk sehingga kita atur. Jumlahnya menyesuaikan sesuai banyaknya tetangga kita, tapi di kampung ini rata-rata 8-12 orang. Maka kita atur tiap hari ada 3 orang yang menggelar selamatan megengan itu,” tukasnya.▪︎[DANAR SP]
