Berita Utama

Mandi Suci di Sapta Tirta Makam Pangeran Samber Nyawa

▪︎Laku Ritual Pejabat dan Politikus (2-Habis)

▪︎LAMONGAN-POSMONEWS.COM,-
Sebagai Raja Mangkunegaran yang termasyur, maka kini makam Pangeran Samber Nyawa menjadi lokasi ziarah para pelaku ngalab berkah untuk berbagai hajat, termasuk para pejabat dan politikus jelang pemilu 2024.

Para pelaku ritual dan spiritual ini meyakini makam sebagai saladraja Mangkunegaran di Astana Mangadeg, Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar ini memiliki daya linuwih, tuah dan memberi hoky para peziarah yang gentur, tekun, pasrah kepada Tuhan untuk berwasilah di pusara raja tersohor ini.

Begitu termasyhurnya, sehingga dalam buku “Bukti-bukti Gus Dur itu Wali, disebutkan bahwa KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini pernah menziarahi makam Eyang Gusti Aji di kaki Gunung Lawu. Bahwa makam tokoh yang dikenal dengan nama Raden Mas Said ini merupakan nama kecil Eyang Gusti Aji yang juga dijuluki Pangeran Sambernyawa.

Dalam sejarah Jawa, beliau Eyang Sambernyawa ini merupakan raja Mangkunegaran I yang gigih melawan VOC.

Sehingga ia mendapat julukan Sambernyawa dari gubernur VOC Nicolaas Hartingh, karena di dalam bertempur R.M Said bagaikan malaikat maut pencabut nyawa, bagi musuh-musuhnya.

Menurut Ki Hadi Wijaya Guru Besar Paguyuban Spiritual Semesta 79 Lamongan yang baru saja menerima anugrah sebagai Abdul Dalem Keraton Surakarta dalam Jumenengan, pada media mengatakan bahwa energi gaib dari seorang raja ini menjadi wasilah bagi para pelaku ngalab berkah untuk keberhasilan lelakunya.

“Dan, saat sekarang ini suasana di Astana sangat ramai. Banyak orang melakukan laku ritual di makam leluhur Mangkunegaran ini juga dari kalangan pejabat dan politikus yang ingin kedudukannya tetap langgeng. Demikian juga politikus baru itu berharap Tuah kemenangan dalam Pileg 2024 nanti,” kata Ki Hadi Wijaya.

Sebagai spiritualis yang kini memiliki benang merah dengan kerabat Keraton Solo, Ki Hadi pun memberi rahasia agar para pengalab berkah ini bisa mendapat keberhasilan dalam ritualnya.

“Salah satu ya, pelaku harus laku ritual mandi suci di tujuh mata air atau yang kerap disebut “sapta tirta” di jalan yang menghubungkan Kecamatan Karangpandan dengan Kecamatan Matesih sebelum Astana Mangadeg itu,” lanjutnya.

Konon, sapta tirta sendiri dahulu dikenal sebagai kawah candradimuka para prajurit Sambernyawa. Mereka ini ditempa dan digembleng oleh Pangeran Sambernyawa sebelum melawan VOC.

Para prajurit terlebih dahulu dimandikan di tujuh mata air ini sebelum berperang, yang mana masing-masing mata air mempunyai daya metafisik berupa kesaktian, kerezekian, pulung Wahyu jabatan, kepangkatan, dll.

“Namun laku ritual mandi suci yang hakikatnya ini ruwat dari sengkala dan sukerta.

Ada anakan khususnya atau kuncinya agar laku sesuci yang merupakan tahap pertama sebelum seseorang melakukan ziarah ini benar- benar sudah sempurna. Baru dilanjutkan untuk berziarah, bertafakur di makam Eyang Sambernyawa itu. Insya Allah dengan keiklasan, dan panuwunan yang tulus, iklhas, penuh kepasrahan, semua hajat akan terkabul. Aamiin,” tegas Ki Hadi Wijaya yang dikenal sebagai spiritualis bertalenta dalam berbagai keilmuan ini. ▪︎[DANAR SP]

Related Articles

Back to top button