Berita

Filosofi Kue Apem dalam Tradisi Megengan Jelang Ramadan

▪︎LAMONGAN – POSMONEWS.COM,-
Dalam tradisi Megengan atau menyambut awal puasa, maka yang tersaji dalam berkat selamatan terdapat salah satu jajanan khas yang dinamakan Kue Apem. Yakni sebuah jajanan yang dibuat pada waktu dan peringatan atau tradisi ritual khusus sebagai simbol religius dan spiritualitas.

Dari filosofi kue apem maka muncullah di masyarakat Jawa sebuah tradisi yang bernama megengan. Tradisi ini hampir dilakukan oleh seluruh masyarakat Jawa menjelang bulan Ramadan.

Dalam bahasa Jawa, megengan diartikan sebagai menahan diri atau lebih tepatnya mempunyai makna puasa. Di beberapa daerah di Jawa, apem yang dibuat untuk acara megengan akan dibawa ke masjid. Kemudian, beberapa warga berkumpul dan melakukan doa bersama. Lalu, kue tersebut dibagikan untuk dimakan dan dibagikan kepada warga yang tidak mampu. Sebagai wujud rasa syukur atas nikmat Tuhan.

Dikutip posmonews.com dari Dawud Achrowi, dalam bukunya “Belajar dari Makanan Tradisional Jawa,” kata apem sendiri diyakini berasal dari kata bahasa Arab, yaitu afwan atau affuwun. Artinya adalah maaf atau ampunan. Karena masyarakat Jawa kesulitan untuk mengucapkan kata dalam bahasa Arab tersebut, mereka pun menyebutnya apem.

Apem juga disebut simbol dari sedekah. Hal ini sebagaimana diajarkan oleh Ki Ageng Gribig dan istrinya. Mereka membagikan kue apem kepada tetangga dan sanak saudara. Konon, di daerah Ki Ageng, yakni di Jatinom, terdapat tradisi Yaqowiyu atau yang lebih dikenal dengan Saparan. Tradisi ini telah dilakukan sejak zaman Kerajaan Mataram dan diadakan setiap bulan Safar, antara tanggal 12 sampai dengan 18, pada hari Jumat.

Bulan Safar adalah bulan kedua dalam penanggalan Jawa. Pada hari Kamis, apem yang digunakan untuk upacara adat disusun dalam dua gunungan besar. Kedua gunungan kemudian diarak menuju Masjid Ageng Jatinom.

Kedua gunungan apem ini disemayamkan semalam di Masjid Ageng Jatinom dan dibacakan doa-doa. Selesai salat Jumat, apem disebar dari atas panggung. Selain apem pada gunungan, disebar pula ribuan apem lain yang diserahkan oleh masyarakat. Ribuan orang yang menghadiri acara ini akan berebut apem tersebut.

Upacara tradisional lain yang juga menggunakan apem adalah Ruwahan. Ruwahan adalah tradisi yang diselenggarakan untuk mendoakan arwah leluhur. Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada pertengahan bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa atau bulan Syaban dalam penanggalan Islam.

Ruwahan biasanya dilakukan di rumah masing-masing warga. Setiap rumah mengadakan kenduri dengan mengundang tetangga sekitar. Dalam kenduri ini, masyarakat melakukan sedekah dengan membagikan makanan kepada para tetangga.

Makanan yang dibagikan berupa nasi beserta lauk pauk, kolak pisang, kue apem, dan ketan. Sebelum dibagikan, makanan didoakan bersama lebih dahulu. Selain dilakukan sendiri-sendiri di rumah masing-masing, kenduri juga dilakukan secara bersama-sama. Seluruh warga kampung berkumpul mengadakan kenduri untuk mendoakan arwah leluhur.

Setiap keluarga membawa sedekah makanan berupa nasi tumpeng lengkap dengan lauk pauknya. Kemudian, makanan dibagikan kepada semua orang yang hadir. Selain kenduri, dalam tradisi Ruwahan warga masyarakat juga melakukan ziarah ke makam para leluhur dan sanak saudara.

Manusia sering melakukan kesalahan. Apem mengajarkan kita untuk selalu memohon ampunan kepada Tuhan. Saat memohon ampunan, kita menyadari kesalahan kita dan bertekad untuk tidak mengulanginya.

Saat kita dekat dengan Tuhan, perilaku kita akan menjadi baik. Kita akan melakukan hal-hal yang diperintahkan Tuhan. Kita juga akan menjauhi perbuatan-perbuatan yang dilarang Tuhan. Kue apem mengingatkan kita agar selalu dekat dengan Tuhan.

Apem juga memberikan nasihat agar kita senang bersedekah. Bersedekah akan membuat tidak lupa bersyukur atas semua nikmat yang kita terima. Bersedekah juga akan membuat kita menyayangi sesama.▪︎[DANAR SP]

Related Articles

Back to top button