Berita Utama

Teknologi RISHA, Rumah Tahan Gempa Inovasi Kementerian PUPR

▪︎JAKARTA-POSMONEWS.COM,-
Gempa bumi sering melanda wilayah di Indonesia. Akibatnya tidak hanya korban jiwa saja, tapi juga harta benda dan tidak sedikit rumah runtuh karena getaran gempa bumi.

Desain rumah tahan gempa sangat diperlukan di daerah-daerah rawan bencana. Untuk meminimalisasi potensi kerusakan, dan membantu masyarakat memiliki rumah tinggal yang aman dan nyaman.

Dari data Badan Geologi Kementerian ESDM, terjadi 26 destructive earthquake (gempa bumi yang merusak) selama tahun 2021. Angka tersebut merupakan jumlah tertinggi sepanjang 20 tahun belakangan.

Kerusakan akibat gempa, tidak hanya rumah, namun juga pada bangunan tinggi, sehingga kesiapan menghadapi bencana alam perlu dilakukan dalam bentuk adaptasi (mitigasi bencana).

Kini Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), merancang konsep bernama Rumah Instan Sederhana Sehat atau lebih dikenal RISHA, dapat diadopsi sebagai rumah tahan gempa di Indonesia.

Kementerian PUPR melakukan inovasi ini sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa hunian tidak hanya menjadi shelter bagi penghuninya dari hujan dan panas matahari, tetapi juga dari bencana alam, seperti gempa.

Dikutip dari laman resmi Kementerian PUPR, RISHA mudah dibangun karena mengadopsi teknologi knock down sehingga pembangunannya hanya tinggal merakit komponen-komponen yang ada.

Kementerian PUPR membangun RISHA ketika membantu penyelesaian konstruksi rumah khusus atau Rusus bagi korban bencana Badai Siklon Tropis Seroja di Nusa Tenggara Barat dan masyarakat yang terdampak erupsi Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur.

“Pembangunan Rusus ini memakai teknologi RISHA (Rumah Instan Sederhana Sehat) memiliki teknologi konstruksi knock down yang dapat dibangun dengan waktu cepat dan tahan terhadap bencana,” kata Direktur Jenderal Perumahan Kementerian PUPR, Iwan Suprijanto, Kamis (24/11/2022) lalu.

Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, mengatakan rekonstruksi pada wilayah terdampak bencana tidak hanya membangun kembali rumah yang rusak.

Tidak hanya itu, rumah yang dibangun diharapkan memiliki kualitas lebih baik dan lebih aman dari sebelumnya.

“Pemerintah membangun rumah masyarakat terdampak bencana bukan hanya memperbaiki kerusakannya saja namun juga mengharapkan adanya permukiman baru yang tangguh terhadap bencana sehingga masyarakat merasa aman dan nyaman,” ujar Basuki.

Teknologi RISHA dapat diaplikasikan pembangunan rumah komersial, terutama dalam mengatasi kurangnya pasokan (backlog) perumahan khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Dari hasil survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2020  memperlihatkan, angka backlog perumahan meningkat menjadi 12,75 juta unit. Angka itu belum termasuk pertambahan keluarga baru yang mencapai 700-800 ribu per tahun.

Dalam mengatasi backlog  pemerintah menjalankan program sejuta rumah untuk kalangan MBR. Konsep RISHA menjadi faktor kunci dalam membantu percepatan program Sejuta Rumah ini. Lantaran teknologi ini mempermudah, mempercepat pembangunan rumah tahan gempa. Teknologi ini dinilai sangat mudah untuk diaplikasikan juga dapat digunakan untuk pembangunan perumahan di daerah terpencil.▪︎[FEND]

Related Articles

Back to top button