Berita Utama

WARNING MEDSOS ANTI KEBANGSAAN & KEBERAGAMAN

▪︎ Spirit Sarasehan Kebhinekaan di Desa Pancasila, Lamongan (2)

▪︎LAMONGAN-POSMONEWS.COM,-
Sebagai narasumber utama di Sarasehan Nasional Kebhinekaan di Desa Pancasila, Emanuel Ebenezer (Ketua Relawan Jokowi) yang akrab dipanggil Bang Noel ini memang banyak ditunggu statemen sekaligus pandangan-pandangannya yang dianggap memberi pencerahan kepada peserta sarasehan.

Di sesi awal Bang Noel mengatakan kekagumannya terhadap Desa Pancasila, Balun yang ia lihat sebagai contoh Kebhinekaan dan keragaman yang selama ini terancam oleh sekelompok orang yang ingin merubah dengan paham atau idiologinya.

“Saya datang dan sengaja mencancel agenda kegiatan yang lain ini karena ketertarikan dan keingintahuan tergadap Desa Pancasila ini. Ternyata memang luar biasa.

Saya lihat dan mengikuti betapa Bapak Bupati datang dari masjid yang berdampingan dengan Pura warga Hindu untuk melakukan seremonial, lalu berjalan menuju gereja. Inilah satu contoh nilai kebhinekaan yang tercermin dalam idiologi Pancasila.

Dan saya dengar dari warga di sini, keragaman, kerukunan, dan sikap toleransi yang tinggi antara umat Islam, Hindu, dan Kristen yang hidup dalam satu wilayah desa Balun ini benar-benar terjalin dan terjaga. Hidup rukun, tentram dan damai. Ini negara harus melihat Balun dan Lamongan untuk menjadi contoh bagi daerah lainnya,” urainya.

Demi melihat Desa Balun ini, pria yang dulu merupakan “Aktifis 98” ini pun memampangkan fakta di kota besar, keberadaan buzer-buzer yang mengaku Pancasilais, hanya bisa nampang di medsos. Sehingga ia sebut sebagai Demokrasi medsos.

Hal yang menjadi warning terhadap keberagaman, juga idiologi kebangsaan. Oleh sikap intoleransi, anti kebhinekaan dari sebagian kelompok yang bisa menghancurkan negeri ini.

Bang Noel mencontohkan dirinya yang baru saja menjadi korban kelompok tersebut, dibuly dan ibarat dicabut hak hidupnya, sehingga ia dicopot dari jabatan sebagai Komisaris salah satu BUMN.

Ketua Relawan Jokowi ini tidak menafikan bab perbedaan, terapi ia justru memuji orang-orang yang mau diajak sharing, diskusi, dialog, dll itu yang disebutnya sebagai orang cerdas. Bahwa intelektualitas itu bisa didapat dari diskusi, dialog yang mencerdaskan.

Pria yang mengaku sering sowan di Pesantren Buntet ini menyayangkan jika keberagaman itu mulai tergerus. Sehingga yang terjadi hanya perbedaan pilihan, politik, lalu muncul diksi-diksi saling merendahkan. Sebutan binatang seperti cebong, kampret, kadrun, dll, terus dijadikan bahan menjatuhkan seseorang atau kelompok yang tidak sepaham.

Paparan Bang Noel, mendapat dukungan dari pandangan Pendeta Mahardika, bahwa apa yang ia bersama umat Kristiani Balun, tetap mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila itu dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Mahardika, Gereja mengaktualisasikan makna Pancasila itu sebagai dasar teologis. Buktinya, saat umat berdoa, salah satunya untuk bangsa dan negara. Ada Ritus, Doa Syafaat untuk bangsa dan negara.

“Bahaya medsos itu jadi sarana paham intoleransi. Medsos jadi akar permusuhan. Medsos yang sebenarnya maya, semu dan bukan sebuah realita. Maka, tantangan negara, terhadap perubahan di era popolarisasi ini harus dirajut kembali,” tukas Pendeta Mahardika. (habis).*DANAR SP*

Related Articles

Back to top button