Kek Catok Makhluk Misterius Budaya Dayak Penjaga Hutan

580 dibaca

▪︎POSMONEWS.COM,-
BUDAYA tutur masyarakat Dayak di Kalimantan memiliki legenda yang eksotis. Kisah mitologi penjaga hutan mereka kenal dengan sebutan Kek Catok. Lantas siapa sebenarnya sosok Kek Catok sang pejaga hutan tersebut?

Masyarakat Suku Dayak mempercayai bahwa sosok makhluk ini terkenal sebagai “macan dahan” yang senantiasa mengeluarkan bunyi “kung…kung… kung”. Suara itu selalu muncul di tenah hutan belantara, suara tersebut membikin bulu kuduk berdiri dan menggetarkan hati.

Dikisakan Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalimantan Barat (Kalbar), Blasius H Chandra, mengenang suara itu sangat menggetarkan jiwa tetapi juga menyeramkan. Ketika dirinya masih kecil, pernah suara itu muncul di tengah malam kala bermalam bersama orang tuanya di pondok ladang.

“Tengah malam di pondok ladang, suasana sangat hening. Ada suara serangga dan juga desah angin. Nah, sesekali terdengar suara “kung…kung…kung”. Tetapi terdengar sangat menggetarkan hati. Hingga sekarang saya tak bakal lupa kesan suara itu,” ucap Blasius.

Hingga sekarang dirinya telah menjadi seorang aktivis lingkungan, suara mistis itu beberapa kali pernah di dengarnya. Misalnya ketika dirinya pada malam hari berada di Bukit Sedayang, pedalaman Kabupaten Ketapang, suara mistis itu kembali terdengar.

Pada malam itu, suara itu masih tetap menggetarkan hati seorang Blasius, padahal dirinya tengah hidup di abad modern. Tetapi baginya, ingatan masa kecilnya tentang sosok penjaga hutan bernama Kek Catok yang ditanamkan orang tuanya masih mengiang dalam ingatannya.

Menurut penuturan orang tua zaman dahulu, Kek Catok merupakan jenis macan dahan, berkulit hitam, berbadan besar, dan bersuara menggema. Apabila sosok ini bersuara, berbagai isyarat bisa ditangkap oleh para sesupuh.

Di antaranya isyarat buah-buahan di hutan akan melimpah atau sebaliknya panen ladang akan gagal atau terkena serangan hama. Karena itulah dirinya yakin bahwa sosok Kek Catok merupakan bagian dari komponen alam liar di pedalaman hutan Kalimantan.

Walau banyak masyarakat yang menganggap sosoknya ini makhluk mistis, tetapi ini merupakan bagian dari kearifan tradisi. Karena itulah, suara Kek Catok hanya bisa terdengar di kawasan hutan yang masih lestari, seperti rimba belantara yang belum terjamah tangan panas kapitalis.

Mereka mempercayai bahwa sosok Kek Catok sebagai mahkluk penjaga hutan, karena mampu mengendalikan kerakusan manusia yang ingin merusak dan mengambil kekayaan hutan seenaknya.

Itu sebabnya, masyarakat Suku Dayak Simpakng senantiasa mengelola hutan secara lestari, mempertahankan tradisi berladang, dan menolak perkebunan monokultur yang merusak alam.

Karena itulah di area hutan yang pernah terdengar suara Kek Catok, belum ada manusa yang berani merambahnya. Contohnya, Bukit Sedayang hingga kini masih dipenuhi oleh lebatnya buah durian, madu pohon, air jernih, udara segar, dan aneka hasil alam.
Suara yang menggetarkan jiwa itu boleh jadi bakal sirna seiring ekspolitasi hutan gila-gilaan di Bumi Kalimantan. Pandangan prokapitalis tak bakal melihat kelestarian secara utuh.

Hal ini terbukti dari upaya korporasi yang tidak segan menggusur hutan adat, perkuburan, bahkan tembawang. Padahal tembawang merupakan bekas kampung tua, yang pernah ada kehidupan manusia lengkap dengan perkakasnya.

Kesaksian Makhluk Mistis

Kesaksian serupa pernah diutarakan oleh aktivis lingkungan dari Kabupaten Sintang, Shaban Stiawan. Pria kelahiran Sintang ini mengaku pernah mendengar suara mistis itu di belantara rimba. Di daerahnya, makhluk ini dikenal dengan “Remaong”, dan ketika kecil dirinya sering mendengar suara menggetarkan hati itu.

Makhluk ini memang memiliki beragam nama pada masing-masing daerah, misalnya di Desa Balai Semandang, Kabupaten Ketapang, Kalbar, sekitar 120 kilometer dari Pontianak, sosok ini disebut “Kek Tung”. Dia hanya bersuara di tengah rimba belantara dan jarang-jarang orang bisa melihat wujud aslinya.

Sementara itu FX Beleng seorang tokoh Dayak Simpakng yang telah lama tinggal dan bekerja di Pontianak menyatakan hikayat ini telah menyatu dalam ritme kehidupan masyarakat pedalaman sebagai penjaga hutan yang paling tua.

“Selain Kek Catok, kami juga menyebutnya Togukng, macan dahan, serta Remaong. Wujudnya benar-benar berupa satwa, tetapi memiliki nilai mistik melalui suaranya. Jika bersuara, isyarat akan terjadi sesuatu, pada umumnya ke arah yang buruk,” tutur pria yang oleh Komunitas Dayak Simpakng di Kota Pontianak diberi kepercayaan sebagai Tamongokng atau semacam kepala adat, seperti ditulis kompas.com.

Menurut Beleng beberapa isyarat buruk ini bisa jadi berupa gagal panen, tokoh tertentu ada yang meninggal dunia, serta malapetaka. Sedangkan isyarat onya sumakng labatn atau orang yang menikah dan mempunyai hubungan sedarah yang sangat dilarang oleh adat.

Menurutnya, manusia sekarang bisa berhubungan dengan Togukn melalui keturunannya yang masih hidup hingga kini. Misalnya mereka meminta bantuan untuk mengobati suatu penyakit, atau sebaliknya untuk berperang.

Misteri Intan Danau

Diceritakan juga oleh Baleng, pada 2007 di Desa Sekatep Kecamatan Simpang Dua, sekitar 240 kilometer dari Kota Pontianak, diduga ada Togukng yang ditembak warga. Dirinya pun bergegas ke rumah warga itu dan mengamati bangkai hewan yang sekira ukuran kambing jantan itu.

Menurutnya bangkai hewan itu memilki ciri-ciri yang persis dengan Togukng. Terutama ada keanehan di tubuhnya, yakni guratan menyerupai gambar pedang, senapan lantak dan atribut masyarakat Dayak. Baleng menyebut terkadang Togukng bisa terkena nasib nahas yang dalam bahasa lokal disebut “kempunan”.

Kempunan merupakan malapetaka yang sewaktu-waktu bisa menimpa tanpa diprediksi. Biasanya ini terjadi ketika kita tidak menyentuh makanan yang ditawarkan seseorang sebelum bepergian. Makannya dalam tradisi Dayak, ketika hendak berpergian, lalu tiba-tiba ditawarkan minuman haruslah diterima.

“Togukng pun bisa saja kempunan, entahlah apa sebabnya. Akibat kempunan itu, dia bisa mati tertembak peluru,” tandasnya.

Ketika itu, Beleng menceritakan bahwa pemburu itu sering bermimpi bahwa yang ditembak adalah anak macan. Karena itu ada semacam ancaman, jika dia kembali masuk hutan dan berjumpa dengan kerabat Togukng lainnya, maka dia akan dibunuh sebagai balas dendam kesumat.

“Tiga bulan lamanya, sang penembak itu tak berani keluar rumah. Kami menggelar ritual adat “ngurokng minu”, artinya mengurung semangat si penembak, agar tidak mengembara ke mana-mana. Ritual ini dipimpin oleh seorang dukun, yang minta perlindungan kepada Yang Kuasa agar tak terjadi mara bahaya,” ujarnya.

Di daerah Desa Butong, Kecamatan Teweh Tengah, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah (Kalteng) pernah dikagetkan dengan tertangkapnya binatang liar yang ternyata macan dahan (Neofelis diardi borneeensis). Penemuan ini membuat gempar masyarakat di sekitar tempat tinggal.
**(zi/rk)