Berita Utama

Dayak Basap Barter Ubi dengan Beras dan Garam

▪︎Menyusuri Kehidupan Suku-suku Asli di Kalimantan (3)

SUKU-SUKU mendiami Pulau Kalimantan jumlahnya puluhan. Ada banyak Suku Dayak di Kalimantan. Di antaranya di Kalimantan Timur, Suku Dayak Basap tinggal di pedalaman hutan Kabupaten Berau, berbatasan dengan Kabupaten Kutai Timur. Bagaimana kehidupannya?

Kampung Teluk Sumbang, di ujung timur Kalimantan Timur. Di Teluk Sumbang, ada perkampungan Dayak Basap, yang terlihat begitu sederhana.

Sosok pria tua berpakaian lusuh, muncul di hadapan sambil menenteng mandau, sejenis parang tajam berukuran panjang.

Rasa ketakutan perlahan sirna, ketika pria itu menebar senyum dan menyapa. Dia adalah Yustinus, salah satu orang tua di tengah masyarakat Dayak Basap. Namun di tengah masyarakat Dayak Basap, dia bernama Julingkap.

Di usianya yang ke-65 tahun, bukan penghalang untuk berkebun, yang sudah menjadi aktivitas rutin setiap harinya. Meski sesekali, dia mengurut lutut kaki kirinya yang nyeri.

“Kalau fisik masih kuat ke kebun. Tapi kadang ada nyeri di lutut kaki saya ini,” kata Julingkap mengawali perbincangan di bawah pepohonan sekitar air terjun Bidadari di Kampung Teluk Sumbang.

Julingkap sudah tinggal di kampung Teluk Sumbang 35 tahun. Sebelumnya, sejak masih anak-anak, dia tinggal di dataran tinggi tengah hutan batas Berau dan Kutai Timur.

Julingkap mengingat jelas masa kecilnya. Kala itu, kehidupannya terbilang primitif, masih mengenakan celana cangcut. Sumber makanan berasal dari ubi-ubian, padi dan hasil berburu hewan menggunakan sumpit. Tentu saja, saat itu, tidak ada air bersih PDAM.

“Kalau air minum, dari air perbukitan. Kalau makan pun terkadang kita barter. Kalau masyarakat di sini (kampung Teluk Sumbang) perlu ubi, kami barter dengan beras, dan sebaliknya,” ungkap Julingkap.

Perilaku yang hanya mengenakan cangcut bagi lelaki Dayak, perlahan berubah setelah mengenal masyarakat luar. “Bagi kami, mengenal siapapun, orang baik kami juga baik. Kalau tidak baik, kami tentu berjaga-jaga,” sebut Julingkap.

“Hingga pengaruh budaya masyarakat di luar kami ini, akhirnya kami Dayak Basap mengenakan pakaian umumnya dipakai masyarakat. Dan turun dari bukit, untuk bertempat tinggal di dekat Pantai Teluk Sumbang ini,” tambah dia, sambil sesekali menyeka keringat di dahinya.

Obrolan sempat terhenti sebentar. Tatapan Julingkap menatap ke arah kebun pisang dan padi gunung yang terkenal sebagai beras pulen, yang selama ini menghidupinya bersama 3 anaknya.

“Kalau pisang, saya jual ke Samarinda. Tapi kalau padi gunung, buat konsumsi sehari-hari. Sepertinya, tidak ada anak saya yang meneruskan bekerja sehari-hari di kebun,” demikian Julingkap.
**(zubi)

Related Articles

Back to top button