Kasus Covid-19 Varian Inggris Ditemukan di Tangerang

Kasus pertama varian baru covid-19 dari Inggris ditemukan di Indonesia. Seorang warga Kabupaten Tangerang, Banten terpapar virus tersebut usai melaksanakan perjalanan dari Inggris.
Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Tangerang, dr Hendra Tarmizi mengatakan warga tersebut diketahui terpapar varian baru covid-19 dari Inggris setelah melalui screening.
“Ya, ada. Dari Inggris. Tetapi sudah sembuh waktu pulang, setelah karantina di Jakarta. Satu orang yang terkena, tanpa gejala,” kata Hendra di Tangerang, Kamis (6/5/21).
Dengan penanganan yang cepat, virus Covid-19 dari Inggris yang dikenal dengan nama B117 itu dengan cepat diatasi. Hendra menyebut warga tersebut belum sempat menularkan ke lingkungan dan warga lain.
“Belum (sempat menularkan). Jadi, ibu itu dari luar negeri dan discreening (hingga akhirnya ketahuan, bahwa dirinya terpapar varian Covid-19 diduga B117). Ya, ini kasus impor pertama,” ucapnya.
Varian Covid-19 B117 diketahui lebih ganas dan memiliki tingkat penularan yang tinggi, sekitar 50 persen dibanding strain aslinya. Virus ini juga lebih mematikan dari varian Covid-19 di Indonesia.
Secara umum, penderita varian Covid-19 ini akan merasakan batuk dan sakit tenggorokan. Lalu penderita akan merasakan demam, mengalami kelelahan, dan nyeri otot. Tidak ada yang berbeda dengan gejala umum Covid-19.
Pakar UGM Soal Corona dari Inggris
Inggris mengidentifikasi varian baru virus Corona yang tampaknya menyebar lebih cepat, bahkan studi menunjukkan penyebarannya yang cepat mungkin akan menyebabkan pasien bertambah dan risiko kematian yang lebih tinggi. Pakar UGM meminta masyarakat untuk waspada namun tidak perlu khawatir berlebihan.
Seperti dilansir Detik.com bahwa Ketua Pokja Genetik FK-KMK UGM dr. Gunadi mengatakan, publik dikagetkan dengan adanya peningkatan jumlah kasus COVID-19 yang signifikan di Inggris bulan Desember ini. Hasil analisis genomik virus Corona menunjukkan adanya sekelompok mutasi atau varian baru pada >50 persen kasus COVID-19 di Inggris tersebut.
“Varian ini dikenal dengan nama VUI 202012/01 (Variant Under Investigation, tahun 2020, bulan 12, varian 01), yang terdiri dari sekumpulan mutasi antara lain 9 mutasi pada protein S (deletion 69-70, deletion 145, N501Y, A570D, D614G, P681H, T716I, S982A, D1118H). Varian baru (501.V2) juga ditemukan secara signifikan pada kasus COVID-19 di Afrika Selatan yaitu kombinasi 3 mutasi pada protein S: K417N, E484K, N501Y,” katanya.
Terkait sebaran mutasi virus tersebut, Gunadi menyebut sampai hari ini varian VUI 202012/01 telah ditemukan pada 1.2 persen virus pada database GISAID, di mana 99% varian tersebut dideteksi di Inggris. Selain di Inggris, varian ini telah ditemukan di Irlandia, Perancis, Belanda, Denmark, Australia. Sedangkan di Asia baru ditemukan pada 3 kasus yaitu Singapura, Hong Kong dan Israel.
“PCR untuk diagnosis infeksi COVID-19 mendeteksi kombinasi beberapa gen pada virus Corona, misalnya gen N, gen orf1ab, gen S, dll. Karena varian baru tersebut terdiri dari multipel mutasi pada protein S, maka diagnosis COVID-19 sebaiknya tidak menggunakan gen S, karena bisa memberikan hasil negatif palsu,” ujarnya.
Dari 9 mutasi tersebut pada VUI 202012/01, ada satu mutasi yang dianggap paling berpengaruh yaitu mutasi N501Y. Hal ini karena mutasi N501Y terletak pada Receptor Binding Domain (RBD) protein S. RBD merupakan bagian protein S yang berikatan langsung dengan ACE2 receptor untuk menginfeksi sel manusia.
“Mutasi ini diduga meningkatkan transmisi antar manusia sampai dengan 70%. Namun, mutasi ini belum terbukti lebih berbahaya/ganas. Demikian juga, mutasi ini belum terbukti mempengaruhi efektivitas vaksin Corona yang ada,” ucapnya.
Gunadi menambahkan, bahwa masyarakat diminta untuk lebih waspada dalam menyikapi adanya mutasi tersebut. Namun, Gunadi berharap agar masyarakat tidak menyikapinya dengan kekhawatiran yang berlebihan.
“Masyarakat boleh waspada dengan adanya mutasi baru tersebut, namun tidak perlu disikapi dengan kekhawatiran berlebihan. Masyarakat tetap harus menerapkan 3M (memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak atau menghindari kerumunan),” kata Gunadi.
**(ram/dim)




