Berita Utama

Wanitanya Cantik-cantik, Pria Lain Bebas Tiduri di Depan Suaminya

• Menengok Tradisi “Nyeleneh” Etnis Kalash di Pakistan

BUDAYA dan tradisi “nyeleneh” terjadi pada etnis Kalash di Pakistan. Etnis ini, seorang wanita bisa saja berhubungan seks dengan pria mana pun di depan suaminya.

Cerita mengenai urusan ranjang di setiap negara memang berbeda-beda dan cenderung menunjukkan budaya, sejarah dan perkembangan negara dan wilayah itu setiap periode.

Adat istiadat yang menunjukkan budaya dan identitas khas, tetapi ada pula adat yang menjadi tradisi dan budaya tandingan.

Kalash merupakan etnis minoritas di Pakistan yang dikenal dengan kulit pucat dan mata berwarna terang. Populasi 4.000 orang Kalash tersebar di tiga lembah terpencil.

Orang Kalash mengatakan, mayoritas turis Pakistan yang berkunjung ke desa-desa adalah pria muda yang sering bertanya tentang di mana mencari wanita lokal.

Orang Kalash hidup dalam pengasingan di beberapa desa dan setiap tahun mereka menyambut musim semi dengan festival unik yang disebut Joshi.

Festival ini diikuti pula dengan pengorbanan hewan, pembaptisan dan pernikahan. Orang Kalash menyembah banyak dewa.

Minum salah satu tradisi dan pernikahan pilihan adalah norma, tidak seperti di bagian lain Pakistan. Anggota etnis Kalash sering menikah di akhir usia belasan, di mana sebagian besar perempuan memiliki tingkat pendidikan yang rendah.

Terutama setelah menikah, perempuan hanya melakukan pekerjaan rumah tangga tradisional. Cerita tentang Kalash sering beredar.

Sebuah video yang telah dilihat 1,3 juta kali di Youtube, mengklaim wanita Kalash diizinkan secara terbuka melakukan hubungan seks dengan pasangan pilihan mereka di hadapan suami mereka.

Banyak orang bahkan menyebarkan bahwa wanita Kalash itu cantik dan siapa pun memiliki kesempatan untuk menikahi gadis mana pun di sana.
Adat serupa lainnya datang dari suku Ma Thoa.

Sampai tahun 1950-an, etnis minoritas Ma Thoa (Moso) di provinsi Yunnan China masih mengikuti sistem matriarkal dan memandang laki-laki sebagai “bukan apa-apa”.

Di negeri ini, tidak ada dua konsep perkawinan dan kehidupan menikah, karena seks sepenuhnya dibebaskan. Tergantung pada preferensi masing-masing orang.
Anak-anak dilahirkan hanya mengetahui ibu mereka, dan paman akan bertanggungjawab membesarkan mereka atas nama ayah mereka.

Pada usia 13-14 tahun, baik laki-laki maupun perempuan mulai jatuh cinta. Pada saat itu, gadis itu akan diberi nama baru dan mendapatkan kamar terpisah, sehingga dia dapat dengan bebas menyambut semua anak laki-laki yang dia sukai. Tanpa memandang usia atau pun status sosial.

Ada pun anak laki-laki, mereka harus diam-diam melakukan “kunjungan” secara sembunyi-sembunyi.

Mereka memasuki kamar melalui jendela saat malam, dan pergi pagi-pagi di keesokan harinya. Pria itu akan memberikan pesan isyarat dengan menggaruk telapak tangan gadis itu dengan ringan. Jika si gadis setuju, gadis tersebut akan menarik tangannya dan membiarkannya masuk ke kamar. Seorang gadis juga diperbolehkan untuk membawa lebih dari satu pria di malam yang sama.

Du Zhi Ma, 61 tahun, telah tinggal bersama pacarnya, Gan Ru, sejak usia 18 tahun. Saat ini, pacarnya masih sering mengunjungi rumahnya, tetapi tempat tinggal resminya masih di rumah ibu kandungnya.

Namun, orang dari suku lain akan selalu menjadi prioritas nomor satu. Tujuannya adalah untuk menghindari garis keturunan. Tentu saja gadis-gadis ini tidak bisa memilih seseorang orang yang berasal dari klan yang sama, karena ada aturan ketat bahwa anggota lawan jenis di klan yang sama dilarang melakukan apa pun yang berhubungan dengan seks.

Sampai saat ini, pria dan wanita dari klan yang sama tidak diizinkan untuk menonton TV bersama untuk menghindari kemungkinan mereka menonton adegan romantis.

Bagaimana pun, praktik kebebasan seksual dimaksudkan untuk menghilangkan hambatan fisik dan menghindari prostitusi. Warga di sini juga tidak tahu apa konsep “jualan seks”.**(ram/tribM)

Related Articles

Back to top button