Ramalan Jayabaya Jawa Kiamat dan Prediksi Tsunami 20 Meter
DALAM buku Ramalan Jayabaya menyebut tanah Jawa akan memasuki zaman Kalasutra atau kebijaksanaan pada 2022. Ramalan mengatakan setelah zaman Kalasutra lewat, tanah Jawa menghadapi kiamat kubra. Apa berhubungan erat dengan prediksi bencana besar akan terjadi di wilayah selatan Pulau Jawa. Tim riset dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkap potensi gempa besar dapat memicu tsunami hingga setinggi 20 meter.
Tentu saja itu hanya sebuah ramalan dan prediksi, tetunya tidak diketahui pasti apakah ramalan tersebut terbukti atau tidak. Selama ini Prabu Jayabaya merupakan seorang raja dari Kediri dikenal sebagai peramal ulung dan ramalannya banyak menjadi kenyataan.
Menurut ramalan Jayabaya, tahun 2022 masuk dalam tahun ganjil atau Kalasutra. Zaman Kalasutra ini menggambarkan tanah Jawa dihuni orang yang baik budi dan lemah lembut hatinya, namun setelah itu berganti, yang artinya menemui kiamat kubra.
Berikut 20 misteri dan tanda-tanda kiamat kubra di Jaya yang diramalkan Jayabaya pada 2022 dilansir dari laman solopos.com:
1. Umah ala saya dipuja, artinya rumah maksiat makin dipuji.
2. Wong wadon lacur ing endi-endi, artinya banyak perempuan lacur di mana-mana.
3. Akeh laknat, artinya banyak kutukan.
4. Akeh pengkhianat, artinya banyak pengkhianat.
5. Anak mangan bapak, artinya anak berani pada bapaknya.
6. Sedulur padha mangan sedulur, artinya saudara makan saudara tidak rukun.
7. Kanca dadi musuh, artinya kawan jadi lawan.
8. Guru disatru, artinya banyak guru dimusuhi.
9. Tangga lan curiga, artinya tetangga saling curiga.
10. Pedagang akeh sing kepelarang, artinya pedagang banyak yang tenggelam.
11. Wong utana akeh sing dadi, artinya penjudi banyak yang merajalela.
12. Akeh barang kang haram, artinya banyak barang haram.
13. Akeh anak kang haram, artinya banyak anak haram.
14. Wong wadon ngelamar wong lanang, artinya perempuan melamar laki-laki.
15. Wong lanang ngasura derajate dhewe, artinya laki-laki menghina derajatnya sendiri.
16. Akeh barang-barang melebuh luang, artinya banyak barang-barang yang terbuang.
17. Akeh uwong kaliren lan wuda, artinya banyak orang lapar dan telanjang.
18. Wong tuku ngelenik wong dodol, artinya pembeli membujuk penjual.
19. Sing dodol akal okol, artinya penjual membujuk si penjual.
20. Wong golek pangan kayak gabuh diintri, artinya ibarat mencari rezeki ibarat gabuh ditampik.
Potensi Tsunami 20 Meter
Bencana besar diprediksi akan terjadi di wilayah selatan Pulau Jawa. Tim riset dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkap potensi gempa besar yang dapat memicu tsunami hingga setinggi 20 meter.
Salah satu anggota tim peneliti ITB, Endra Gunawan, mengatakan bahwa selatan Jawa diketahui sebagi lokasi rawan gempa. Hal itu lantaran Pulau Jawa berada di zona subduksi antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia.
Interaksi antara dua lempeng tersebut yang masih berlangsung hingga saat ini dan masa yang akan datang tentu menjadi isyarat bahwa gempa bisa kapan saja terjadi.
“Nah itu kita bisa deteksi, kita bisa olah, analisis. Dari analisis tersebut menunjukkan bahwa ada potensi saat pengumpulan energi itu yang terjadi di selatan Jawa,” kata Endra kepada Liputan6.com, Kamis (24/9/20).
Menurut Endra, potensi gempa besar dan tsunami ini terjadi di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa mulai dari barat hingga timur. Lindu besar ini terjadi dari akumulasi energi yang terkumpul selama ratusan hingga ribuan tahun.
Potensi tsunami paling besar berada di selatan Jawa Barat yang bisa mencapai 20 meter dan 12 meter di selatan Jawa Timur. Perbedaan ini disebabkan beragamnya zona kuncian gempa. Menurut Endra, tak semua zona patahan di selatan Jawa memiliki kekuatan yang sama.
“Jadi masing-masing punya kekuatannya masing-masing. Nah Jawa Barat ternyata kunciannya itu yang paling besar dibandingkan di bagian tengah dan timur di Jawa Timur,” ungkap Dosen ITB dengan kelompok keahlian Geofisika Global ini.
Peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Purna Sulastya Putra, mengatakan potensi gempa besar hingga memicu tsunami memang ada di pesisir selatan Jawa. Hal itu terlihat dari bukti-bukti geologi tsunami purba yang pernah terjadi ribuan tahun silam.
Purna mengungkapkan, tim Geoteknologi LIPI telah menjelajahi sepanjang garis pantai selatan Jawa mulai dari Banten hingga ujung timur. Bahkan menyeberang hingga ke pesisir selatan Nusa Tenggara Barat (NTB).
“Nah itu kami menemukan paling tidak, ada tiga sampai empat bukti geologi bahwa tsunami besar yang diakibatkan oleh gempa besar megathrust selatan Jawa itu paling enggak pernah terjadi empat kali. Empat kali itu kita temukan dalam (rentang) tiga ribu tahun lalu,” kata Purna.
“Jadi sebenarnya hasil dari teman-teman ITB ini ya mengonfirmasi hasil kami juga, karena itu kan mereka lebih ke seperti permodelan tsunaminya. Sebenaranya bukti-bukti geologinya sudah kami temukan, jadi hasil kedua tim ini sebenarnya saling melengkapi,” sambungnya.
Dia menjelaskan, bukti geologi yang dimaksud adalah material dan mikroorganisme laut yang ditemukan di daratan akibat terbawa tsunami. Material tersebut kemudian diteliti lebih lanjut hingga ke ruang laboratorium untuk mengetahui usianya.
Menurut Purna, tsunami besar bisa saja menerjang seluruh kawasan pantai selatan Jawa jika panjang patahan gempa mencapai 900 hingga 1.000 kilometer. Tim LIPI telah menemukan bukti geologi bahwa tsunami pernah terjadi di sepanjang pantai selatan Jawa.
“Kami menemukan bukti geologinya itu di mulai di Binuangeun Lebak (Banten) kemudian di ujung Sukabumi, di Pangandaran, di Cilacap, di Kulonprogo, kemudian di Lumajang. Bahkan sampai di pantai selatan Bali yang kemungkinan. Namun di Bali kita belum punya hasil dating atau pengukuran umurnya,” ujarnya.
Purna menjelaskan, empat kali gempa besar itu diperkirakan terjadi pada 400 hingga 500 tahun lalu, kemudian 1.000 tahun lalu, 1.800 tahun lalu, dan terakhir 3.000 tahun lalu. Gempa itu berkekuatan di atas magnitudo 9 yang mengakibatkan tsunami besar di selatan Jawa.
Kendati begitu, Purna mengakui bahwa hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu mendeteksi secara pasti kapan terjadinya gempa. Namun dari hasil penelitian dan bukti geologi yang diperoleh, siklus gempa besar yang memicu tsunami di selatan Jawa itu terjadi sekitar 600 hingga 800 tahun sekali.
“Kalau kejadian terakhir itu 400 tahun yang lalu, maka bisa jadi 200 tahun yang akan datang (gempa dan tsunami besar) itu akan kejadian,” ucapnya.
Lebih lanjut, Purna menuturkan bahwa potensi tsunami juga terjadi di pantai utara Jawa, meski tak sedahsyat pesisir selatan. Tsunami itu bisa terjadi akibat longsoran bawah laut atau sesar aktif ke arah laut.
“Misal kejadian di Palu. Nah di utara Jawa kita punya juga sesar aktif yang kemungkinan bisa menggerus ke arah utara laut Jawa. Makanya banyak sekali yang harus kita lakukan memindai sesar aktif yang ada di utara Jawa. Misal di Demak itu kan ada sesar Muria. Itu bisa saja dia bergerak dan menyebabkan longsor bawa laut,” katanya menjelaskan.
Bahkan sumber gempa dan tsunami di wilayah Banten lebih besar, terutama di Selat Sunda karena ada Gunung Krakatau dan sesar aktif yang banyak. Apalagi wilayah tersebut juga berada pada zona subduksi atau tumpukan lempeng yang menghubungkan barat Sumatera dan selatan Jawa.
“Sehingga potensi di Banten sebenarnya lebih tinggi,” ujar Purna.
Purna menuturkan, cara yang paling sederhana dan tidak banyak memakan anggaran untuk memitigasi bencana adalah memberi tahu masyarakat bahwa dia tinggal di zona rawan tsunami. Sehingga ketika terjadi gempa yang cukup kuat, dengan cepat masyarakat bisa mencari tempat yang lebih aman.
“Tapi pemerintah juga harus menyiapkan informasi kalau ada tsunami harus lari ke mana tujuannya (jalur evakuasi), sehingga kalau terjadi masyarakat tahu apa yang harus dilakukan,” katanya.
Selain menyiapkan jalur, Purna juga mengusulkan pemerintah membangun lokasi evakuasi di sekitar pantai. Hal itu perlu dilakukan terutama di wilayah pesisir yang jauh dari dataran tinggi.
“Misalnya bentuknya seperti menara yang hanya tiang-tiang kemudian ada tangganya. Kemudian di bagian atas dibuat lantai yang bisa untuk menampung banyak orang, sehingga mungkin kalau ada tsunami, kalau bangunannya seperti itu mungkin juga kuat,” ucapnya.
Purna melihat, saat ini sumber daya manusia dan teknologi yang dimiliki Indonesia masih belum memadai untuk memitigasi bencana sebesar itu. Namun dia optimistis pemerintah terus melakukan perbaikan untuk meminimalisasi dampak bencana.
“Mungkin belum kalau gempanya besar. Tapi sebenarnya pemerintah terus bersiap. Banyak sekali juga perbaikan-perbaikan peringatan dini setelah tsunami anak krakatau kemarin. Harapannya juga kita semakin siap. Tapi kalau gempa besar mungkin kita harus lebih bersiap lagi,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Daryono mengapresiasi hasil kajian potensi gempa megathrust selatan Jawa yang dikeluarkan para ahli kebumian ITB.
Dia berharap, kajian ilmiah itu dapat mendorong semua pihak agar lebih memperhatikan upaya mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami.
“Perlu ada upaya serius dari berbagai pihak untuk mendukung dan memperkuat penerapan building code dalam membangun infrastruktur. Masyarakat juga diharapkan terus meningkatkan kemampuannya dalam memahami cara selamat saat terjadi gempa dan tsunami,” kata Daryono.
Dia menuturkan, skenario model yang dihasilkan dalam penelitian tersebut merupakan gambaran terburuk (worst case). Skenario itu dapat dijadikan acuan dalam upaya mitigasi guna mengurangi risiko bencana gempa dan tsunami.
“Kita akui, informasi potensi gempa kuat di zona megathrust memang rentan memicu keresahan akibat salah pengertian (misleading). Masyarakat ternyata lebih tertarik membahas kemungkin dampak buruknya daripada pesan mitigasi yang mestinya harus dilakukan,” ucapnya.
Informasi potensi gempa kuat selatan Jawa ini bergulir cepat menjadi berita yang sangat menarik. Masyarakat awam pun menduga seolah dalam waktu dekat di selatan Pulau Jawa akan terjadi gempa dahsyat, padahal tidak demikian.
Meskipun kajian ilmiah mampu menentukan potensi magnitudo maksimum gempa megathrust dan skenario terburuk, akan tetapi hingga saat ini teknologi belum mampu memprediksi dengan tepat dan akurat kapan dan di mana gempa akan terjadi.
“Maka dalam ketidakpastian kapan terjadinya, yang perlu dilakukan adalah upaya mitigasi dengan menyiapkan langkah-langkah kongkret untuk meminimalkan risiko kerugian sosial ekonomi dan korban jiwa,” tuturnya.
Daryono mengatakan, informasi hasil kajian ini hendaknya tidak mempertajam kecemasan dan kekhawatiran masyarakat. Tetapi harus segera direspons dengan upaya mitigasi yang nyata.
“Apakah dengan meningkatkan kegiatan sosialisasi mitigasi, latihan evakuasi (drill), menata dan memasang rambu evakuasi, menyiapkan tempat evakuasi sementara, membangun bangunan rumah tahan gempa, menata tata ruang pantai berbasis risiko tsunami, serta meningkatkan performa sistem peringatan dini tsunami,” ujarnya memungkasi.
**(zi)


