Mega Proyek Prestisius di Jalur Segetiga Emas

• Catatan Ringan Proyek Tol Yogya-Solo-Semarang
Setelah sekian lama menjadi wacana dan maju mundur. Akhirnya mega proyek jalan tol di kawasan segitiga emas Joglosemar (Jogjakarta, Solo, Semarang) terwujud.
Jalan tol sepanjang 75,8 km dinyatakan dimulai dibangun pada pertengahan 2021 ini dan direncanakan selesai akhir 2023. Hal tersebut ditandai dengan prosesi penandatanganan perjanjian pengusahaan jalan tol yang digelar di pelataran Candi Borobudur, Magelang pada 13 Nopember 2020 tahun lalu.
Perjanjian itu diteken oleh Danang Parikesit, sebagai Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) dan Mirza Nurul Handayani, pimpinan dari Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT Jasamarga Yogya Bawen, konsorsium yang akan menggarap proyek strategis tersebut.
‘’Konstruksinya dimulai setelah pembebasan tanah selesai, dan mudah-mudahan bisa selesai kuartal III tahun 2023,’’ kata Danang Parikesit.
Proyek jalan tol ini telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) melalui Peraturan Presiden nomor 58 tahun 2017 dan ditetapkan pula sebagai Proyek Infrastruktur Prioritas melalui Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian pada 31 Agustus 2017.
“Dengan jalan tol Yogyakarta-Bawen, kami mengharapkan peningkatan konektivitas dan kemajuan ekonomi, khususnya Semarang, Solo, dan Yogyakarta dan mendukung kawasan pariwisata super prioritas candi Borobudur bisa terlaksana,” kata Danang menambahkan.
Dengan jalan tol ini, jalur Semarang ke Yogya bakal lebih cepat. Selama ini, untuk menempuh sekitar 105 km, yakni dari Yogya ke Bawen (jalan regular 75 km) dan dari Bawen-Semarang 30 km jalan tol, diperlukan waktu lebih dari 2,5 jam. Kadang sampai 3 jam. Lalu lintas yang padat dan jalan yang sempit menjadi masalah yang makin hari semakin kronis.
Jalan tol Yogyakarta-Bawen itu melintas di wilayah Jawa Tengah sepanjang 67,05 km dan DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) sepanjang 8,77 kilometer. Ruas tol ini terdiri dari enam seksi yaitu Seksi 1 Sleman-Banyurejo (8,25 km), Seksi 2 Banyurejo hingga Borobudur (15,26 km), Seksi 3 Borobudur-Magelang (8,08 Km), Seksi 4 Magelang-Temanggung (16,46 km), kemudian Seksi 5 Temanggung-Ambarawa 22,56 Km, dan Seksi 6 Ambarawa-Bawen (5,21 km).
Dalam pembangunannya, tol Yogyakarta-Bawen memiliki enam simpang susun (SS), yaitu SS Bawen, SS Ambarawa, SS Temanggung, SS Magelang, SS Borobudur, serta SS Banyurejo. Keenam SS itu juga akan menjadi pintu masuk-keluar jalan tol dari kedua arah. Jalur itu kelak akan diramaikan dengan enam buah tempat istirahat dan pelayanan (TIP) atau rest area.
Jalan tol ini akan memberikan akses Yogyakarta ke jalan tol TransJawa melalui Magelang dan titik temunya adalah di Bawen, simpul penting dalam sistem jaringan jalan raya di Jawa Tengah. Dari Semarang, baik dengan jalan tol maupun jalan regular melewati Bawen untuk menuju Solo. Di Bawen itu pula nantinya jalan tol bercabang, yaitu arah Timur menuju Solo, Selatan menuju Yogya, melewati Kota Ambarawa, wilayah Kabupaten Temanggung, Magelang, Borobudur, lalu ke DIY.
Dengan tol ini, perjalanan dari Kota Semarang menuju kota-kota pedalaman Jawa Tengah juga akan lebih cepat. Misalnya melalui simpang susun Temanggung, mobil bisa langsung menuju ke kota Temanggung dalam waktu 15 menit, untuk seterusnya menuju Wonosobo, Banjarnegara, dan Purwokerto. Dari simpang susun Borobudur, kendaraan itu akan lebih mudah mengakses Kota Purworejo, Kebumen, hingga Cilacap.
Ruas tol Bawen-Yogya ini diperkirakan akan rampung pada waktu yang bersamaan dengan tol Solo-Yogya yang kini mulai dikerjakan konstruksinya. Jalur ini juga tidak mulai dari nol, namun memanfaatkan jalur tol TransJawa yang sudah ada. Dari titik Kartasura (11 km dari Solo), ruas tol TransJawa itu disudet ke arah Barat Daya menuju Yogyakarta, melewati Klaten, dan Kompleks Candi Prambanan.
Jalan tol Solo-Yogya itu akan bertemu dengan tol Semarang-Yogya di daerah Gamping, kawasan Barat Yogya. Dari situ, ruas tol akan berlanjut ke bandara baru Yogyakarta International Airport (YIA). Dalam rencana jangka panjang, jalan tol tersebut akan memanjang ke barat, melalui Kota Purworejo, Kebumen, menuju Cilacap, dan seterusnya ke Bandung.
Dengan dua ruas tol baru itu, ada konektivitas yang kuat dari tiga kota besar yakni Yogya, Solo, dan Semarang-yang sering disingkat sebagai Joglo Semar. Wilayah segitiga emas Joglo Semar ini sejak lama dikenal sebagai sentral industri rumahan dan industri kecil. Sarana jalan tol bisa diharapkan menambah daya saing mereka. Segitiga Emas Joglo Semar ini juga terkenal sebagai daerah wisata domestik dan internasional, dengan Kawasan Wisata Candi Borobudur sebagai pusat gravitasinya.
Setidaknya sudah sejak bertahun-tahun lalu segitiga Joglo Semar itu digadang-gadang menjadi wilayah pengembangan strategis yang terintegrasi dan bisa saling melengkapi. Tiga kota, yakni Yogya, Solo, dan Semarang pun diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan bagi kawasan hinterland, yakni area pedalaman di belakangnya.
Jalan Tol Bawen-Yogya dan Solo-Yogya tentunya akan menjadi urat nadi baru bagi Joglo Semar. Ruas tol itu tentu bisa diharapkan memberi percepatan perkembangan ekonomi dan sosial di kawasan tersebut, berikut wilayah pinggiran di sekeliling sisi-sisi segitiga tersebut.
**(fend)


