Reaktif

189 dibaca

Oleh: Mahmud Suhermono
(JTV Surabaya)

Ternyata tidak hanya Rapid Test aja yang hasilnya reaktif, namun isu kecil, remeh temeh, ecek-ecek dan tidak jelas sumbernya, langsung disamber bak tumpukan jerami kering terkena puntung rokok, yang masih menyapa apinya.

Api langsung membesar dan merembet kemana-mana, dalam waktu singkat. Sejak pagi kemarin hingga hari ini, beragam aplikasi media sosial terus membuat api membesar. Padahal tidak satupun pihak yang bisa mengidentifikasi, siapa sumber berita tentang makanan tradisional, yang dikaitkan halal dan haram tersebut.

Media mainstream (media arus utama) pun kemudian mengambil peran, ada menyatakan bahwa berita itu tidak jelas narasumbernya. Sehingga termasuk akun none name, alias hoax. Namun ternyata ada juga media yang kemudian ikut arus gelombang di medsos, yang mewancarai tokoh, yang hasilnya justru memanaskan situasi. Karena materinya hanya berdasarkan pemahaman di media sosial.

Itulah pentingnya merumuskan ulang soal definisi berita. Informasi awal yang didapat itu harus diverifikasi dan divalidasi. Siapa narasumber awal, yang melempar masalah tersebut. Jelas tidak orangnya, kemudian dia sebagai apa? dan dalam kapasitas dia menyatakan hal itu?.

Setelah mendapat data awal, kemudian dicarikan narasumber pembanding dalam lembaga, tokoh yang mempunyai kapasitas dan kredibiltas untuk menjelaskan permasalahan.

Harold Laswell dulu pernah mengatakan, sebuah informasi, komunikasi dan politik itu adalah tentang: siapa, mengatakan apa, dimana, lewat cara apa dan hasilnya atau tujuannya apa..

Habermas dalam public sphere sebenarnya juga berharap, media mainstream, media sosial sebagai ruang publik. Tempat seluruh strata sosial masyarakat untuk berdialektika, untuk menyampaikan gagasannya dalam situasi dan kondisi setara, tanpa tekanan.

Sehingga bisa menghasilkan wacana kebersamaan olah pikir dan olah sikap, tanpa merasa dirinya paling benar dan pihak lainnya harus salah.(**)