Keunikan Masjid Godhegan Magetan

203 dibaca

Masjid kuno dan pesantren salah satu tempat sering kali ditemukan manuskrip. Begitu pula dengan Masjid Kuno At-Taqwa, di Dusun Godhegan, Desa Tamanarum, Magetan, Jawa Timur.
Masjid Godhegan oleh pemerintah, dinobatkan sebagai salah satu Benda Cagar Budaya sehingga mendapatkan perawatan rutin.
“Masjid ini didirikan pada sekitar tahun 1840 oleh bekas pengawal Pangeran Diponegoro. Namanya Kiai Imam Nawawi,” tutur Kiai Hamid, sesepuh masjid, melalui rilis Dreamsea.
Masjid At Taqwa atau disebut Masjid Godhegan memiliki struktur bangunan yang berbeda dari bentuk masjid pada umumnya. Atap Masjid Godhegan berbentuk segitiga kerucut yang terbuat dari kayu jati terdiri dari 2 susun. Secara kultural, Masjid At Taqwa Godhegan berada di bawah Masjid Gede Kauman Yogyakarta yang bertingkat 3.
Pendiri Masjid Godhegan, KH. Imam Nawai, merupakan kerabat keraton yang memilih melanglang ke timur Gunung Lawu setelah Pangeran Diponegoro ditawan Belanda.
Hampir seluruh bagian masjid dibangun dengan menggunakan kayu jati yang memiliki makna “kesejatian hidup”. Orang masuk masjid itu untuk mencari sejatinya hidup, yaitu ketakwaan kepada Allah. Makanya Masjid di Goddhegan tersebut diberi nama At Taqwa.
Empat tiang utama Masjid Godhegan yang menyangga plafon berbahan kayu jati dan memiliki ukiran penanggalan waktu pendirian masjid merupakan komponen asli masjid sejak didirikan pada tahun 1840.
Masjid Godhegan juga masih menyimpan belasan kitab suci Alquran dan tafsir Alquran kuno yang ditulis tangan. Koleksi kitab kuno tersebut saat ini dibungkus dengan kertas tebal dan disimpan pada lemari khusus agar bisa lebih tahan lama.
Kiai Hamid, imam masjid generasi ke-4 sejak Masjid At Taqwa berdiri, mengatakan, dulunya Masjid Godhegan memiliki puluhan koleksi kitab kuno. Namun karena kurangnya perawatan, koleksi kitab yang berumur hampir satu setengah abad tersebut mengalami kerusakan.
Selain mempunyai kitab kuno, Masjid Godhegan juga memiliki koleksi beduk dari kayu jati utuh yang dilubangi di bagian tengah dan usianya menyamai masjid.
Keberadaan Masjid Godhegan sebagai cagar budaya diharapkan mampu menjaga nilai-nilai luhur budaya Islam dari masa perjuangan Pangeran Diponegoro.
Keberadaan Masjid Godhegan juga bisa menjadi rujukan pembelajaran tentang perkembangan Islam di Kabupaten Magetan.(zub/berbagai sumber)