Mengajarkan Ilmu dari Dalam Gua

135 dibaca

Nama asli Syekh Datul Kahfi adalah Syekh Nurjati. Ia merupakan pelopor penyebar agama Islam di wilayah Jawa Barat. Pusat dakwahnya di Gunung Jati Cirebon. Syekh Datuk Kahfi juga leluhur dari raja-raja Sumedang karena merupakan buyut dari Pangeran Santri (Ki Gedeng Sumedang), penguasa di Kerajaan Sumedang Larang, Jawa Barat. Berikut tulisan Husnu Mufid posmonews.com

Syekh Datuk Kahfi lahir di Semenanjung Malaka yang dikenal juga dengan nama asli Idholfi Mahdi dan Syekh Nuruljati. Putra dari Syekh Datuk Ahmad. ulama ternama di kerajaan Malaka. Sejak kecil tinggal di kerajaan Malaka dan mendapat didikan agama Islam oleh ayahnya melalui pendidikan di pondok pesantren yang dilimiki ayahnya. Kitab-kita klasih bertuliskan huruf arab pegon khas melayu dipelajari hingga  hatam.

Menginjak usia dewasa  dewasa pergi ke Mekkah untuk menuntut ilmu dan berhaji. Karena waktu itu  kedatangan  pemuda-pemuda  dari Malaka  bukan hanya berhaji saja, melainkan belajar Ilmu agama. mengingat Masjid Makkah menjadi pusat kajian  dan belajar agama Islam.

Setelah menamatkan pendidikan di  masjid Makkah, kemudian menuntut ilmu ke kota Bagdad Irak. Karenba merupakan pusat ilmu pengetahuan dan banyak ulama yang mengajarkan  agaa islam tingkat tinggi. Dikota tersebut ia  menemukan  jodohnya dengan Syarifah Halimah. Dari perkawinannya  dikaruniai  putra putri yang ganteng dan cantik.

Di Kota Bagdad Syekh Datuk Kahfi  termasuk ulama yang  cukup terkenal. Sehingga Sultan mengenalnya dengan baik. Untuk itulah, ia  diutus oleh Raja Bagdad untuk berdakwah di tanah Jawa. Khususnya daerah Cirebon Jawa Barat. Karena didaerah tersebut  masih belum ada yang memeluk agama Islam.

Kemudian Syekh Datuk Kahfi yang berangkat bersama rombongan dari Bagdad sebanyak sepuluh pria dan dua orang perempuan tiba di Muara Jati Cirebon, sebuah pelabuhan yang cukup terkenal hingga di  negeri Arab. . Rombongan ini diterima Penguasa Pelabuhan Muara Jati, Ki Gedeng Tapa/Ki Mangkubumi Jumajan Jati sekitar 1420 M dengan tangan terbuka. Bahkan dianggap sebagai  tamu kehormatan dari negeri asing.

Kemudian Syekh Datuk Kahfi mendapatkan izin dari Ki Gedeng Tapa untuk bermukim di daerah Pesambangan, di sebuah bukit kecil yang bernama Giri Amparan Jati. Bukit tersebut dulunya merupakan hutan. rimba yang sangat angker.  Ditumbuhi banyak pepohonan besar dan semak belukar yang lebat

Di Gunungjati tempat baru tersebut, Syekh Datuk Kahfi membangun sebuah padepokan dan mulai berdakwah dilingkungan sekitar. Tujuannya  mengajak masyarakat mengenal dan memeluk agama Islam dengan menggunakan pendekatan ahlak yang mulia. Tanpa menggunakan paksaan dan mengkafirkan orang.

Setelah mendengar tentang agama baru itu, orang-orang berdatangan dan menyatakan dirinya masuk Islam dengan tulus ikhlas. Semakin hari semakin banyak orang yang menjadi pengikut Syekh Datuk Kahfi. Darisinilah akhirnya banyak masyarakat simpati dan bersedia memeluk agama Islam. Cara mengajarkan  ilmu agama Islam kepada murid-muridnya berada di  dalam gua yang ada di GunungJati. Oleh karena itu, nama Kahfi yang menyertai namanya berasal dari bahasa Arab yang berarti gua.

Punjer Bumi

Pada  hari tertentu  memberikan wejangan kepada murid-muridnya sambil duduk  diatas  puncak Gunung Jati. Dimana disekitar tempat duduk tanahnya  berwarna merah dan tidak ada rumput yang hidup. Tempat duduknya terpancar sinar dari dalam bumi, menghadap permukaan tanah Pulau Jawa. Sinar itu menyoroti tempatnya duduk, dan berpendar ke seantero jagad.

Darisinilah Syekh Datuk Kahfi dikenal dengan sebutan nama  Syekh Nurul Jati atau Syekh Nurjati (Nur Ingkang Sejati). Sedangkan tempatnya duduk, kemudian dikenal sebagai Puser Bumi Gunung Jati. Adapun para murid Syekh Datuk Kahfi diantaranya Pangeran Walangsungsang dan Nyai Rara Santang; anak-anak dari Sri Baduga Maharaja Ratu Haji Prabu Jaya Dewata – Siliwangi III, raja dari Kerajaan Pajajaran. Beberapa mubaligh Wali Songo, seperti Syekh Syarif Hidayatullah dan Sunan Kalijaga serta Syekh Siti Jenar juga murid dari Syekh Datuk Kahfi.

Selain itu, menggunakan  cara  menikah dengan penduduk setempat untuk menyebarkan agama islam. Salah satunya  menikah dengan Hadijah. Dimana Hadijah adalah cucu Haji Purwa Galuh (Raden Bratalegawa, orang pertama yang pergi berhaji dari Jawa Barat, yang saat itu masih bernama Kerajaan Galuh), janda dari seorang saudagar kaya raya yang berasal dari Hadramaut. Dengan pria tersebut Hadijah tidak dikaruniai anak, namun setelah pria itu meninggal dunia.  Hadijah kemudian  pulang ke Kerajaan Galuh dan menetap di Dukuh Pesambangan Hadijah memperoleh seluruh harta warisan dari suaminya.

Harta warisan tersebut digunakan Hadijah bersama suami barunya, yaitu Syekh Nurjati untuk membangun sebuah pondok pesantern yang bernama Pesambangan Jati.Pernikahan Syekh Datuk Kahfi dengan Hadijah dikaruniai seorang putri yang bernama Nyi Ageng Muara, yang kelak menikah dengan Ki  Gede Krangken.***

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here