Menyimpan Dua Piandel Sakti

208 dibaca

Kemasyuran masjid dan makam Sunan Ampel membuktikan bahwa Surabaya bukan hanya punya citra kepahlawanan tetapi  juga disebut sebagai kota wali. Belum lagi beberapa makam tua yang punya karomah setara dengan aulia tanah Jawa itu.  Salah satunya adalah Makam Kiai Sedo Masjid di Kampung Kawatan, Surabaya, Jatim.  Dikenal oleh kalangan ahli laku, dan spiritualis. Berikut tulisan Haris dan Cahya posmonews.com

MONUMEN Tugu Pahlawan merupakan salah satu ciri dari Surabaya yang begitu terkenal sebagai simbol perjuangan arek-arek Surabaya dalam mengusir penjajah. Karena di sekitar tempat ini banyak saksi sejarah yang memperlihatkan betapa api perjuangan pernah berkobar di kota ini. Selain monument peringatan tempat pertempuran di tahun 1945, ternyata di depan Tugu Pahlawan itu berdiri sebuah komplek makam kecil tempat di semayamkannya seorang ulama yang juga berjuang melawan Belanda. Benarkah?

Masyarakat menyebut tokoh itu dengan sebutan  Kiai Sedo Masjid. Dinamakan Sedo Masjid karena beliau wafat dikarenakan mempertahankan sebuah masjid. Lokasi makam tersebut terletak di jalan tembaan Surabaya. Tepatnya di kompleks makam  tembaan, depan Monumen Tugu Pahlawan Surabaya.

Makam tembaan merupakan area makam kuno, di area pemakaman ini terdapat makam Kiai Sedo Masjid dan makam (duplikat) Pangeran Pekik, adipati surabaya. Makam Pangeran Pekik yang asli berada di dusun banaran, kecamatan Kandangan, Kediri. Sedang kiai sedo masjid merup merupakan pejuang islam, sejarah makam tembaan terkait erat dengan kisah kiai sedo masjid.

Konon dulu persis di Tugu Pahlawan itu, berdiri sebuah masjid, oleh pemerintah Belanda masjid tersebut akan digusur. Kiai Sedo Masjid berjuang mati-matian untuk mempertahankan keberadaan masjid tersebut. Peristiwa Sejarah Kiai Sedo Masjid di awali, Pada Tahun 1772 umat Islam surabaya bergotong-royong membangun masjid di Surapringgo, sekarang menjadi kompleks tugu pahlawan. Tidak lama kemudian pemerintah belanda juga mendirikan kantor pusat pemerintah daerah Jawa Timur (Hoeve Kamtoer-kantoislar besar)  atau masyarakat umum menyebutnya dengan kantor gubernur) persis berada di depan masjid.

Tidak cukup hanya membangun kantor gubernur, pemerintah hindia belanda juga berniat membangun kantor peradilan. Pemerintah hindia belanda melirik tanah masjid untuk di bangun kantor peradilan. Dengan demikian kantor peradilan dan kantor gubernur berhadapan, sehingga mempermudah urusan pemerintah.

Keinginan pemerintah belanda ini mendapat penentangan dari umat Islam. Di prakarsai oleh ulama dan kiai umat islam melakukan perlawanan hebat untuk mengagalkan niat pemerintah belanda tersebut. Segala cara digunakan Belanda dan yang paling kejam Belanda menyuruh prajuritnya untuk membunuh Kiai Sedo Masjid. Akan tetapi peluru yang ditembakkan para prajurit Belanda tak satupun berhasil membunuh Kiai Sedo Masjid. Perlawanan itu mencapai puncaknya ketika seorang Kiai bernama badrun gugur tertembak. Masyarakat memberi penghormatan dengan menyebut beliau dengan Kiai Sedo (dalam bahasa indonesia berarti mati atau gugur) Masjid dan jasadnya dikebumikan di sebelah lokasi masjid.

Sedangkan prajurit yang menembak mati Kiai Sedo Masjid mati bersama anak buahnya beberapa saat setelah mereka berhasil membunuh Kiai. Untuk mengenang peristiwa ini masyarakat menyebut area ini dengan Tembaan  sekarang  jadi jl. Tembaan. Makam beliau sekarang berada di depan seberang jalan Kompleks Tugu Pahlawan.

Perlawanan umat islam ini membuat pemerintah hindia belanda kewalahan, akhirnya pemerintah hindia belanda menawarkan masjid penganti untuk mengakhiri perlawanan umat islam ini. Lokasi masjid penganti ini lumayan jauh dari lokasi masjid pertama, namun masih di sekitar area lokasi masjid  pertama. Tepatnya sekarang berada di belakang kompleks Monumen Tugu Pahlawan. Tanah pengganti tersebut bekas rumah mayor AD pemerintahan Belanda, selanjutnya oleh masyarakat masjid ini di sebut dengan masjid kemayoran.

Kitab Istambul

Makam Kiai Sedo Masjid memang terkesan jarang dikunjungi peziarah tidak seperti yang terjadi di pemakaman wali songo yang sering dijadikan tujuan para peziarah untuk mencari berkah dengan berdoa di sana. Akan tetapi menurut Aji, salah satu warga yang bertempat tinggal tidak jauh dari lokasi, di makam Kiai Sedo Masjid berkah yang diperoleh tidak kalah besarnya dengan berziarah di wali songo.

Selain itu, diyakini di pusara kiai linuwih ini tersimpan kitab istambul dan tongkat bertuahnya. Itu terkait dengan kekuatan dan kesaktian tokoh yang dikenal sebagai ulama digdaya, ibaratnya ditembak hanya tertawa karena tak mempan senjata. Kesaktian Kiai Sedo Masjid berasal dari tongkat saktinya. Sedangkan kitab Alquran Stambul itu adalah piandelnya ketika beliau berdakwa agama di kawasan ini.

Dua piandel  gaib inilah yang kini banyak diburu oleh kalangan spiritualis dan ahli laku. Tak terkecuali pelaku ilmu hikmah dan murid-murid dari berbagai perguruan silat dan tenaga dalam yang setiap hari berkiprah dalam ilmu kanoragan dan kejadugan.

Banyak yang mengatakan bahwa dulu makam Kiai Sedo Masjid merupakan tempat pemakaman umum, tetapi karena ulah pemerintah tanah makam itu dijual, yang akhirnya komplek makam itu menjadi kecil dan selanjutnya dibuat pertokoan di kanan kiri makam tersebut. Namun itu tidak menghilangkan kekuatan dan kekeramatannya. ***