FOSIL MANUSIA PURBA POSISI DUDUK

194 dibaca

Akhir pekan di Gunungkidul tak sekadar pantai. Ada Gua Braholo yang menarik dikunjungi di gua ini banyak ditemukan jejak jejak manusia purba. Tak heran jika Gua Braholo ini selain wisatawan yang hanya ingin menikmati indahnya gua, banyak juga para arkeoleg melakukan jelajah untuk mengungkap misteri dari zaman prasejarah..

Kawasan karst di Kabupaten Gunungkidul memiliki ratusan gua kapur. Gua-gua kapur yang ada di wilayah Kecamatan Semanu, Ponjong, dan Rongkop tersebut ratusan ribu tahun lalu merupakan tempat tinggal atau hunian manusia purba. Ada banyak jejak arkeologis dan artefak yang ditemukan di wilayah itu. Batu-batu menhir, kubur batu, manik-manik, dan tembikar juga ditemukan di Gunungkidul tepatnya di situs Sokoliman, Bejiharjo, Karangmojo. Itu menandakan Gunungkidul sejak ratusan ribu tahun lalu sudah menjadi tempat hunian manusia purba.

Para arkeolog dalam berbagai penggalian di beberapa gua seperti Gua Braholo di Semugih, Rongkop, Song Tritis Rongkop, dan beberapa gua lainnya menemukan fosil manusia purba, tulang, gigi, dan tulang-tulang hewan mamalia terutama monyet dan cangkang hewan moluska (kerang) yang menjadi makanan manusia purba. Beberapa artefak alat berburu seperti beliung, kapak penetak, mata panah, lancipan dari tulang hewan, dan lain-lain juga ditemukan di gua-gua tersebut.

Dari penggalian di Song Braholo dan Song Tritis misalnya di bagian tengah gua terdapat lapisan abu bercampur tanah. Hal itu menandakan, mereka sudah mengenal api dan menjadi bukti aktivitas mereka menggunakan api untuk memasak.

Gua Braholo terletak di Dusun Semugih, Kecamatan Rongkop. Dari Kota Wonosari ke arah timur sekitar 20-an km atau berada di jalur menuju Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah dan Pacitan, Jawa Timur. Gua Braholo terletak di pinggir jalan Desa Semugih. Dari jalan utama di Rongkop oleh Pemkab Gunungkidul telah dipasang papan penunjuk arah menuju Gua Braholo.

Untuk menuju ke dalam gua, harus menaiki anak tangga. Gua tersebut berada di perbukitan dengan ketinggian 357 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kondisi gua sangat luas dengan langit-langit yang masih ada batuan stalaktit di atas dan stalagmit di bagian bawah.

Tinggi langit-langit gua lebih dari 15 meter sehingga tampak terang bila sinar matahari masuk. Lantai gua sebagian besar tanah dengan lebar ruang kurang lebih 39 meter dengan panjang 30 meter. Luas keseluruhan gua sekitar 1.172 meter persegi.

Lubang-lubang bekas penggalian oleh tim arkeologi masih tampak. Ada lubang yang tetap dibiarkan terbuka dan ada pula lubang yang hanya ditutup dengan seng. Agar tidak membahayakan pengunjung di dekat lubang juga dipasang pengaman dari semen.

Penggalian pertama sekitar tahun 1995 oleh Prof Harry Truman Simanjuntak dari Puslit Arkenas Jakarta. Menurut dia, tim arkeologi terakhir kali melakukan penelitian pada tahun 2016 lalu selama beberapa hari. Rumah Kusno yang ada di depan gua juga sering menjadi tempat transit dan basecamp para peneliti.

“Kalau ada penelitian di sini dan Gua Tritis biasanya ada yang menginap di rumah saya,” katanya. Ia menambahkan, lubang yang digali di dalam gua ada sekitar 14 lubang dengan kedalaman sekitar 3-7 meter. Dari lubang yang dibiarkan terbuka itu terlihat lapisan tanah bergaris abu-abu, hitam, dan putih. Lapisan bergaris abu-abu keputihan itu menandakan bekas abu perapian.

“Ada tulang dan gigi monyet, kerang, biji-bijian yang terbakar. Semua ditemukan menyebar di sekitar kanan gua. Mungkin dulu untuk membuang sisa-sisa makanan. Sedangkan di bagian kiri bagian dalam untuk tidur,” kata Kusno sambil menunjukkan beberapa lubang bekas penggalian.

Di salah satu lubang juga ditemukan kerangka manusia purba. Letak ditemukan dekat dengan dinding bagian dalam gua. Posisi kerangka manusia purba itu dalam keadaan duduk dengan lulut tertekuk menyatu dengan badan. “Fosil kerangka manusia purba tersebut sekarang disimpan di Museum Punung di Pacitan,” katanya.

Dia menambahkan, dibandingkan dengan Gua Tritis atau Song Tritis, Gua Braholo lebih lengkap. Sebab di Gua Tritis sebagian besar banyak ditemukan fosil sisa-sisa makanan. Letak Gua Tritis di sebelah timur sekitar 5 km dari Gua Braholo atau di perbatasan antara wilayah Gunungkidul dengan Pracimantoro. “Mungkin dulunya Gua Tritis hanya untuk tempat tinggal sementara,” jelasnya.***