Ajarannya Membahayakan Penguasa

217 dibaca

Sunan Panggung atau Syeikh Malang Sumirang, memiliki nama asli Raden Watiswara, hidup antara tahun 1483-1573 M. Ia putra dari Sunan Kalijaga hasil perkawinan dari Siti Zaenab saudara Sunan Gunungjati. Dalam menjalankan dakwahnya bersebrangan dengan Sultan Fatah dari Kerajaan Demak Bintoro. Berikut tulisan Husnu Murfid dari posmonews.com.

Kepribadian Sunan Panggung sangatlah unik. Beliau memiliki tingkah laku seperti Sunan Kalijaga. Semula beliau dikirim Raden Patah ke Pengging untuk menjadi mata-mata. Namun beliau justru tertarik dengan ajaran-ajaran Syeikh Siti Jenar dan menjadi pengikut setianya setelah kalah dalam perdebatan.
Setelah menjadi murid Syekh Siti Jenar mendapatkan peringatan keras dari dewan Wali Songo. Peringatan keras tersebut tidak digubris oleh Sunan Panggung. Karena dalam hal ini beliau sudah membuktikan sendiri melalui laku dan perjalanan spiritualnya, tentang ajaran Syeikh Siti Jenar dan bisa membedakan dengan ajaran syar’iah dan penyatuan dengan Tuhan/ilmu makrifat yang sesuai dengan ajaran Syeikh Siti Jenar.

Syariat yang beliau jalankan adalah salat daim, dan cara penyebaran ajarannya adalah secara terbuka, untuk umum, tidak ada yang di rahasiakan. Dan tidak menganggap orang lain lebih bodoh darinya, sehingga setiap orang selalu bebas untuk memperoleh kesempatan mendapat ilmu agama jenis apapun. Kemudian Sunan Panggung mendirikan Paguron Lemah Abang di Pengging dan berhasil merekrut siswa yang sangat banyak dan menjadi murid setia Sunan Panggung. Ia mengikrarkan diri sebagai pelanjut Syekh Siti Jenar di wilayah kekuasaan Kerajaan Demak Bintoro.

Tapi sayangnya perguruan Sunan Panggung di anggap membahayakan oleh Dewan Wali dan Demak. Untuk itu penguasa dan Dewan Wali mengadakan sidang untuk mengambil tindakan untuk Sunan Panggung. Dari hasil sidang di sepakati bahwa pemanggilan kepada Sunan Panggung harus dengan cara halus dan diundang untuk memecahkan masalah pemerintahan. Jika sudah hadir, maka Dewan Wali membujuk, untuk menutup perguruannya dan bergabung dengan Dewan Wali. Termasuk mematuhi konsep keagamaan yang sudah di gariskan kerajaan Demak.

Selain itu juga di sepakati, agar penghukuman terhadap Sunan Panggung jangan sampai memunculkan kehebohan sebagaimana pendahulunya. Yakni agar Sunan Panggung di bakar hidup-hidup, dan tempatnya langsung disediakan di alun-alun sebelum Sunan Panggung datang.
Sunan Panggung diundang oleh pihak kerajaan. Dan akhirnya Sunan Panggung menyanggupi undangan tersebut bersama utusan dari pihak Demak. Sunan Panggung beragumentasi, bahwa inilah saat yang tepat untuk mengkritik model dan materi dakwah, serta arogansi agama syar’i yang di jalankan pihak Demak.
Sunan Panggung datang ke Demak di sertai dua anjingnya. Sesampai di alun-alun, ia melihat tumpukan kayu yang di siram minyak. Sunan Panggung sudah menduga siasat penguasa Demak yang akan di lakukan padanya. Namun Sunan Panggung sudah berketatapan hati untuk menghadapi apapun yang terjadi. Siap dibakar api.
Setelah matahari sebesar  condong ke barat, Gunung Muria merendah, Alun-alun Demak menjulang, orang-orang masih berdesakan. Mereka tak percaya sesuatu yang terlihat oleh mata, Sunan Panggung raganya tidak tersentuh oleh amukan api.

Oleh karena itu, Sultan Demak membisik pada Sunan Kudus menyarankan Malang Sumirang, untuk menyingkir dan menjauh dari Negeri Demak. Dengan langkah ragu, Sunan Kudus mendekat Sunan Panggung.  Sunan Kudus berkata, Paman telah terbukti benar sungguh benar tanpa batas di dunia tiada tara di seluruh ciptaan. Paman tercipta sempurna, jiwa-raga titis terus tertembus sempurna nyata sunyata. Namun Paman, jagalah derajat agama, hormatilah batasnya, singkirkan kesalahan, patuhlah pada syariat untuk menjaga makna.Dalam tatanan yang menata negeri aturan agama bertakhta dengan syariat.

Lebih baik Paman jauh dari negeri. Jangan sampai membawa kekacauan dengan pembangkangan.  Kemanapun Paman pergi, padepokan mana yang pantas ditempati, tempat keramat mana yang menjadi pilihan, adalah kewajiban negeri melengkapi apa yang harus dilengkapi.Sunan Panggung tak tertarik. Ia memilih pergi ke hutan angker, Kalampisan, tempat wingit, sunyi, jauh dari manusia.

Kemudian  meninggalkan Alun-alun Demak. Akhirnya Sunan Panggung meneruskan perjalananya kearah utara dan kemudian beliau menetap di Tegal (Kabupaten Tegal Jateng) memperkuat tugas dakwah yang sudah di lakukan oleh Syeikh Abdullah/Sunan Katong/Sunan Gembyang.

Ajarannya

Sunan Panggung memiliki ajaran tentang Ilmu Sejati Rasa. Ia mengatakan,kepada murid-muridnya,  bahwa rasa yang sejati. Sejatinya rasa. Bukan rerasan yang diucapkan, bukan rasa yang ke enam, bukan pula rasa yang tercecap di lidah. Bukan rasa yang terbersit di hati, bukan rasa yang ciptakan, bukan pula rasa yang dirasakan tubuh. Bukan rasa yang dirasakan suara dan bukan pula rasa kenikmatan dan derita sakit.

Sejatinya rasa yang meliputi rasa, rasa pusarnya rasa.  Manusia tidak lain hanyalah jasad-jasad mati yang dipenuhi oleh nafsu lauwamah, amarah, sufiah dan mutmainah. Kita lepaskan nafsu-nafsu itu karena di tengah-tengah nafsumu bertakhta sirr atau rahasia yang tersembunyi, roh dalam jiwa, kesempurnaan yang benar-benar sempurna. Wayang dan bayangan harus menyatu dalam satu jiwa. Roh dalam jiwa memainkan mahkluk-makhluk atas kehendak-Nya.

Sejatinya yang memerintah kita bukanlah tubuh kita, tetapi roh dalam jiwa. Bebaskan roh kalian dari ikatan hukum-hukum yang menghalangi kebebasan roh yang menuju dan menyatu dengan Tuhan. Hakikat hidup abadi baru dimulai sesudah mati.

Kesengsaraan dunia ini tidak lain suatu kegilaan, orang-orang mencari kebutuhan badaniah tanpa memperhatikan kebutuhan rohani. Orang-orang mencari kenikmatan, namun hanya penderitaan yang dijumpai. Manusia bingung karena tidak mengenal dirinya sendiri, karena dijadikan buta oleh hawa nafsu.

Kedaaan kematian itulah yang membuat manusia tidak bisa bebas dari nafsu, kebohongan, kebutuhan kekuasaan, makan, minum, bahkan salat, puasa, zakat, haji. Kembalinya manusia ke asal dari mana ia lahir, sesudah ajal tiba nantilah hidup yang sesungguhnya. Ketika manusia tidak lagi membutuhkan apa pun, termasuk keinginan, karena keinginan adalah awal dari kesengsaraan. ***