Kembali Dilaksanakan, Proyek Shortcut Singaraja–Mengwitani

▪︎ Ditandai dengan Upacara Adat Ngeruak
▪︎ BALI – POSMONEWS.com,-
Proyek Shortcut Singaraja–Mengwitani dilanjutkan, kini titik 9 dan Titik 10 telah mulai dilaksanakan pembangunannya. Hal itu ditandai dengan Upacara Adat Ngeruak dan dilanjutkan dengan Groundbreaking di Desa Pegayaman, kemarin.
Prosesi peletakan batu pertama dipimpin Gubernur Bali, I Wayan Koster dan dihadiri sejumlah pejabat pusat dan daerah. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, Ketua DPRD Kabupaten Buleleng, Ketut Ngurah Arya, Direktur Pembangunan Jalan Direktorat Jenderal Bina Marga, Asep Syarif Hidayat, serta Kepala BBPJN Jatim – Bali, Javid Hurriyanto.
Gubernur Bali, I Wayan Koster, mengatakan pembangunan shortcut ini merupakan proyek strategis yang sangat dibutuhkan masyarakat Bali, khususnya untuk memperkuat konektivitas antara Bali Selatan dan Bali Utara. Kehadiran infrastruktur ini akan memberi dampak luas pada berbagai sektor.
“Proyek ini sangat diperlukan oleh masyarakat Bali, khususnya sebagai penghubung Bali Selatan dengan Bali Utara. Berbagai sektor akan mendapatkan manfaatnya, seperti transportasi, pariwisata, dan sektor lainnya,” katanya.
Gubernur Koster menegaskan pembangunan shortcut Singaraja–Mengwitani juga diharapkan mampu mendorong pemerataan pembangunan di Bali. Oleh sebab itu, pihaknya akan memastikan agar proyek ini berjalan dengan baik.
“Ini proyek strategis, saya awasi terus pengerjaannya,” tegasnya.
Gubernur Koster juga menyinggung kuatnya sinergi antara Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten Buleleng dengan Kementerian Pekerjaan Umum dalam proyek ini. Pemprov Bali, kata dia, turut membantu percepatan proyek melalui dukungan pembebasan lahan. Komunikasi pun menurut Koster, terjalin dengan sangat baik.
“Pak Dirjen dan Pak Kepala Balai ini sering saya telponin terus siang dan malam soal progresnya. Saya tanya terus, kapan tendernya, kapan kontraknya, kemarin juga kapan Groundbreakingnya biar kita bisa carikan hari baik,” selorohnya.
Sementara itu, Direktur Pembangunan Jalan Direktorat Jenderal Bina Marga, Asep Syarif Hidayat, menjelaskan secara teknis pembangunan shortcut ini akan membawa peningkatan signifikan dari sisi keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan. Ia menyebut jumlah tikungan tajam di ruas Denpasar–Singaraja akan berkurang drastis.
“Dengan adanya shortcut ini, jumlah tikungan bisa dipangkas dari 58 titik menjadi 21 titik. Sehingga perjalanan menjadi lebih aman dan nyaman,” kata Asep Syarif.
Asep Syarif menambahkan, keberadaan shortcut ini sangat penting mengingat banyaknya kendaraan besar seperti truk dan bus yang melintasi jalur Denpasar–Singaraja. Dari sisi keselamatan, tingkat ekivalensi kecelakaan juga diproyeksikan turun signifikan.
“Status jalan yang sebelumnya sangat berbahaya bisa diturunkan menjadi aman. Kelandaian jalan yang awalnya maksimal 27 persen juga bisa diturunkan menjadi maksimal 10 persen,” tutupnya. Setelah nantinya selesai dikerjakan titik 9 dan 10 akan berlanjut ke titik 11 dan 12.
Proyek Jalan Shortcut Singaraja – Mengwitani kembali dilanjutkan di titik 9 dan 10, yang terletak di Desa Gitgit, Buleleng. Pembangunan ini didanai APBN, menelan biaya sekitar Rp 773 miliar, dan ditargetkan selesai dalam dua tahun untuk memangkas waktu tempuh serta meningkatkan keselamatan di jalur rawan kecelakaan tersebut.
▪︎ Detail Proyek:
Lokasi: Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.
▪︎Tanggal Mulai:
Groundbreaking dilakukan 7 Januari 2026.
▪︎Sumber Dana:
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
▪︎Tujuan:
Memperbaiki geometri jalan yang curam (hingga 27%) dan banyak tikungan, sehingga memangkas waktu tempuh dari sekitar 21 menit menjadi 8-9 menit, serta mengurangi risiko kecelakaan.
▪︎Lingkup Pekerjaan:
Meliputi jalan sepanjang 2,95 km dan jembatan sepanjang 942 meter.
▪︎Status dan Target:
Pembangunan ini merupakan kelanjutan dari proyek strategis nasional yang sudah berjalan sejak 2018. Pemerintah Provinsi Bali memastikan pembebasan lahan untuk titik 9 dan 10 sudah selesai. Gubernur Bali menargetkan penyelesaian proyek ini sebelum masa jabatannya berakhir.
▪︎Dampak:
Penyelesaian proyek ini sangat mendesak untuk mendukung mobilitas logistik dan penumpang di Bali Utara. Jalur ini dikenal memiliki tingkat kecelakaan tinggi, sehingga perbaikan geometrik sangat dibutuhkan. ▪︎(FEND)

