Mengunjungi Kampung Rondho di Bojonegoro

▪︎Akibat Tekanan Ekonomi, Menjanda di Usia Muda
▪︎LAMONGAN-POSMONEWS.COM,-
Menjadi trending topik, baik di media masa dan media sosial, perihal banyaknya kasus perceraian di beberapa kota di Jawa Timur, seperti Jombang dan Lamongan hingga Desember 2023. Fenomena yang cukup memprihatinkan ini terjadi karena faktor ekonomi, perselingkuhan hingga terjerat slot dan judi online.
Data yang dihimpun media ini terhadap kasus gugat cerai ini rata-rata karena si pria yang tidak bisa mencukupi kebutuhan ekonominya. Sedangkan di wanita sudah tidak bisa untuk lebih bersabar sehingga mereka pun memutuskan bercerai dan memilih berstatus menjanda.
Nah, berbicara tentang janda ini, ternyata ada salah satu Desa yang berada di wilayah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur yang cukup unik, karena warganya banyak yang menyandang status janda. Dan terhadap status tersebut, rata-rata dikarenakan akibat dari kondisi ekonomi rumah tangga.
Dikutip dari sebuah portal yang mengangkat fenomena sosial ini, sang jurnalis sebelumya tidak percaya begitu saja, namun setelah awak media ini mendapatkan data, langsung melakukan penelusuran guna memperoleh kepastian terkait banyaknya warga yang berstatus janda.
Dari hasil penelusuran, Selasa, ( 02/1/2024) lalu, ternyata hampir di masing-masing lingkungan RT (baca: rukun tetangga), terdapat lebih dari satu warga dengan status janda.
Diketahui, bahwa desa dengan julukan kampung rondho (janda, red) tersebut karena saking banyaknya warga berjenis kelamin perempuan usia di bawah 35 tahun menyandang status janda (cerai).
Kampung janda tersebut yakni, Desa Sidorejo, yang berada di wilayah Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Syahdan Amawak media peliput sempat menghubungi Kepala Desa (Kades) Sidorejo, namun dua kali dipanggil melalui aplikasi whatsapp nampak berdering, namun tidak direspon.
Dari keterangan seorang anggota BPD di Desa Sidorejo, Kecamatan Sukosewu, mengatakan, rata-rata warga yang berstatus janda itu, dikarenakan gagal membangun rumah tangga yang disebabkan faktor ekonomi. “Sehingga harus berakhir dengan perceraian”.
Senada yang disampaikan, Iwan seorang tokoh masyarakat di Desa Sidorejo, yang menjelaskan mulai dari RT 01 sampai dengan RT 08, sekira terdapat 25 wanita status janda cerai, dengan usia di bawah 35 tahun.
“Untuk yang umurnya lebih dari 35 tahun juga ada tapi tidak saya sebutkan,” katanya.
Di lingkungan RT 01 terdapat 5 (lima) orang janda (usia di bawah 35 tahun), di RT 02 ada 3 (tiga) orang warga dengan status janda (usia di bawah 35 tahun), di RT 03 terdapat 2 (dua) orang janda. Selanjutnya, di RT 04 ada 7 (tujuh) warga janda (semua berusia di bawah 35 tahun), di RT 05 hanya ada 1 (satu) orang janda.
Lebih lanjut, di lingkungan RT 06 juga ada 2 (dua) orang janda (usia di bawah 35 tahun), di RT 07 terdapat 3 (tiga) orang janda, dan di RT 08 ada 2 (dua) orang janda.
“Yang saya sebutkan berstatus janda itu rata-rata bercerai karena faktor ekonomi, dan usianya di bawah 35 tahun,” sebutnya.
Ia bersama sejumlah warga masyarakat di Desa Sidorejo, Kecamatan Sukosewu berharap, semoga para wanita atau janda tersebut segera mendapatkan jodoh/pasangan lagi.
“Kemudian menikah dan dapat merajut kehidupan yang bahagia serta lebih baik,” tukasnya. ▪︎[DANAR SP]


