Berita Utama

Restu Sang Pamomong Satria Berambut Putih

▪︎Pandulum Satria Pinilih Capres 2024 (5)

▪︎SURABAYA-POSMONEWS.COM,-
Dari judul ini mungkin pembaca posmonews.com akan gampang menebak terhadap siapa, tokoh Satria Pinilih Capres 2024 yang diprediksi oleh kalangan winasis dan spiritualis sebagai penerima Wahyu Keprabon Nusantara.

Adalah KRT. Eko Wahyudi Rekso Mulya, S.Pd, MM, Guru Besar Perguruan Sikat dan Tenaga Dalam Bhakti Persada, Mojokerto yang memampangkan hasil telisik supranatural. Terhadap Sasmita (isyaroh) gaib yang diterimanya bab tokoh yang akan menjadi Raja (Presiden RI) tahun 2024 nanti.

Pandulum KRT. Eko Wahyudi Rekso Mulyo, MM ini disampaikan kepada posmonews.com usai menghadiri penerimaan anugerah Award dari sebuah media di Surabaya dan Lounching Buku Para Grand Master, Minggu (13/11/2022).

Guru besar silat yang juga pakar ahli dan kolektor keris pusaka serta kolektor benda antik bertuah ini mengaku mendapat wangsit saat ziarah di makam leluhurnya. Adanya bisikan gaib bahwa pemimpin masa depan RI yang akan menggantikan Joko Widodo masih dari trah/ rasi Jawa. Lebih spesifik ia menyebut dalam wangsit itu Wong anyar katon, satria pinilih (Piningit) itu memiliki ciri khas berambut putih.

“Isyaroh atau wangsitnya menang begitu. Dan itu jauh-jauh beberapa tahun lalu sudah saya ungkapkan pada semua sahabat para spiritualis dan siswa. Tentang satria pinilih yang kini ditunggu-tunggu untuk muncul sebagai Raja Nusantara itu,” tutur Mas Eko.

Perihal satria berambut putih ini ditegaskan lewat wisik gaib dari Ki Semar atau Hyang Ismaya yang diyakini oleh masyarakat Jawa sebagai tokoh Danyang Tanah Jawa atau Sang Pamomong Satria Utama di Jawa (Nusantara).

Terhadap pawisik yang diterima oleh Mas Eko dari Ki Semar ini sebagaimana Dhawuh Gaib yang intinya, bahwa Satria Piningit dan Raja Nusantara itu memiliki kesamaan rambut dengannya yakni putih (seta) artinya Pemimpin yang berhati putih, suci, dan mulia.

” Yang memimpin Nusantara itu yang berambut putih seperti saya,” kata Mas Eko menjelaskan pawisik yang diterimanya.

Terhadap Kaki Semar itu, berbagai referensi yang dikutip posmonews.com, bahwa menurut mitos orang Jawa hampir tidak ada yang tidak mengenal tokoh yang satu ini, Semar. Mereka mengenal nama tokoh panakawan ini terutama dari ceritera wayang. Namun juga ada di antara orang Jawa mengenal tokoh ini lewat dunia mistis, jagad kebatinan. Meski di alam modern sekarang ini mungkin juga ada anak Jawa yang tidak mengenal tokoh “Sang Pamomong” ini.

Sedangkan dalam ceritera wayang, tokoh ini asli dari Indonesia. Semar tidak ditemukan dalam ceritera asli Mahabharata atau Ramayana di India. Bahkan tokoh ini berpengaruh sebagai “nenek moyang” raja-raja Jawa, dan menjadi pamomong ‘danyang’ Pulau Jawa.

Ada berbagai versi ceritera tentang asal-usul Semar yang dipercaya sebagai penjelmaan dewa yang turun ke dunia dan hidup menyatu dengan manusia biasa. Dia mempunyai tugas luhur untuk mengasuh pihak-pihak yang berbudipekerti dan menjunjung tinggi kebenaran.

Sehingga Semar juga disebut sebagai ‘dewa pamonging satriya, sinamar dadi kawula’ (dewa pengasuh kesatriya yang menyamar sebagai hamba).

Seperti dikisahkan dalam kitab-kitab Manikmaya, Kandha dan Paramayoga, Semar berasal dari ‘alam kadewatan’ (dunia dewa). Dalam kitab tersebut diceriterakan, putera Sang Hyang Wenang yang bernama Sang Hyang Tunggal menikah dengan Dewi Rekatawati.

Sepasang suami-isteri tersebut melahirkan putera berupa sebuah telur ajaib, yang melesat ke hadapan kakeknya, Sang Hyang Wenang. Oleh sang kakek telur ajaib tersebut disabda-cipta menjadi tiga dzat hidup yang bersifat ‘dewa’. Bagian kulitnya yang keras menjadi Sang Tejamantri, bagian putih telur menjadi Sang Ismaya, dan bagian kuning telurnya menjadi Sang Manikmaya.

Dalam sayembara memakan gunung, Sang Tejamantri dan Sang Ismaya kalah melawan Sang Manikmaya. Sehingga mereka berdua harus turun ke Arcapada untuk menjadi pengasuh manusia-manusia keturunan Sang Manikmaya. Di Arcapada, Sang Tejamantri beralih rupa dan
nama menjadi Togog yang mengasuh manusia-manusia merah yang bersifat serakah.

Sedangkan Sang Ismaya beralih rupa dan nama menjadi Semar yang menjadi pamomong kesatriya-kesatriya berdarah biru yang bergelimang wahyu. Togog dikisahkan selalu gagal membujuk majikannya untuk bersikap dan berbuat baik dan benar. Dan Semar berhasil membimbing asuhannya ke arah perbuatan benar dan luhur. (Bersambung).▪︎[DANAR SP]

Related Articles

Back to top button