Ramalan Jayabaya Pulau Jawa Bakal Tebelah jadi Dua
BANYAK ramalan bencana besar bakal terjadi di pulau Jawa. Prediksi bakal ada gunung berapi meletus dan memporak porandakan tanah Jawa. Bahkan dalam buku jongko Jayabaya menyebut pulau Jawa bakal terbelah jadi dua. Benarkah ramalan semua itu?
Ketinggian Gunung Slamet mencapai (3.432 meter dpl.), selama ini Gunung Slamet terlihat adem ayem. Namun, banyak prediksi gunung tersebut akan memuntahkan lava panas.
Gunung Slamet merupakan gunung berapi kerucut Tipe A yang terdapat di Jawa Tengah, Indonesia. Gunung Slamet terletak di antara 5 kabupaten. Di antaranya; Kabupaten Brebes, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah.
Gunung Slamet merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah serta kedua tertinggi di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru. Kawah IV merupakan kawah terakhir yang masih aktif sampai sekarang, dan terakhir aktif hingga pada level siaga medio-2009.
Gunung Slamet cukup populer sebagai sasaran pendakian meskipun medannya dikenal sulit. Di kaki gunung ini terletak kawasan wisata Baturraden yang menjadi andalan Kabupaten Banyumas karena hanya berjarak sekitar 15 km dari Purwokerto. Di situ juga terdapat wisata alam pemandian air panas Guci berada di sisi utara.
Tradisi Unik Purbalingga
Di Dusun Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karang Reja, Kabupaten Purbalingga, terdapat sebuah tradisi unik bagi masyarakatnya untuk menghormati dan menghibur Sang Bahureksa, penguasa Gunung Slamet.
Tradisi ini dinamakan Upacara Ruwat Bumi. Masyarakat Dusun Bambangan percaya, dengan melakukan upacara ini mereka dapat memperoleh keselamatan, ketentraman, berkah, rezeki dan kebaikan.
Umumnya, warga memberikan semacam sesajen berupa makanan tradisional Jawa. Tidak hanya itu, terdapat juga minuman berupa wedang putih, wedang teh, wedang kopi, wedang arang-arang kambang dan wedang jembawuk.
Masyarakat setempat meyakini dengan melakukan Upacara Ruwat Bumi, mereka dapat terhindar dari letusan Gunung Slamet.
Kalaupun ada aktivitas vulkanik yang terjadi, aktivitas tersebut dianggap hanya angin lewat saja atau oleh masyarakat setempat dikenal dengan istilah ngempos.
Konon, terdapat sebuah prediksi di mana jika Gunung Slamet meletus, maka akan membelah pulau Jawa menjadi dua bagian. Mitos ini kian populer di kalangan pendaki yang ingin naik ke Gunung Slamet.
Kepala Bidang Geologi Dinas Energi Sumber Daya Mineral Kabupaten Banyumas, Ir Junaedi, pernah mengungkapkan kondisi Gunung Slamet tidak berbahaya. Ini dapat dibuktikan melalui catatan aktivitas vukanologi Gunung Slamet yang pernah meletus pada 1700-an hingga terakhir erupsi pada 2009.
Gunung Slamet merupakan gunung berapi bertipe stromboli. Setiap material yang dikeluarkan oleh letusan Gunung Slamet akan kembali jatuh di sekitar kawah atau badan gunung bertambah besar.
Mitos Gunung Semeru, Merapi dan Slamet
Mitos berkembang di Tanah Air, terutama di pulau Jawa. Salah satunya berhubungan dengan gunung. Dylan Wash dalam tulisannya berjudul “Kepercayaan Masyarakat Jawa Terhadap Gunung” menyatakan bahwa setiap daerah di Jawa mempunyai kepercayaan sendiri terhadap gunung di daerahnya.
Termasuk, jika gunung-gunung tersebut meletus. Berikut beberapa mitos gunung api di Jawa jika meletus yang diketahui masyarakat.
1. Gunung Slamet
Gunung Slamet membentang antara 5 kabupaten di Jawa Tengah, yakni Banyumas, Brebes, Purbalingga, Pemalang, dan Cilacap.
Menurut artikel “Studi Perbandingan Aktivitas Gunung Slamet Periode Krisis 2019 dengan Erupsi 2014”, Gunung Slamet merupakan gunung api tipe strato dan gunung tertinggi kedua di pulau Jawa, setelah Gunung Semeru. Adapun ketinggian Gunung Slamet adalah 3.432 meter di atas permukaan laut.
Gunung Slamet mempunyai bentuk lereng yang cukup teratur. Meskipun belum pernah mengalami erupsi, namun Gunung Slamet pernah beberapa kali menunjukkan peningkatan aktivitasnya, seperti yang terjadi di tahun 2014 dan 2019.
Ada satu hal menarik terkait Gunung Slamet jika kelak mengalami erupsi. Melansir jurnal ilmiah kependidikan bertajuk “Juru Kunci Gunung Slamet: Biografi Warsito”, letusan Gunung Slamet akan membelah Pulau Jawa menjadi 2 bagian.
Kemungkinan itu dipicu munculnya rekahan besar yang berada dari utara hingga ke selatan. Dengan begitu, air laut akan mengalir masuk dan menyatu. Mitos ini terus menjadi buah bibir masyarakat, khususnya bagi para pendaki.
Kepercayaan tersebut juga dikaitkan dengan ramalan salah seorang Raja Kediri, Jayabaya, yang mengatakan bahwa suatu saat pulau Jawa akan terbelah.
Guna menghormati dan menghibur penguasa Slamet, masyarakat setempat biasanya melakukan tradisi Ruwat Bumi. Seperti yang dilakukan oleh warga Karang Reja, Kabupaten Purbalingga.
Biasanya, warga memberikan sesajen berupa hasil bumi, wedang teh, wedang kopi, dan wedang jembawuk. Harapannya, mereka dapat terhindar dari letusan Gunung Slamet dan memperoleh keselamatan, ketenteraman serta keberkahan.
2. Gunung Semeru
Gunung Semeru baru saja erupsi pada 4 Desember 2021. Akibatnya, puluhan orang meninggal tertimbun abu panas yang dimuntahkan Gunung Semeru, puluhan orang lainnya hilang, dan ribuan orang mengungsi.
Gunung Semeru juga tak lepas dari beberapa mitos. Semeru dikenal dengan sebutan “Paku Jawa” pemberian para dewa. Tujuannya, agar pulau Jawa tidak lagi terombang-ambing di tengah lautan.
Dalam Kitab Panggelaran, disebutkan bahwa Semeru dibawa oleh Dewa Wisnu dan Dewa Brahma.
Setelah erupsi ini, banyak pihak yang kemudian menghubungkannya dengan pandangan Jayabaya yang mengatakan, akan datang satu masa penuh bencana, mulai dari gunung-gunung akan meletus.
Secara lengkap Jayabaya meramalkan: “Banyak kejadian dan peristiwa alam maupun dalam kehidupan masyarakat manusia yang luar biasa. Musim penghujan tidak teratur dan sering datang dengan curah hujan tinggi, hingga tidak ada curah hujan sama sekali. Gempa bumi sering terjadi dan menelan banyak korban jiwa manusia, ternak, dan harta benda, demikian juga sering terjadi fenomena alam misterius yakni terjadinya gerhana bulan, dan gerhana matahari”.
3. Gunung Merapi
Gunung berapi lain di pulau Jawa yang juga sarat akan mitos adalah Gunung Merapi. Secara geografis, gunung ini berada di Sleman, DIY. Masih segar dalam ingatan, Gunung Merapi pernah mengalami erupsi besar pada 2010. Data yang dihimpun BNPB yang dituangkan dalam laporan “Rencana Aksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi”, erupsi pertama Merapi terjadi pada 25 Oktober 2010.
Setelahnya, erupsi terjadi secara beruntun hingga November 2010. Dalam erupsi ini pula, sang juru kunci Merapi, Mbah Maridjan, tewas tersapu awan panas di rumahnya. BNPB mencatat, total korban tewas dalam bencana ini sebanyak 227 orang di wilayah DIY dan 109 orang di Jawa Tengah.
Ada satu mitos dipercaya warga setempat ketika erupsi Merapi terjadi. Menurut artikel “Mitologi Gunung Merapi sebagai Kearifan Masyarakat dalam Memahami Erupsi Merapi di Wilayah Cangkringan, Sleman, Yogkakarta”, erupsi Merapi dipercaya bahwa gunung tersebut sedang duwe gawe atau punya hajat.
Hal tersebut dilatarbelakangi oleh kepercayaan masyarakat akan hukum pinasti atau takdir. Artinya, mereka yang meninggal, cedera, dan kehilangan harta karena erupsi Merapi, dipandang sebagai sebuah takdir. Meskipun sawah, hewan ternak, dan ladang mereka hancur akibat erupsi, namun masyarakat percaya bahwa Merapi akan menggantinya dengan berlipat ganda.
Lantas apakah benar semua prediksi tersebut. Tentunya masyarakat harus lebih waspada, apa pun yang terjadi itu merupakan kehendak Illahi. Manusia hanya bisa berusaha.
**(zi/berbagai sumber)

