Waspadai Politik Sengkuni

* Perang Metafisik Pilkada Jatim (7)
Sengkuni adalah salah satu karakter terkenal dalam wayang dengan lakon Mahabarata. Dia digambarkan berbadan kurus dengan muka tirus dan cara bicara yang lemah tapi menjengkelkan, memiliki watak yang licik, senang menipu, menghasut, memfitnah, dan munafik. Gambaran tentang Sengkuni adalah gambaran tentang orang yang ingin orang lain celaka. Karena itulah, terhadap tokoh ini Anda harus waspada.
Lho memang Sengkuni itu ada di era kekinian, saat ini. Percaya atau tidak, sosok Sengkuni yang disebut dalam cerita Wayang Mahabarata, sebagai Mahapatih sekaligus merangkap penasehat raja di Kerajaan Astina yang dikuasai keluarga Kurawa itu bisa hidup saban zaman.
Patih Sengkuni yang terkenal dengan prinsip hidupnya yang ekstrem “biarlah orang lain menderita yang penting hidupnya bahagia”. Dengan prinsip hidup seperti itulah Sengkuni menjalani karirnya yang munafik, licin, licik, culas, hasut, penuh tipu muslihatnya.
Sengkuni adalah simbol sosok manusia cerdik-terdidik, cerdas dan pandai, trampil serta memiliki daya tarik (pesona). Itu sebabnya sosok seperti ini mudah meraih simpati, mendapat kepercayaan, dan gampang merekrut pengikut. Karena itulah dalam lakon kehidupan nyata, Sengkuni adalah simbol kemunafikan, keserakahan, arogansi, dan keangkaramurkaan. Kapan pun dan dimana pun di dunia ini, manusia-manusia berkarakter Sengkuni akan selalu ada, bahkan di sekitar kita kini dan di sini.
Lalu bagaimana reinkarnasi Sengkuni di era Pilkada 2020 sekarang ini, posmonews. com mencoba menghubungi spiritualis kondang Kota Mojokerto, Jawa Timur, Gus Firman Adiansyah atau yang disebut Gus Man “Santri Nyentrix” Indonesia. Menurutnya, adalah berbahaya jika seorang paslon yang tidak waskitha dalam kubunya telah disusupi oleh sosok Sengkuni.
Lewat sambungan telepon, Gus Man menjabarkan panjang lebar tentang Pilkada khususnya di Jawa Timur yang menurutnya sangat kompetitif namun masih dalam batas yang wajar. Artinya, meski persaingan paslon sangat ketat, disambung dengan euforia dan semangat para pendukungnya namun tidak sampai terjadi konflik fisik. Bentrok antar pendukung.
Karena mendesak, dan keterbatasan waktu Gus Man juga berjanji, akan memprediksi siapa-siapa pemenang Pilkada Jatim secara keseluruhan, lewat Ilmu Penerawangan dari sumber Kasepuhan Jawa dan Banten. Namun ketika ia didesak posmo, ia pun berani memberi gambaran pemenang Pilkada pada tiga wilayah saja yakni Surabaya, Mojokerto dan Lamongan.
“Jawa Timur, Insa Allah tetap aman dan kondusif di gelaran Pilkada nanti. Warga Jawa Timur saya anggap sebagai pribadi yang paham demokrasi. Tidak mudah terprovokasi hingga terjadi konflik yang mencoreng citra sebagai propinsi yang patut dicontoh bagi daerah lain dalam bab berdemokrasi. Untuk pemenang Pilkada, saya sementara ini ada tiga wilayah dulu yang saya prediksi. Di Surabaya, Mahfud Arifin, lalu Mojokerto Abah Ipung dan Lamongan Pak YES (Yuhrohnur Efendi, red),” kata Gus Man.
Hanya saja Gus Man mengingatkan bahaya politik Sengkuni yang telah bercokol di dalam timses paslon-paslon Pilkada. Sehingga sangat berbahaya baik bagi paslon sendiri maupun rival-rival politik yang berkompetisi di pesta demokrasi, tanggal 9 Desember 2020 nanti. Mengapa Demikian?
Gus Man menjelaskan peran Sengkuni ini bisa kontraproduktif terhadap perolehan suara paslon karena warga menjadi tidak simpati lagi dengan paslon itu sehingga lari, berpindah ke paslon lain.
Dia mencontohkan, di kota dan kabupaten tertentu, di sana dari hitungan di atas kertas ada calon yang diunggulkan, bahkan banyak disebut paslon ini 1000% akan memenangkan Pilkada di kabupaten tersebut. Namun beberapa waktu, terlihat sikap-sikap yang kurang baik dari orang-orang dekat paslon ini. Juga timsesnya. Boleh disebut grusah-grusuh dan arogan, sehingga masyarakatpun mulai kurang simpati pada kubu paslon ini.
“Boleh saja, paslon ini diunggulkan. Tapi dengan sikap-sikap timses dan orang dekatnya yang arogan, grusah-grusuh dan ugal-ugalan itu menjadi kontraproduktif, akhirnya pendukungnya lari ke paslon lain, ” lanjut spiritualis multitalenta ini.
Contoh lain, di kabupaten yang juga masih dalam kewilayahan kesejarahan Mojopahit, Gus Man juga melihat sebuah paslon yang memakai pakem lamanya. Dia percaya dengan orang-orang lama yang strateginya yang cukup ortodox, tak mau menerima masukan dari orang lain, tetap membabi buta. Orang-orang di sekitarnya hanya memanfaatkannya, bak numpang hidup, tak peduli tuannya akan mengalami kegagalan dan kekalahan. Mereka sudah tahu bahwa dari hitungan di atas kertas, dan kenyataan di lapangan, namun bak Sengkuni yang bisa meyakinkan Duryudana, agar melakoni Perang Bharatayuda, akhirnya mereka sendiri yang mengalami kehancuran.
(DANAR SP)

