Kamajaya Ratih, Program SMP PGRI 1 Buduran Sehari Berbahasa Jawa

▪︎ SIDOARJO – POSMONEWS.COM,-
Menindaklanjuti program revitalisasi bahasa daerah, khususnya bahasa Jawa, SMP PGRI 1 Buduran melaksanakan pembiasaan sehari berbahasa Jawa. Kegiatan yang bertajuk Kamajaya Ratih (Kamis Anjaga Budaya Terampil Terlatih) itu mengharuskan warga sekolah pada setiap hari Kamis berbahasa Jawa sebagai media komunikasi.
Kepala SMP PGRI 1 Buduran, Indrajayanti Ratnaningsih, S.Si, M.Pd, Gr. mengatakan, secara umum revitalisasi bahasa daerah ini bertujuan untuk melestarikan bahasa Jawa. Sebagai upaya menghidupkan kembali dan melestarikan bahasa daerah yang terancam punah atau kurang digunakan. Selain itu, mendorong penggunaan bahasa daerah, terutama di kalangan generasi muda, termasuk pelajar.
“Bahasa daerah merupakan bagian penting dari identitas budaya bangsa. Namun dalam perkembangannya mengalami penurunan jumlah penutur. Bahkan menurut UNESCO, banyak bahasa daerah yang punah. Khusus untuk revitalisasi bahasa Jawa, Kabupaten Sidoarjo mempunyai bahasa lokal dialek bahasa Jawa Sidoarjan (Sidoarjoan). Oleh karena itu, sebagai upaya melestarikan bahasa Jawa adalah dengan mencegah kepunahannya. Di antaranya dengan menggunakan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Program dan kegiatan tersebut berdasarkan regulasi: Undang-Undang Nomor 24 Tahun 20029 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan, khususnya Pasal 42 tentang perlindungan bahasa dan sastra daerah.
Ditindaklanjuti dengan Peraturan Bupati Sidoarjo Nomor 60 Tahun 2025 tentang Kurikulum Muatan Lokal pada Satuan Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, serta Keputusan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo tentang Kurikulum Muatan Lokal Bahasa Daerah (Jawa).
Sementara itu, Kaur Humas SMP PGRI 1 Buduran yang juga guru Bahasa Jawa, Drs. Koesmoko menyampaikan , secara khusus program sehari berbahasa Jawa di sekolah (Kamajaya Ratih) bertujuan: (1) melestarikan bahasa Jawa di kalangan generasi muda; (2) menanamkan karakter baik/budi pekerti luhur/akhlakul karimah; (3) membudayaan karakteristik daerah dan kearifan lokal daerah.
Disebutkan, adapun syarat dan ketentuannya: (1) dilaksanakan setiap hari Kamis; (2) semua warga sekolah wajib berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa; (3) laki-laki mengenakan busana tradisional Jawa motif lurik, dan perempuan mengenakan kebaya tradisional; (4) menerapkan unggah-ungguh bahasa dan tata krama; (5) doa dan informasi pergantian jam menggunakan bahasa Jawa krama halus; (6) pengumuman menggunakan bahasa Jawa krama halus; (7) siaran saat istirahat menggunakan bahasa Jawa krama halus dan memperdengarkan tembang-tembang berbahasa Jawa.
Menurutnya, ada beberapa capaian kompetensi berbahasa Jawa yang ditetapkan. Di antaranya: sapaan berbahasa Jawa krama halus, seperti : sugeng enjing (selamat pagi), sugeng siyang (selamat siang), sugeng sonten (selamat sore), sugeng dalu (selamat malam), sugeng rawuh (selamat datang), sugeng tindak (selamat jalan), sugeng makarya (selamat bekerja), sugeng mirsani (selamat menyaksikan), sugeng midangetaken (selamat mendengarkan), sugeng ngaso (selamat istirahat), sugeng ambal warsa (selamat ulang tahun), nuwun sewu (permisi), nyuwun pangapunten (mohon maaf), matur nuwun (terima kasih), sami-sami (sama-sama), dan mangga (silakan).
Seperti pada hari Kamis, 5 Maret 2026. Meski dalam suasana bulan suci Ramadan 1447 H, para guru, tenaga kependidikan, dan murid SMP PGRI 1 Buduran datang di sekolah dengan mengenakan busana tradisional Jawa. Nampak, para bapak guru dan murid laki-laki mengenakan baju lurik. Sedangkan para ibu guru dan murid perempuan mengenakan busana kebaya tradisional Jawa.
Sapaan di depan pintu gerbang utama sekolah terdengar “sugeng enjing Bapak, sugeng enjing Ibu”, “sugeng rawuh Bapak, sugeng rawuh Ibu”. Guru piket ketertiban dan pengurus OSIS-MPK yang piket ketertiban pun memberikan sapaan dalam bahasa Jawa. Bahkan, pengantar sebelum pembiasaan membaca Surat Yasin, juga disampaikan dengan bahasa Jawa krama halus.
Suasana yang berbeda dengan hari-hari lainnya. Saat sebelum Ramadan, pada saat istirahat terdengar siaran yang dikumandangkan oleh Reno Fitra Kharisma, murid kelas IX C.
“Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh. Sugeng enjing. Para pamiyarsa, warga SMP PGRI 1 Buduran ingkang minulya. Dumateng para dwija, para pangarsa dalasan para pangembaning pawiyatan ingkang dahat kinurmatan. Saha, para kadang, para kanca, para siswa ingkang kinasih”.
“Sugeng pepanggihan malih kaliyan Giyaran Adicara Suka-Parisuka SMP PGRI 1 Buduran, Sidoarjo. Mugi-mugi, Panjenengan sedaya tansah ginanjar wilujeng, pikantuk pangayomanipun Allah SWT. Kalis ing rubeda, widada nir ing sambekala. Wonten kalodangan punika, kula bade ngaturaken tembang-tembang Jawi, ingkang insya Allah saget mimbuhi regenging swasana, saha dados panglipuring panggalih. Sumangga. Sugeng midangetaken. Dumateng para pamiyarsa ingkang bade pesen utawi kintu tembang, saget WA (Whatshap) kula”.
Selanjutnya, diperdengarkan lagu-lagu berbahasa Jawa. Mulai dari langgam campursari lawas yang dinyanyikan oleh Manthous dan Waljinah, hingga lagu-lagu pop Jawa yang dinyanyikan oleh Didi Kempot, Happy Asmara, dan Deny Caknan. Bahkan juga lagu-lagu hits berbahasa Jawa yang dinyanyikan oleh idola remaja, Niken Salindri.
Menurut Koesmoko, program Kamajaya Ratih sudah dilaksanakan sejak hari Kamis, tanggal 28 Januari 2026. Dengan demikian, sudah terlaksana berlangsung sekitar satu setengah bulan. Dengan harapan, target-target yang sudah ditetapkan bisa dicapai dengan baik dan benar. “Program ini sudah saya laporkan di grup MGMP Bahasa Jawa Kabupaten Sidoarjo,”ujarnya.
▪︎(Koesmoko, Humas SMP PGRI 1 Buduran)
